Senin, 04 Februari 2019

Published 16.12.00 by with 0 comment

[Wallpaper Dekstop] Doa Nabi Yunus

Gambar 1
Gambar 2
Gambar sudah sesuai dengan ukuran wallpaper dekstop dan boleh diunduh.

Setiap manusia pasti memiliki masalah. Entah itu masalah keluarga, pertemanan, sekolah, kuliah ataupun percintaan. Masalah yang datang bahkan membuat kita merasa gelap dalam melihat dunia. Dalam keramaian merasa sepi, siang hari terasa gelap, sampai pada tahap ingin mengakhiri hidup dengan cara yang dimurkai Allah. 

Masalah pun juga menghampiri nabi dan rasul. Salah satunya adalah yang dihadapi oleh Nabi Yunus as. Yang mana Nabi Yunus as menghadapi masalah dalam tiga kegelapan. Kegelapan pertama adalah kegelapan di dalam perut ikan, kegelapan kedua adalah kegelapan di dalamnya lautan, dan kegelapan ketiga adalah kegelapan pada malam hari.

Kemudian Nabi Yunus berdoa: "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim/aniaya."

Allah mendengar doa Nabi Yunus dan memperkenankan doanya sebagaimana yang terlulis dalam surat Al-Anbiya ayat 88: "Maka Kami kabulkan (doa)nya  dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman."

Doa yang diajarkan Nabi Yunus ini juga boleh diamalkan oleh kita dalam menghadapi setiap permasalahan. Semoga kita selalu diberi kemudahan dalam menyelesaikan segala permasalahan yang datang kepada kita. Aamiin.
Read More
      edit

Kamis, 31 Januari 2019

Published 20.17.00 by with 0 comment

[Puisi] Damba

Damba
Damba

Nikmati saja cakrawalanya.
Mentari pagi menyinari dengan hangatnya,
Mata itu terpejam dengan sendirinya.
Bibir itu melengkung menampakkan senyumnya.
Taukah kau siapa yang ada dalam pikirnya?
Read More
      edit

Senin, 30 April 2018

Published 23.36.00 by with 0 comment

Sejarah

Sejarah
Apakah kamu pernah merasakan sesuatu di dalam hatimu tentang sesuatu atau beberapa hal yang awalnya tidak disuka bahkan dibenci kini berubah menjadi sesuatu yang menarik dan digeluti? Atau sebaliknya, yang pada mulanya hal tersebut merupakan sesuatu yang disuka, diminati dan kemudian berubah seratus delapan puluh derajat? Kalau kamu pernah merasakan hal itu maka kita memiliki cerita yang sama. Walaupun objek yang kita alami dalam cerita itu mungkin berbeda.

Dalam perjalanan hidup saya ada sebuah hal yang memang awalnya tidak saya suka kemudian berubah menjadi sesuatu yang menarik di hati. Hal itu adalah pelajaran sejarah. Mulai dari mengenal pelajaran sejarah secara formal sejak duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar yang akhirnya mengantarkan saya turun drastis dari yang selalu peringkat lima besar di kelas menjadi peringkat belasan dalam kelas sampai menjadi mahasiswa tingkat pertengahan, pelajaran sejarah merupakan sesuatu yang tidak saya minati.

Saya dan pelajaran sejarah memang memiliki kisah yang sangat panjang untuk diceritakan. Dulu saya berpikir buat apa mempelejari sejarah, mempelajari sesuatu yang sudah terjadi. Yang sudah terjadi biarlah sudah terjadi. Hidup itu harus bergerak dan memikirkan masa depan, pikir saya waktu itu. Walaupun kalau diperhatikan tidak bakalan ada masa sekarang kalau tidak ada masa lalu. Dimana masa lalu bisa dijadikan acuan untuk melangkah ke masa depan. Kan begitu saudara?

Ada beberapa hal juga yang saya bingungkan ketika menemui pelajaran sejarah. Yaitu ketika mempelajari tentang munculnya kerajaan dan agama. Kenapa hanya agama Islam, Hindhu dan Budha saja yang dikisahkan dalam sejarah. Sedangkan tiga agama lain tidak dimasukan dalam pelajaran sejarah. Sebenarnya waktu saya mempelajari PPkn baru lima agama saja yang diakui negara. Yaitu agama Islam, Hindhu, Budha, ditambah agama Katolik dan Kristen. Namun kenapa saya mengatakan tiga agama, karena ternyata Pemerintah Indonesia akhirnya mengakui agama Kong Hu Cu pada tahun 2000 ketika masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau kita kenal dengan nama Gus Dur. Walaupun sudah diakui pada tahun 2000 tapi ketika saya duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar agama Kong Hu Cu belum masuk di dalam kurikulum pelajaran PPKn.

