Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2020

Published 20.00.00 by with 0 comment

Perjalanan Kuliah 7,5 Tahun dan Akhirnya Lulus Juga

unsplash.com/Cole Keister
Setelah lulus SMA saya termasuk manusia ber-privilege yang bisa langsung melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Sebuah hal yang tidak dimiliki oleh banyak orang termasuk kakak saya sendiri pada waktu itu. Alhamdulillah, ketika saya SMA kondisi ekonomi mulai membaik, saya pun bisa melanjutkan sekolah. Awalnya ingin sekali saya mendaftar ke prodi arsitektur atau teknik sipil karena kecintaan saya dengan desain dan bangunan, akan tetapi setelah melihat kemampuan dan penilaian secara psikologi dengan tutor di tempat les, saya memutuskan untuk mendaftar di Teknik Pertanian UGM untuk pilihan pertama dan Agronomi dan Hortikultura IPB pada pilihan kedua.

Sebenarnya dua pilihan tadi bukan pilihan yang benar-benar disarankan oleh tutor saya pada waktu itu, karena sesungguhnya yang disarankan adalah prodi peternakan. Pertanian dan peternakan merupakan dua hal yang tidak asing bagi saya, dari kecil saya sudah mengenal dunia itu. Karena pertanian lebih saya sukai daripada peternakansetelah desain dan bangunan tentunya, maka saya lebih memilih untuk mengambil prodi yang berkaitan dengan pertanian. Mungkin ini jalan yang tepat bagi saya untuk bisa ikut berkontribusi lebih memajukan pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia.

Kenyataannya, setelah tidak memiliki kesempatan sama sekali masuk lewat jalur SNMPTN yang dinilai dari nilai rapor, parahnya lewat jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) pun saya gagal. Saya sendiri tidak memiliki keinginan untuk kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) karena biaya kuliah yang sangat mahal. Satunya-satunya kesempatan adalah masuk lewat jalur Seleksi Mandiri (SM), dan yang bisa saya jangkau adalah SM Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan SM Universitas Diponegoro (UNDIP). Pilihan prodi pun berubah drastis, bukan tentang desain dan bangunan, bukan juga tentang pertanian atau peternakan, namun prodi matematika dan kimia untuk pilihan pertama dan kedua. Dua hal itu saya pikir lebih fleksibel masuk ke bidang-bidang lain dan ketika sekolah merasa enjoy dengan dua mata pelajaran itu. Tentu saja selain karena tidak ada prodi peternakan atau pertanian di UNY. Pada akhirnya saya pun diterima pada pilihan pertama SM UNY dan SM UNDIP pun urung saya ikuti karena suatu alasan tertentu.

Saat awal perkuliahan saya sangat tidak menikmati suasana di UNY. Tubuh saya disitu tapi hati saya di tempat lain. Saya berusaha untuk ikhlas tapi jujur saja tidak mudah. Hati saya masih menginginkan untuk kuliah di Arsitektur atau teknik sipil UGM. Tahun depan saya akan mengikuti SBMPTN lagi pikirku waktu itu. Kuliah tetap hadir dengan disiplin tapi keinginan kuat untuk masuk organisasi tidak ada. Saya malas terikat dan pengalaman organisasi pun sudah ada.

Tahun keduatahun ajaran 2013/2014 saya pun mengikuti SBMPTN untuk kedua kalinya. Saya tidak bercerita kepada orang tua tentang hal ini dan mendaftar dengan uang tabungan. Tujuannya jelas ingin mendaftar di prodi arsitektur dan teknil sipil UGM. Waktu itu saya bahagia sekali, walaupun pada akhirnya gagal. Menyenangkan sekali ketika diterima ataupun ditolak pada pilihan yang benar-benar saya inginkan. Layaknya mengungkapkan perasaan cinta kepada seseorang yang begitu kita cintai, lebih membahagiakan ketika mendapat jawabanbaik itu diterima atau ditolak, daripada tidak pernah mengungkapkan sama sekali. Secara realita, modal saya pun sangat kurang. Kenapa? Karena saya sendiri tidak belajar dengan giat. Awal mula saya belajar lewat materi-materi yang pernah saya dapatkan lewat bimbel. Namun, dipertengahan saya mengentikan kegiatan itu. Saya berpikir bahwa pada kenyataanya lingkungan UNY begitu positifterutama FMIPA, walaupun masih mencoba membiasakan. Faktor utamanya tentu saja orang tua dan biaya. Saya masih dibiayai oleh orang tua dan banyak sekali uang yang sudah dikeluarkan. Belum lagi kalau nanti masuk ke kampus baru (kalau diterima) pasti banyak uang yang akan dikeluarkan. Tak luput akan menunda satu tahun kelulusan. Boros uang, boros waktupikir saya waktu itu. Saya ber-privilege tapi tak seistimewa itu. Akhirnya saya bertekad untuk lulus dari UNY dengan segala kondisi yang ada. 