Selain kurangnya minat mempelajari sejarah ada juga hal yang mengakibatkan saya susah dalam mempelajari sejarah, yaitu: menghafal. Menghafal nama dan tanggal memang tidak mudah saya lakukan. Dimana dua hal tadi sangat mayor di dalam pelajaran sejarah. Hal ini juga berlaku di keadaan umum diluar pelajaran sejarah. Dimana saya butuh waktu yang cukup lama ketika ditanya nama seseorang atau alamat dan juga tanggal-tanggal penting di dalam kehidupan. Coba saja bayangkan kalau dulu saya punya kekasih terus dia bilang: “Kamu tahu enggak hari ini hari apa?”. Bisa mati kutu sudah. Pura-pura kesurupan mungkin bisa menjadi solusi. Tapi saya rasa itu cukup dibayangkan saja. Karena memang diri ini tidak memiliki kekasih tulisan ini diposting. Hiks. Gak tau juga apa yang terjadi di beberapa hari setelah saya memposting tulisan ini. Maka dari pada itu saya lebih menyukai pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Ya walaupun pelajaran penjaskes dan seni lebih utama.

Karena kurangnya minat dan bakat, pernah saya memiliki pengalaman yang mendebarkan ketika duduk di bangku SMA. Waktu itu saya sudah kelas dua SMA dan pelajaran sejarah masih saya dapatkan. Ketika memasuki semester dua saya mendapatkan nilai yang sangat buruk di pelajaran sejarah sampai berkali-kali remidi masih saja buruk. Sampai pada akhirnya menyisahkan dua orang yang dari konsentrasi IPA. Dimana salah satunya tentu saja adalah saya. Siapa lagi coba? Kalau bukan saya ngapain juga panjang lebar saya tuliskan intronya. Nah sampai pada akhirnya remidi terakhir itu saya dan teman saya diberikan tugas untuk mencari dan merangkum suatu peristiwa tertentu sebagai pengganti remidial.

Akhirnya ketika sore atau malamnya (saya lupa) saya dan teman saya tadi mengerjakan tugas sejarah bersamaan di salah satu warnet di dekat stasiun bus Borobudur. Waktu tahun 2011 belum banyak orang yang punya laptop dan belum mengenal dengan teknologi yang namanya wi-fi secara luas. Maka daripada itu pergi ke warnet adalah solusi. Karena tidak memungkinkan juga untuk mencari data di perpustakaan dengan tenggang waktu yang sangat singkat. Walaupun sebenarnya waktu itu kata perpustakaan tidak ada dalam pikiran.

Besok paginya rangkuman makalah kami kumpul bersamaan dalam satu plastik yang sama. Sampai suatu ketika pas sedang santai di dalam kelas ada salah satu teman saya memanggil-manggil menyuruh saya segera bertemu Bu Anu (nama samaran guru sejarah kelas 11) untuk mengumpulkan tugas remidial. Saya pun menghadap ke kantor guru namun Bu Anu tidak ada. Ternyata beliau sedang berbicara dengan kepala sekolah di ruang kepala sekolah. Sebagai murid yang baik (ehem) saya pun tidak menyela pembicaraan dan menunggu diluar. Walaupun kadang-kadang nongol agar Bu Anu sadar. Bu Anu pun bertanya kepada saya dan saya pun menjelaskan. Tidak lama saya pun pergi.

Kisah tadi tidak berhenti sampai disitu saja. Di kemudian hari ketika saya bertugas di kepramukaan sebagai salah satu anggota Bantara yang sedang melaksanakan perkemahan di sekolah, saya mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan. Sore itu kala saya sedang bertugas, sedang diadakan pula rapat besar tahunan di lantai dua salah satu gedung di sekolah. Ada kabar yang berhembus bahwa setidaknya ada dua murid kelas 11 yang tidak naik kelas. Kabar lain menyebutkan bahwa salah satu yang tidak naik kelas adalah saya.

Hati saya tidak karuan mendengar kabar itu. Selama acara perkemahan pikiran saya nge-blank, buyar kemana-kemana. Karena setelah saya pikir memang bukan mustahil saya tidak naik kelas karena saya memang bermasalah di dua mata pelajaran yaitu pelajaran kimia dan sejarah.

Pikiran capek hati pun capek saya pun sudah pasrah ketika waktu pengumuman datang. Sebenarnya ada beberapa hal yang terjadi ketika masa-masa itu terjadi tapi tak perlulah saya ceritakan. Sampai pada akhirnya saya pun berteriak bahagia karena ternyata saya naik kelas walaupun pelajaran sejarah mendapat nilai standar KKM. Tak apalah yang penting naik tingkat. Namun sedihnya adalah teman saya yang saya ceritakan di awal yang sama-sama mengerjakan tugas remidial pelajaran sejarah, dia tidak naik kelas.

Panjang sekali bukan kisahnya? Nah begitulah sejarah. Panjang, runtut dan satu kisah dengan kisah lainnya saling berhubungan. Sebenarnya masih banyak lagi kisah “asmara” saya dengan pelajaran sejarah. Dimana pada akhirnya ketika menjadi mahasiswa tingkat menengah perasaan tidak suka itu berubah menjadi cinta.

Apa saja yang mengakibatkan saya berubah menjadi menyukai pelajaran sejarah? Tunggu saja kisahnya nanti. Yang In syaa Allah akan saya bagikan sebagai wadah kita ngobrol-ngobrol santai.

Salam.
Read More
      edit

Sabtu, 17 Maret 2018

Published 07.37.00 by with 0 comment

Perjalanan Pertama Menggunakan Kereta Api Indonesia

Perjalanan Pertama Menggunakan Kereta Api Indonesia
Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke ibukota, Jakarta. Untuk mengikuti sebuah acara yang sudah lama ingin saya hadiri. Hal pertama yang saya siapkan tentu saja adalah akomodasi dan transportasi. Setelah mendapatkan tempat untuk menginap, saya pun mencari transportasi untuk menuju ke tempat tujuan. Entah kenapa yang terpikirkan di benak saya adalah menggunakan kereta api. Padahal banyak moda transportasi lain yang bisa mengantarkan diri ini menuju Jakarta dari Yogyakarta. Yaitu menggunakan mobil travel, bus, juga pesawat terbang. Mungkin karena yang ada di dalam pikiran saya sewaktu mendengar kata “Kereta Api” adalah murah dan mudah. Tapi apakah itu benar?

Kalau dibandingkan dengan moda transportasi darat lainnya harga tiket kereta api Indonesia bisa dibilang tidak jauh berbeda. Berbeda lagi kalau dibandingkan dengan harga tiket menggunakan pesawat terbang. Terakhir saya cek dengan kelas yang sama (yang paling murah), harga tiket pesawat terbang lebih dari dua kali lipat harga tiket kereta api. Tentu saja ini tidak masalah bagi mereka yang lebih mengutamakan kecepatan waktu tempuh. Karena lama penerbangan dari Yogyakarta menuju Jakarta terbilang singkat yaitu sekitar 1 jam 30 menit. Bisa dibilang belum sempat tidur, sudah sampai saja di tujuan. Tanpa adanya penundaan pernerbangan tentu saja. Berbeda dengan menggunakan kereta api yang harus menempuh waktu sekitar delapan hingga sembilan jam.

Selanjutnya kalau ditinjau dari segi kemudahan, memesan tiket kereta api pada era serba internet ini tentu saja sangat mudah. Kita hanya butuh membuka situs dan mengisi data selain harus membayarnya juga di akhir nanti lewat salah satu jenis pembayaran yang disediakan. Bisa lewat atm bersama, atm prima dan lain sebagainya. Atau bisa juga memesan tiket dengan menggunakan aplikasi yang tersedia di App Store dan Play Store.

Selain kemudahan untuk pemesanan tiket, pengguna kereta api Indonesia juga dimudahkan ketika proses pencetakan tiket di stasiun. Pencetakan tiket ini diperuntukan bagi pengguna kereta api yang sebelumnya memesan tiket secara online. Ini dibuktikan dengan banyaknya komputer yang disediakan sehingga proses antrian tidak begitu panjang dan waktu yang dibutuhkan tidak begitu lama karena hanya tinggal memasukan nomor pemesanan. Tapi, karena saya baru pertama kali bertemu dengan sistem semacam ini maka hal ini membuat saya sedikit lebih lama di depan komputer. Dikarenakan kesalahan dalam memasukan nomor pesanan. Sebenarnya di stasiun banyak kurir barang yang bisa dimintai tolong tapi karena ketidaktahuan saya sebelumnya maka saya pun berusaha sendiri.