Selama kuliah saya sering mengikuti kepanitiaan, juga lomba walaupun belum berprestasi, dan tahun ketiga baru ikut organisasiRekayasa Teknologi (RESTEK). Nilai yang saya dapat dari berbagai mata kuliah pun beragamA, B, C, sampai D pun ada. Mengulang mata kuliah, ikut Semester Pendek (SP) pun pernah. Kerja atau berpenghasilan waktu menjadi mahasiswa pun pernah. Walaupun pengalaman saya sangat minim. Ketika menjadi mahasiswa saya ingin sekali bekerja tapi ijin dari orang tua sulit didapat. Alasannya karena nanti kalau saya dapat uang, maka kuliah saya akan terabaikan. Padahal secara pribadi saya tidak tertarik dengan uangentah kenapa. Saya lebih tertarik dengan pengalaman. Jujur saja pada waktu itu saya sering iri dengan orang-orangentah itu yang lebih tua, muda atau teman seangkatan yang banyak memiliki pengalaman. Sangat membahagiakan dan membanggakan sekali punya banyak pengalamanapapun pengalaman itu.

Ketika semester 7 kami para mahasiswa sudah banyak mempersiapkan tentang Tugas Akhir Skripsi (TAS), termasuk sayabahkan jauh sebelum itu. Ketika dosen menyinggung judul atau bahasan skripsi saya selalu mencatatnya di buku catatan. Namun, ketika diakhir ingin saya gunakan, materinya terlalu sulit untuk saya pecahkan pada waktu itu. Pada tahun-tahun akhir waktu kuliah, masalah pun banyak berdatangan. Baik datang dari perkuliahan maupun di luar perkuliahan. Baik yang nampak maupun tidak. Juga banyak kejadian yang terjadi di luar kehidupan saya yang ikut dipikirkan. Padahal itu tidak perlu, namun saya merasa bertanggung jawab disitu. Kehilangan arah dan tujuan pun begitu saya rasakan. Saya malas untuk hidup walaupun tidak ingin segera mati. Modal akhirat saya sangat kurang. Tidak keren sekali rasanya ingin segera mati karena bosan atau menyerah dengan kehidupan. Dunia ambyar masak akhirat juga ikut ambyar. Segala masalah hanya saya pendam dan lama kelamaan saya menjauh dari kehidan sosial. Kalau anda bertemu orang-orang seperti saya pada waktu itu, tolong rangkul mereka. Karena pada waktu itu saya tidak tahu mau ngapain dan tidak nyaman untuk bercerita. Bahkan kadang tidak sadar kalau saya sedang bermasalah.

Selama bertahun-tahun saya mencoba untuk bangkit, memperbaiki diri di sana sini, tidak mudah, tapi saya ingin berubah. Atau mungkin palah bukan berubah, tapi kembali. Kembali kepada diri saya yang semangat untuk hidup, positif, dan bermanfaatwalaupun belum bermanfaat amat. Kenapa kembali? Karena salah satu cara saya menjadi lebih baik adalah membuka dokumen-dokumen lama. Baik itu tulisan-tulisan sayakarena saya sering menulis, foto dan video lama, status-status di media sosial, dan lain sebagainya. Oh ternyata saya beginisaya begitu, terjawab sudah. Hal itu yang membuat saya tahu tentang diri saya sendiri, baik itu kelebihan atau kekurangan saya.

Tahun ke-7 kuliahsemester 14, saya memutuskan untuk cuti kuliah bersama dengan salah satu teman saya yang sama-sama belum selesai. Tujuannya untuk menambah masa study dan bisa bimbingan tanpa membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan tidak terhitung aktif kuliah secara sistem namun bisa bimbingan. Pada kenyataannya saya tidak bimbingan dan tidak mengerjakan skripsi. Namun, konsistensi saya di luar skripsi mulai membaik. Proyek terakhir skripsi pada waktu itu sudah sampai bab 3 yang mana sebelumnya di pertengahan tahun 2018 baru di-ACC oleh dosen pembimbing dan tempat penelitian.

September 2019, usia saya menginjak 26 tahun dan entah kenapa segala masalah selesai dan saya tidak terbebani dengan masa sekarang, masa lalu, maupun masa yang akan datang. Selama kurang lebih 2 bulan dengan modal skripsi sudah sampai bab 3, skripsi saya selesai. Padahal sebelumnya saya tidak bisa coding dan selama 2 bulan itu baik penulisan, pembuatan program, kuesioner bisa saya kerjakan sendiri. Saya tidak mau menggunakan jasa pembuatan skripsi. Kalau saya belajar kepada orang yang lebih paham maka saya akan menjawab iya.

Dengan tenggang waktu sangat mepet akhirnya saya pun lulus juga. Akhir Desember 2019 skripsi saya sudah di-ACC untuk sidang, Januari sidang, Februari Yudisium, dan 31 Maret 2020 saya diwisuda. Dalam tahun-tahun itu banyak cerita dan drama, namun singkatnya seperti yang telah kamu baca. Tentu saja setelah satu masalah/ujian/cobaan selesai pasti ada masalah lain yang akan datang. Setelah wisuda, corona (covid-19) pun datang. Banyak PHK dan lowongan kerja pun berkurang. Namanya juga hidup, tinggal berdoa dan berusaha saja.
Read More
      edit

Minggu, 20 November 2016

Published 22.09.00 by with 0 comment

Menyendiri

Menyendiri
Hari sudah berganti. Tapi seperti biasa, saya masih setia memandang dua buah laptop yang selalu menemani di dalam kamar sewa di Jogja. Dua laptop yang saya gunakan untuk menulis sedangkan yang satunya untuk menonton film atau sekedar mendengarkan musik kesukaan.

Pagi yang sunyi membawa otak dan hati untuk saling mengerti. Niat hati untuk menulis dua atau tiga buah cerita yang ada dalam draft. Namun akhirnya, malam yang sunyi ini membawa saya menulis sebuah prosa yang saya temukan di lembaran kertas lama. Sebuah prosa berjudul Kembali yang tidak masuk dalam rencana awal dan akhirnya saya posting di blog.

Sebuah kisah prosa yang datang dalam hidup saya. Walaupun tidak saya alami langsung secara fisik. Yah, karena itu datangnya lewat mimpi. Sebuah bunga dalam tidur. Entah kenapa terkadang saya sering terganggu dengan bayangan khayalan atau mimpi yang datang dalam tidur lelap. Karena banyak dari mereka akhirnya terjadi di dalam dunia nyata.

Setelah menunggu Shubuh dan melakukan kewajiban di pagi hari, selang kurun waktu satu jam tubuh dan mata ini tidak kuat lagi untuk terjaga. Saya pun terlelap. Sebuah penyakit kebiasaan yang datang semenjak berhadapan dengan skripsi dan semester akhir. Namun, sepertinya akhir-akhir ini sudah kembali ke kehidupan normal.

Siang ini saya menuju kampus mencoba untuk mengurus sebuah tugas akhir dan berbincang hangat dengan dosen pembimbing. Menolak ajakan teman-teman yang sering datang di hari Senin. Sebuah ajakan nonton di bioskop dengan harga yang miring. Pas untuk kantong mahasiswa. Setidaknya mahasiswa seperti saya. Walaupun saya terkadang sering tidak ikut karena urusan kantong. Sepertinya sudah beberapa minggu ini saya tidak bergabung dengan mereka. Tapi tak apalah. Biarlah.

Siang ini saya setia menunggu dosen pembimbing di depan laboratorium komputer lantai tiga. Sendiri menyendiri. Sebelumnya saya memang tidak menghubungi beliau. Dosen ini berbeda. Saya tidak perlu membuat janji untuk bertemu. Namun, penantian tak sesuai dengan harapan. Setelah beberapa mahasiswa keluar dan salah satu dari mereka berkata kepada saya kalau dosennya tidak mengajar dan kelas pun kosong. Dimana dosen yang dimaksud juga merupakan dosen pembimbing saya.

Saya memiliki kehidupan kecil yang terkadang saya lakukan. Yang membuat saya merasa tenang dan nyaman. Sebuah hal yang bisa menghibur saya. Hal itu adalah pergi sendiri ke suatu tempat baru dengan mengendari sepeda motor, bersepeda atau berjalan kaki. Kalau hal ini datang, malam hari pun saya akan berjalan menyusuri kesunyian. Mengelilingi kampus dengan berjalan kaki sendiri di malam hari pun pernah saya lakukan. Sendiri menyendiri.

Sepertinya berkeliling kota Jogja bisa sangat menyenangkan pikir saya. Setelah pikiran ini datang, membuat saya merasa tidak mau kembali dan berlama-lama di dalam kamar. Seperti ada sesuatu hal yang menekan tubuh saya kalau hal ini tidak dikeluarkan. Saya memang selalu melakukan hal ini dengan spontan dan tanpa perencanaan.

Seperti biasa, saya tidak tahu arah dan tujuan saya akan kemana. Hanya saja menghabiskan waktu di bawah sinar sore yang hangat itu sangat menyenangkan. Namun sepertinya saya sudah menemukan arah tujuan saya. Pergi ke Bantul merupakan suatu perjalanan yang akan saya tuju. Setelah menyusuri jalan menuju arah Bantul, saya pikir menuju pantai sesuatu hal yang menyenangkan. Laju motor saya hentikan. Mampir untuk sekedar membeli beberapa roti dan air mineral untuk bekal merupakan sesuatu hal yang saya perlukan.