Selain kegagapan saya ketika berhubungan dengan nomor pesanan, ada peristiwa lain yang bisa dijadikan pelajaran. Ketika sampai di stasiun maka langkah selanjutnya bagi mereka yang memesan tiket via online adalah menuju deretan komputer untuk mencetak tiket. Yang mana proses pencetakannya dilakukan sendiri tanpa bantuan dari petugas stasiun. Namun yang saya lakukan sebelumnya palah ikut mengantri di loket tiket. Tapi entah kenapa hal ini tidak membuat saya merasa malu. Hal-hal baru semacam ini merupakan suatu hal yang menyenangkan. Selain menambah ilmu juga bisa dijadikan sebagai bahan untuk bercerita.

Memasuki Kehidupan di Dunia yang Berjalan

Setelah menunggu sekitar satu jam, kereta yang akan membawa saya pun datang. Saya memang sengaja datang jauh lebih awal dari waktu keberangkatan hanya untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Namanya juga pengalaman pertama yang mana tidak tahu apa saja yang harus dilakukan. Sembari menunggu, seperti biasa saya selalu memperhatikan situasi dan bagaimana semuanya berjalan. Para kurir barang yang sigap membantu calon-calon penumpang untuk mencetak tiket dan membawakan barang, para calon penumpang yang berdirian setelah kereta yang akan mengantarkan mereka telah diumumkan lewat pengeras suara, pegawai stasiun yang dengan tekun membersihkan lantai untuk kenyamanan dan berbagai macam kegiatan para calon penumpang dalam menunggu keberangkatannya.

Waktu itu saya memulai titik keberangkatan di stasiun Lempuyangan. Sebelum memasuki area jalur rel, ada pemeriksaan tiket terlebih dahulu. Ditambah dengan pengecekan kartu identitas KTP. Kemudian menuju jalur kereta api yang sesuai dengan yang tertera pada tiket. Pada momen ini saya sedikit panik karena saya tidak tahu jalur mana yang ditunjukan pada tiket dan waktu sudah menuju jam keberangkatan. Saya pun bertanya ke kurir yang ada di sebelah kanan saya. Sang kurir pun menjawab dengan baiknya walaupun terdengar seperti bernada ketus. Kemudian saya pun bergegas menuju jalur yang ditunjukan sang kurir dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Setelah berjalan saya baru sadar ternyata keterangan nomor jalur tertera di bagian atas stasiun.

Saya pun menuju kereta dan kemudian mencari nomor gerbong tempat saya duduk. Tidak lupa mencari nomor kursi setelah sebelumnya bertanya dengan sepasang muda-mudi. Setelah sampai di kursi yang sesuai dengan yang ada di tiket, saya merasa sedikit kecewa dengan apa yang saya lihat. Ada dua kekecewaan yang saya rasakan. Pertama, kursi yang sesuai dengan nomor kursi di tiket sudah diisi oleh orang lain. Dimana posisi yang saya pesan waktu itu adalah dekat dengan jedela. Namun setelah sedikit mengobrol saya pun merelakannya. Saya pun duduk disamping orang yang menduduki kursi pesanan saya.

Kedua, kursi yang saya duduki membelakangi arah tujuan. Itu bisa membuat saya merasa pusing ketika perjalanan. Yang ada di dalam pikiran saya sewaktu memesan posisi kursi via aplikasi adalah bahwa setiap kursi mengarah ke arah tujuan (depan).  Sama seperti posisi kursi di bus dan pesawat pada umunya. Kalau kereta ekonomi yang saya pesan ternyata setiap dua baris saling berhadapan. Seperti apa yang ada di dalam scene perjalanan menggunakan kereta api pada film 5cm.

Pukul 9 pagi tepat sesuai jadwal keberangkatan, kereta pun melaju membawa kami para penumpang menuju tempat tujuan. Waktu itu dua baris kursi yang saling berhadapan, dimana setiap baris terdiri dari dua kursi terisi oleh tiga orang anak muda termasuk saya dan satu orang laki-laki berumur.

Tidak butuh waktu lama kami bertiga yang masih muda ini mulai akrab. Perbincangan demi perbingangan mengisi perjalan kami. Sedangkan laki-laki berumur tadi lebih banyak diam dan sering pergi meninggalkan gerbong dan menuju ke gerbong lain setelah meninggalkan telepon genggamnya menancap di colokan listrik yang disediakan oleh pihak kereta api. Ternyata di kereta kelas ekonomi yang sudah ber-AC ini disediakan pula fasilitas pengisian daya listrik . Sebuah hal yang sangat bermanfaat bagi penumpang terlebih untuk saya, mengingat bahwa daya baterai telepon genggam yang saya miliki mudah habis.

Sebenarnya malam hari sebelum hari keberangkatan saya sudah mencoba meminjam powerbank ke sejumlah teman lewat grup kelas. Namun satu orang teman yang mau meminjamkan powerbank-nya sedang tidak berada di Jogja. Jadi apa yang diberikan oleh PT. Kereta Api Indonesia lewat fasilitas pengisian daya listrik gratis ini sangat membantu.

Kepala ini mulai pusing dan sensasi di perut begitu hebohnya membuat saya mulai merasakan mual. Bukan karena posisi duduk yang membelakangi arah tujuan tapi karena tubuh ini terguncang hebat ketika di kamar mandi. Sungguh bukan ide yang bagus untuk memenuhi panggilan alam ketika kereta sedang berjalan. Pergi ke toilet untuk memenuhi panggilan alam ketika kereta berhenti di stasiun untuk sementara waktu memang sebuah solusi. Karena tidak merasakan gerbong kereta yang bergoyang hebat. Mungkin ini pengaruh dari posisi toilet yang dekat dengan roda belakang kereta dan juga dekat dengan penyambung antara gerbong satu dan gerbong lainnya. Sehingga guncangan yang tidak stabil itu begitu terasa.

Tidur merupakan sebuah solusi dalam menunggu sampai ke tujuan dan meredam rasa mual tapi saya lebih suka menikmati pemandangan yang disuguhkan diperjalanan. Rumah-rumah di pedesaan, lorong gelap yang sunyi, bangunan-bangunan tua, perbukitan dan hutan gersang, hamparan sawah yang begitu luasnya, sampai ke wilayah pemukiman perkotakan yang kumuh dan padat. Dalam benak selalu bertanya-tanya bagaimana jika saya berada di posisi mereka. Berada di lingkungan mereka. Berada di situasi dan kondisi seperti mereka. Itu semua membuat saya belajar bagaimana caranya untuk bersyukur atas apapun yang telah Allah berikan.

Di satu sisi saya bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan ke negara dan masyarakat Indonesia dengan tanah yang subur. Juga kekayaan alamnya yang begitu indah. Sungguh bukan suatu ide yang bagus untuk mendapatkan murka dari Allah karena tidak menjadi pribadi yang pandai bersyukur atas semua yang telah Allah berikan. Di sisi lain saya juga bersyukur karena memiliki nasib yang jauh lebih beruntung daripada orang-orang yang saya lihat lewat jendela gerbong kereta api. Terima kasih telah memberikan kesempatan untuk saya melihat dan mengingat hal ini Yaa Allah.

Saya pun mengikuti jejak orang tua yang menjadi teman duduk di depan saya. Melangkahkan kaki menuju gerbong lain yang ternyata banyak kursi yang tak bertuan. Tak seperti yang ada di gerbong tempat saya duduk yang begitu padat dengan penumpang dan barang. Sungguh situasi yang nyaman untuk bersujud menyembah-Nya setelah mensucikan diri dengan air yang melimpah di toilet kereta api.

Dalam penantian menuju ke tempat tujuan saya melihat petugas kebersihan kereta api yang selalu mondar-mandir dengan tekunnya dari gerbong satu ke gerbong lainnya untuk membersihkan sampah dan menawarkan kantong kresek untuk menampung sampah para penumpang. Petugas kebersihan tersebut dengan sigapnya memunguti semua sampah. Menjaga kebersihan untuk kenyamanan para penumpang. Sungguh pekerjaan yang sangat saya hormati.

Ada juga pegawai berpakaian rapi yang bertugas mengecek tiket. Selain itu masih ada beberapa pegawai lain yang bertugas menjual berbagai macam makanan dan minuman. Saya pun akhirnya memesan segelas coklat panas sebagai teman membaca buku. Dalam lamunan di sela-sela membaca, saya teringat tentang sebuah kisah dari Agustinus Wibowo dalam bukunya “Titik Nol” yang menceritakan salah satu perjalanannya menggunakan kereta api menuju Mongolia dari RRC. Tentang perjalanan dan bagaimana menghabiskan waktu yang begitu lama di dalam kereta. Yang pasti tidak selama seperti yang saya rasakan.

Cahaya mentari senja itu menembus dinding kaca dan menyentuh wajah dengan hangatnya. Melukis senyum di wajah yang terlihat dingin ini. Tas yang berada di atas pun saya ambil bersamaan dengan para penumpang yang juga bersiap-siap untuk turun di stasitun Jatinegara. Sembari menunggu kabar dari teman lewat telepon genggam yang akan menjembut kedatangan saya di Jakarta saya pun melepas salam perpisahan ke kedua teman baru yang saya kenal di bangku gerbong kereta api.

Kereta pun berhenti, langkah kaki ini pun membimbing melanjutkan perjalan. 
Read More
      edit