Hujan kini turun dengan derasnya. Entah kenapa hasrat menuju pantai palah semakin kuat. Hujan deras pun saya terjang dengan santainya. Santai saja, menikmati setiap tetesan air menimpa tubuh juga suatu hal yang menyenangkan. Yah, walaupun berselimutkan mantol. Pantai Depok dekat landasan pacu lebih sepi dan nyaman daripada pantai Parangtritis saya rasa. Dengan modal perasaan, kemudi ini pun membelok ke arah Pantai Depok.

Hujan kini sedikit reda, tapi mantol tetap terjaga di atas badan. Menyelimuti tubuh yang kian merindukan hawa segar pepantaian. Pos retribusi saya lewati tanpa hambatan. Mata ini saling bertatapan dengan penjaga. Tapi mereka berdua tidak berdiri dan mencoba menghentikan. Yasudah, saya melanjutkan perjalanan.

Sampai pintu masuk landasan pacu saya tidak menemukan orang. Tidak ada yang menjaga seperti biasa dan jalan masuk terhalang gerbang dari bambu yang terkunci. Saya pun turun dari sepeda motor dan memarkirkannya di pinggir jalan. Langkah kaki ini kini menuju landasan pacu.

Desiran ombak yang mendayu-dayu saya lihat dari kejauahan dan beberapa orang akhirnya saya temukan. Beberapa motor pun saya lihat. Lewat mana mereka pikir saya. Saya pun membalikan badan menuju motor. Mencari jalan masuk yang mereka lewati.

Kini saya melangkahkan kaki kembali menuju pantai setelah memarkirkan motor di sebuah lahan kecil yang datar. Walaupun motor tidak saya masukan ke dalam daerah landasan pacu. Tak perlulah saya rasa.

Mantol yang saya bawa dengan niat awal jaga-jaga kalau hujan kini sudah berganti menjadi alas untuk tas dan sekedar untuk duduk. Tidak lengkap rasanya kalau di pantai tanpa menikmati air lautnya. Tidak perlu saya jelaskan apa yang terjadi selanjutnya.

Tubuh ini kini saya baringkan di atas mantol dan menikmati setiap momen yang Tuhan suguhkan lewat ciptaan-Nya. Kemeja panjang flanel pun saya lepas dan merasakan semilir angin pantai lebih intim.

Suasana pantai kini kian ramai. Walaupun tak seramai pantai Parangtritis saya rasa. Banyak dari mereka bersama rombongan atau hanya sekedar berdua. Sedangkan saya sendiri menyendiri menikmati sunset di tanah asing.

Matahari kian terbenam dan senja sudah tak lagi menemani. Para pelancong kini banyak yang kembali. Sedangkan saya asik melompat dari ketinggian tumpukan pasir menuju hamparan pasir pantai yang luas. Biarlah, saya bebas.

Pantai kini menyisakan tiga orang yang masih setia dengannya. Saya dan dua orang pengendara vespa yang sedari tadi berbincang di dataran pasir di atas saya tidur. Suasana semilir angin, cerahnya langit sehabis hujan, hangatnya senja, suara menenangkan dari deburan ombak yang bersahabat dan kesendirian, itulah yang sedang saya nikmati. There is a rapture on the lonely shore. Sebuah kutipan dari penyair Inggris, Lord Byron, mungkin bisa sedikit menggambarkan.

"Beneran sendiri mas?" Tanya salah satu pengendara vespa tadi. Yang sebelumnya saya dan mereka  sudah sedikit mengobrol. "Iya" Jawab saya dengan santainya.

"Lagi galau masalah cewek ya?"

Saya tertawa mendengar pertanyaan mereka. Ingin rasanya bergabung dengan mereka dan bercanda gurau menghabiskan malam. Bersama menikmati cemilan yang sebelumnya telah saya beli. Mereka pun juga sudah menawarkan rokok. Tapi niat itu saya urungkan. Saya sendiri bukan perokok tapi bukan itu alasannya. Hanya saja ada sesuatu hal yang harus segera saya kerjakan. Saya pun berpamitan dengan mereka. Hari ini sangat menggembirakan.

Entah saya orang yang introvert atau extrovet. Saya tidak mau memikirkan hal itu. Biarkanlah saya menjalani hidup tanpa harus terkekang dinding kepribadian introvert atau extrovert atau bahkan ambivert. Tak perlu saya mengakuinya, biarkan orang yang menilanya.

Namun yang pasti ketika saya bersama orang dalam lingkungan sosial masyarakat saya menikmati hal itu. Dan ketika saya sendiri menyendiri itu juga sangat saya nikmati. Karena hati ini tidak merasa sepi. Kalau hati ini merasa sepi, di keramaian pun akan merasa sendiri dan di kesunyian pun akan merasa hilang.

-7 November 2016 - 
Read More
      edit

Rabu, 19 Oktober 2016

Published 00.09.00 by with 0 comment

Memasak ala Anak Kosan yang Anti Mainstream

Memasak itu salah satu kegiatan yang menarik bagi saya. Di keluarga saya sendiri semuanya sudah terlatih bisa masak. Yah, walaupun ibu saya punya warung makan kecil-kecilan tapi saya sendiri sering memasak minimal buat saya makan sendiri.

Banyak yang bilang masakan ibu saya enak dan akhirnya banyak yang jadi langganan. Saya juga sependapat. Tapi, semua anggota keluarga saya setuju kalo yang paling jago masak sih babe (biasa saya panggil Bapak). Bukan karena babe laki-laki jadi terus di bilang jagobukan. Tapi emang blio pandai masak. Endes lah.

Masuk ke dunia kampus dan jauh dari rumah tentu saja saya sudah jauh dari dunia masak-memasak. Palingan kalo pulang. Tapi pada tahun ke dua (kalo gak salah) saya mulai mencoba memasak di lingkungan kosan (indekos). Hitung-hitung menghemat anggaran buat makan dan memang terbukti benar adanya.

Tapi, tidak usah bayangin kalo saya bakal memasak memakai dapur ala chef-chef di tv-tv itu—gak mungkin juga. Seperti warung burjonan/warmindo saja juga tidak. Waktu itu kompor yang saya pakai bahan bakarnya tidak dari gas tapi dari spiritus. Penampakannya seperti ini nih:
Kompor Bikin Sendiri ala Kadarnya
Berbekal kompor bikinan sendiri dan peralatan memasak outdoor yang sudah lama saya beli, memasak di kosan pun tak jadi masalah. 

Satu tantangan memakai kompor ini: Gak bisa ditinggal!

Karena tidak ada pengatur besar kecil nyala api, jadi perlu keahlian tersendiri biar masakan gak gosong. Selain itu, harus ditunggu sampai mati baru bisa ditinggal. Jadi pinter-pinter deh seberapa banyak naruh spiritusnya.

Ada sensasi tersendiri juga kalo buat minuman memakai ini kompor. Panasin airnya terus tuang deh bahannya. Bisa susu, kopi, sereal atau dicampur sekalian. Terserah deh, tinggal mau bikin apa. Tunggu hingga bercampur dan menyatu. Walaupun di kosan udah ada dispenser tapi gak tau kenapa rasanya ada yang beda aja. Mungkin para barista yang jago bikin kopi dengan berbagai teknik itu bisa menjelaskan.

Masakan yang saya buat juga bukan masakan ala restoran mewah—yakali. Masakan rumahan ala kadarnya emang cukup mudah dan bahannya gampang dicari. Nge-goreng telur atau bikin nasi goreng bisa menjadi solusi. Cukup beda juga sebenarnya dari burjonan, karena telur yang saya pakai adalah telur bebek.
Nasi Goreng Telur
Tapi gak setiap hari juga ngegoreng telur atau bikin nasi goreng. Bosen juga yekan? Terkadang juga masak salah satu menu favorit masakan rumahan yaitu: "Oseng-oseng tahu kecap!". Ndesss bet!
Oseng Tahu Kecap
Memasak waktu hidup di kosan itu sesuatu banget. Selain ngebantu masalah keuangan mahasiswa dengan perekonomian "pas-pasan" seperti saya, memasak juga bisa menyalurkan hobi saya dengan dunia kreatifitas.

Butuh waktu lebih kalau kamu mau memasak sendiri. Kalau kamu memang mau menghemat keuangan dan tidak mau terlalu ribet ada satu jalan tengah yang bisa kamu ambil yaitu cukup dengan menanak nasi pakai Rice Cooker. Jangan lupa arahkan tombolnya ke "Cook" jangan "Warm", hehe. Terus tinggal beli deh lauk sama sayur di warung-warung kesayangan anda. Kalau gak kesayangan juga gapapa deh.

Dari memasak saya sadar bahwa butuh perjungan dari mereka yang menghidangkan masakan di depan saya. Butuh perjuangan besar dari mereka para petani yang menanam padi, bumbu-bumbu hingga akhirnya bisa disajikan di atas piring saji. Perjalanan dari manusia satu ke manusia lainnya. Keringat mereka, peluh mereka, tangis dan jeritan perjuangan mereka, ada disetiap cerita di balik sebuah masakan.

Ada satu kalimat yang sering terngiang-ngiang di kepala saya dari tokoh bernama Sanji (One Piece): "Uang tidak membuatmu kenyang".
Read More
      edit

Rabu, 05 Oktober 2016

Published 00.45.00 by with 0 comment

Memoar KKN, Tentang Cinta

Memoar KKN, Tentang Cinta
KKNAh, aku sebut pengabdian saja. Kisah cinta di pengabdian tak ubahnya seperti pengabdian itu sendiri—selalu ada. Entah itu kisah percintaan antara mahasiswa dengan mahasiswi peserta KKN, antara mahasiswa/mahasiswi dengan pemuda/pemudi dari desa yang mereka datangi, atau mungkin juga hal "seekstrim" antara dosen pembimbing dengan peserta KKN atau bahkan dengan warga desa. Ah, semua itu mungkin saja.

Di tempatku mengabdi juga banyak kisah cinta di dalamnya. Salah satunya adalah kisah seorang pemuda terhadap anggota peserta pengabdian. Banyak sekali pujangga yang mengirimkan syair-syairnya. Mendatangi pos perisitirahatan dengan membawa penuh harapan. Ada yang berhasil menaklukan, ada juga yang berakhir dengan kesedihan yang teramat dalam.

Tapi hati-hati terhadap cinta pengabdian. Mereka tak ubahnya pisau yang siap-siap mencelakakan. Banyak kisah cinta yang dibangun begitu lama akhirnya kandas ketika bertemu seseorang yang baru di tempat pengabdian. Atau kisah lain tentang perselisihan merebutkan sang pujangga hati. Yang nanti akan membuat suasana pengabdian begitu "busuk".  Aku sendiri tak suka dengan hal semacam itu. Mereka berlarut-larut terus membusuk bersama. Membuat baunya mengganggu orang yang ada disekitarnya. Memang soal perasaan dan hati bukanlah suatu hal yang mudah. Aku pun mencoba memahami. Cinta di pengabdian juga bisa mendatangkan kemurkaan Allah. Mereka lupa dan orang lain buta. Kalau sudah seperti itu, waktu tak bisa diputar kembali. Maka dari itu berhati-hatilah dengan cinta di pengabdian.

Lalu bagaimana dengan kisah cintaku? Ah, mungkin tak seindah dengan kisah cintamu. Waktu itu, aku menjadi seorang pujangga amatir yang selalu mengirimkan sajak-sajak penuh pengharapan kepada wanita yang sudah lama aku kenal. Seorang wanita yang aku temui di bangku SMA. Sudah pernah aku ungkapkan rasa cintaku dan kasihku kepadanya. Tapi semua itu tak ubahnya tetesan-tetesan air yang jatuh di padang Sahara—menghilang sudah. Sudah tiga semester berlalu tapi hati ini masih saja sama, tak ubahnya ketika aku bertemu pertama dengannya.  Sampai pada akhirnya, ketika air terakhir keluar dari kedua mata, melihat jawaban yang ada di depan layar kaca. Semua duri di padang Sahara seolah menghujam keras hati dan menyayatnya. Aku hanya bisa mengalihkan pandangan dari keramaian dan mengusap semua rasa sedih itu.

Ada seorang teman yang mengetahui hal itu tapi aku hanya diam. Sampai akhirnya di tempat peraduan aku menceritakan kisahku layaknya cerita 1001 malam. Ternyata laki-laki seperti diriku juga butuh bercerita. Tak ada air mata di dalamnya, mungkin aku sudah bisa menerima. Karena memang aku tidak suka membusuk dan mengganggu orang-orang di sekitarku.

Aku sudah melupakannya, sampai akhirnya aku terlalu melupakannya. Aku tak ingat lagi bagaimana perasaanku waktu itu. Aku tak ingat lagi bagaimana nikmatnya berjuang kala itu. Aku hanya ingat pernah mencintai wanita itu. Tapi hati ini seperti membeku. Tak ingat lagi bagaimana caranya mencintai seorang wanita lagi. Tapi bukan berarti aku tak tertarik lagi dengan wanita.

Ada beberapa wanita yang membuat mata ini melirik tapi hati ini tak tertarik. Mungkin juga ada wanita yang bisa melihat dalamnya isi hati. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang menahannya. Apakah ini hukuman dari Mu Ya Allah? Karena telah terlalu berharap dengan seseorang? Jika memang seperti itu, aku menerima ujian-Mu ini. Tapi ijinkan aku untuk menggunakan hati ini lagi. Jatuhkan sejatuh-jatuhnya perasaan ini kepada seorang wanita yang memang benar Kau janjikan waktu itu. Yang aku tak tahu siapa namanya, dari mana asalnya atau apapun yang ada dalam dirinya. Tapi jadikan jatuhku kali ini jatuh di atas ridha-Mu.

Sebenarnya, kisah cinta di pengabdianku tak semuanya berwarna hitam. Banyak sekali warna yang ada di dalamnya. Warna yang diberikan oleh teman-teman seperjuangan dalam pengabdian. Begitu pun dengan kebaikan-kebaikan yang diberikan oleh warga dan pembimbing. Keceriaan bersama dengan mereka, begitupun dengan momen haru ketika perpisahan.
Read More
      edit

Selasa, 04 Oktober 2016

Published 00.14.00 by with 0 comment

Memoar KKN, Awal Cerita

Sebuah nada pemberitahuan sebuah grup terdengar dari benda kecil berwarna putih. Sebuah telepon genggam yang sudah lama menemani dalam keseharian di beberapa tahun kehidupanku belakangan ini. Setelah beberapa saat aku baru membukanya. Ada seorang teman yang mengirimkan pesan gambar yang penuh dengan kata-kata. Sebuah pesan yang menceritakan tentang keluh kesah dari seorang pemuda di suatu desa yang menceritakan buruknya Kuliah Kerja Nyata dari kampus tempatku menuntut ilmu.




Ada rasa kesal setelah membacanya, mungkin karena rasa memiliki menjadi seorang mahasiswa di kampus itu. Akan tetapi aku tidak mau berkomentar lebih jauh dan mencoba membaca lagi. Setelah aku baca, aku tidak merasa kesal lagi karena aku kini memahami isi tulisan dari pemuda itu. Sebuah kritikan yang sangat bagus bagi instansi kampusku dan bisa menjadi bahan koreksi untuk tahun yang akan datang.

Kuliah Kerja Nyata, atau lebih singkatnya aku sebut KKN saja. Setelah membaca kiriman dari teman tadi, aku jadi teringat bagaimana aku melalui masa-masa itu. Sudah satu tahun lebih 2 bulan aku rasa, dimana masa-masa KKN yang penuh kenangan aku lalui.

KKN-ku dimulai disaat aku menolak ajakan beberapa teman yang mengajakku untuk melihat perayaan Waisak di kawasan candi Borobudur kala itu. Aku ingin ikut pergi sebenarnya, karena pada tahun sebelumnya aku tak sempat melihat penerbangan lampion yang indah secara dekat. Tapi semua itu urung aku lakukan. Aku lebih memilih beristirahat, tidur, dan menyiapkan tenaga untuk mengikuti pembekalan KKN di esok harinya. 

Aku tidak mendapatkan tempat yang sesuai dengan apa yang aku harapkan waktu itu. Walaupun aku juga tak bisa berharap lebih karena KKN di kampusku hanya di Kota Pelajar dan sekitarnya. Aku berharap bahwa aku bisa mendapatkan tempat KKN di sebuah desa dimana kehidupan gotong royong dan budaya daerah masih melekat.

Mungkin aku akan kesulitan mendapatkan air bersih hanya untuk sekadar memenuhi dahaga. Mungkin aku akan jauh dari kehidupan hura-hura dan beralih ke kesunyian. Tapi semua itu memang aku inginkan dan tantangan merupakan suatu godaan serta candu yang nyata dalam hidupku. Harapan itu luntur sudah, setelah pada akhirnya aku ditempatkan di sebuah masyarakat  yang sangat maju. Bahkan berada di pusat Kota Pelajar, sebut saja "nol-kilometer".

Masyarakat nol-kilometer dipimpin oleh seorang laki-laki paruh baya berkumis, yang ternyata sangat memperhatikan mahasiswa/i yang akan ber-KKN ria disana. Aku katakan ber-KKN ria saja, karena itu akan membuat KKN ini menyenangkan dan pada akhirnya kata itu tidak hanya sebuah kata motivasi saja.

Aku berada di sebuah kelompok KKN yang anggotanya memiliki banyak latar belakang. Entah itu agama ataupun asal daerah tempat tinggal. Setelah ditelusuri, ternyata ada beberapa orang yang berada pada lingkungan pertemanan yang sama, yaitu teman kenalan yang sama. Bahkan ada satu orang yang telah lama aku kenal, yaitu teman masa SMP. Kami merupakan sekumpulan anak non pendidikan atau beberapa orang menyebutnya anak murni yang dipersatukan dari beberapa fakultas yang ada di kampusku. Memulai ber-KKN ria pada bulan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Setelah mengikuti pembekalan KKN dan perkenalan dengan anggota, akhirnya kita terjun ke masyarakat nol-kilometer dengan membawa segudang rencana dan target yang akan dicapai nanti. Walaupun tak begitu jauh dari tempatku tinggal di kota pelajar ini, tapi kami kelompok KKN gelombang kedua diwajibkan untuk tinggal di lingkungan masyarakat nol-kilometer. Dengan menyewa secara pribadi salah satu rumah warga nol-kilometer. Dimana rumah yang kita sewa juga digunakan oleh kelompok KKN gelombang sebelumnya.

KKN ria ini kami selesaikan selama satu bulan dan berakhir dengan menyenangkan dengan banyak target tercapai di dalamnya. Serta banyak pujian yang kami dapatkan. Kini tinggal laporan pertanggung jawaban yang menghantui kami. Ditambah lagi beredarnya rumor bahwa dosen yang membimbing kami sedikit merepotkan terkait penulisan laporan.

Akhirnya, laporan juga bisa kami selesaikan dengan berbagai tantangan di dalamnya. Selain penulisan pertanggung jawaban Kuliah Kerja Lapangan atau biasa disebut magang, laporan ini juga memotivasiku untuk menulis skripsi yang sedang aku jalani sekarang ini. Kita harus memiliki keyakinan bahwa semua itu akan berakhir dengan menyenangkan dan ini membuat hatiku merasa tenang dan nyaman. Sehingga memotivasi diriku lebih bisa berjuang dalam menulis skripsi yang memiliki lika-liku tersendiri pula.

KKN begitu menyenangkan, kami diberi kesempatan untuk terjun langsung ke lapangan. Membaur dengan masyarakat baru dengan mengemban misi perdamaian dan kemajuan. Banyak cerita yang aku dapatkan dari ber-KKN ria ini. Entah itu cerita horor dibalik tempat yang kami tinggali selama satu bulan kala itu. Atau kehidupan persabahatan dan percintaan yang menjadi sebuah kisah klasik dikehidupan Kuliah Kerja Nyata.
Read More
      edit

Kamis, 05 Mei 2016

Published 20.34.00 by with 0 comment

String Art ala Anak Matematika

String Art ala Anak Matematika
Mungkin bagi kalian matematika selalu berhubungan dengan menghitung dan angka-angka. Well, pernyataan itu tidak bisa aku tolak. Memang itu adalah kegiatan sehari-hari yang aku temui di dalam perkuliahan. Aku merupakan mahasiswa matematika di salah satu universitas di Yogyakarta yang terkenal dengan prodi pendidikannya. Akan tetapi aku mengambil prodi matematika alias matematika murni.

Banyak yang berfikir bahwa para mahasiswa matematika kegiatannya adalah hanya menghitung di dalam kelas atau ruangan dan tidak ada kegiatan praktiknya. Ternyata kasus itu tidak terjadi pada diri kami sebagai mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. Dalam proses kegiatan belajar mengajar matematika di kampus ini ternyata ada praktik di lapangan dan juga praktik di laboratorium. Ada dua tipe laboratorium matematika yang kami gunakan yaitu laboratorium komputer dan geometri.

Pada tahun pertama kuliah kami, ternyata ada sebuah mata kuliah yang menyalurkan hobiku dalam seni. Mata kuliah itu adalah Geometri dan seni yang diajarkan adalah String Art. String Art merupakan bagian dari seni tapi tidak umum kita temui seperti sketching, lukisan atau seni lainnya.String Art tentu saja adalah sebuah seni yang menggunakan tali.

Beberapa hasil String Art Karya Anak Matematika Swadana 2012

Dalam membuat sebuah string art kita membutuhkan papan kayu, tali, dan paku atau pin sebagai bahan utamanya. Bisa juga dengan tambahan bahan yaitu kertas kanvas, lem dan cat warna. Peralatannya cukup mudah ditemui yaitu palu dan penjepit. 

String art ala anak matematika ini tentu saja ada pembelajaran tentang matematika geometri di dalamnya. Yaitu pembahasan tentang titik, garis dan bidang. Serta sifat-sifat yang bisa ditemui dalam ketiga hal tersebut. Proses pembelajaran seperti ini merupakan suatu hal yang menyegarkan dan menyenangkan dalam matematika menurut diriku sendiri. Walaupun dalam proses pembuatannya tidak semudah dengan apa yang kita lihat.

Dalam membuat string art ini kami perlu menggambar desain di sebuah kertas kemudian kita ajukan ke dosen. Apakah ini sesuai dengan sifat-sifat yang ada dalam geometri. Jika tidak, kami akan membuat desain baru dan mengajukannya lagi ke dosen. Kemudian dalam menyambungkan tali ke paku-pakunya ada tekniknya tersendiri agar sesuai dengan pembelajaran dalam geometri. Karya-karya kami bisa kalian lihat di laboratorium geometri atau lebih terkenal dengan nama Bengkel Matematika. Karya-karya yang ada di Bengkel Matematika sangat banyak dan beragam. Terutama media-media pembelajaran yang dibuat oleh prodi pendidikan matematika.


Read More
      edit