Sebuah memori tentang perjalanan saya mendaki gunung Merbabu untuk pertama kali yang diabadikan dalam 57 detik. Dimana waktu itu saya dan rombongan mendaki gunung Merbabu via Wekas menuju puncak Syarif.
Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan
Minggu, 30 Oktober 2016
Senin, 29 Agustus 2016
Published 18.30.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
Mei 2016 - Ini hanya sebuah cerita lanjutan dari sebuah ajakan dadakan teman. Dimana beberapa hari sebelumnya nge-chat mau pinjam beberapa peralatan mendaki. Tapi waktu mengambil barang pada malam hari sebelum hari keberangkatan malah mengajak saya yang masih santai membaca beberapa buku. Dengan seditkit aah.. ihh.. uuh.. eh.. ooh.. akhirnya saya iyakan untuk ikut bergabung. Beruntung saya masih memiliki beberapa peralatan cadangan dan sisanya mereka (temen-temen lainnya) bersedia mengurusnya.
Pendakian ini tidak jauh dari pendakian sebelumnya yaitu pendakian di gunung Prau. Karena mungkin temen saya sedikit kecewa karena ditinggal ke gunung Prau oleh temen-temen lainnya padahal dia sendiri yang mengajak. Karena alasan terntentu temen saya tidak bisa ikut dan membuat rencana pendakian selanjutnya yaitu ke Merbabu.
Beda Jalur Beda Rasa; pendakian kali ini kami memutuskan memilih jalur pendakian via Selo. Karena sebelumnya saya pernah mendaki gunung Merbabu menggunakan jalur lain, yaitu via Wekas. Maka saya bisa sedikit membandingkan ke dua jalur pendakian tersebut.
- Via Wekas : Awal pendakian anda akan disuguhkan jalur langsung tanjakan, minim "bonus", melewati beberapa rumah penduduk terlebih dahulu, tidak menemui sabana luas, terdapat sumber air di POS 2
- Via Selo : Awal pendakian jalur masih landai, banyak "bonus" track, anda akan disuguhi sabana yang sangat luas, tidak terdapat sumber air, sepertiga jalur pendakian anda akan disuguhi tanjakan curam
Menurut saya pribadi bagi anda yang ingin melihat pemandangan yang indah, sabana yang luas maka jalur pendakian via Selo bisa menjadi solusi. Ditambah lagi dari beberapa perbincangan dengan orang-orang bahwa jalur pendakian via Selo lebih bersahabat bagi mereka yang masih pemula.
Waktu itu kami mendirikan tenda di Sabana satu Merbabu dan tidak mengejar Sunrise di puncak. Sekitar pukul delapan kami baru memutuskan untuk naik ke puncak setelah mengisi tenaga. Hanya beberapa barang saja yang kami bawa sampai puncak. Selebihnya kami tinggal di tenda.
| Hamparan Rumput Hijau Taken by : Amin |
| Sunrise di Sabana Satu Merbabu taken by : Amin |
| Taken by : Amin |
| Taken by : Amin |
| Jump Around Taken by : Amin |
| Trio Pendaki Cantik |
| Jalur Menuju Puncak |
| Setapak |
| Jump and Fly ! Taken by : Amin |
| Sabana 2 Merbabu |
| Puncak ! |
| Jangan Ditiru |
| Taken by : Amin |
| Di Gunung Pemandangannya Indah yaa.... |
PS: Jangan Lupa bawa sampahnya turun dan jaga lingkungan. Salam....
Published 00.34.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
April 2016 - Gunung Prau terletak di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, Indonesia, dengan ketinggian 2.565 mdpl. Akhirnya saya berkesempatan untuk mendaki gunung yang pemandangannya keren ini. Lewat gunung prau kalian bisa melihat beberapa gunung yang berderetan dari puncaknya.
Gunung Prau juga dikenal dengan track-nya yang cukup mudah dengan panjang lintasan dari basecamp sampai puncak yang tidak terlalu panjang. Sehingga dapat ditempuh dengan waktu yang cukup singkat, sekitar 2-3 jam anda sudah bisa melihat indahnya puncak Prau. Ini menguntungkan bagi anda yang baru pertama kali mendaki.
Setelah mendapat ajakan dari teman akhirnya saya putuskan untuk ikut. Jadwal keberangkatan sudah diputuskan jauh-jauh hari. Seiring dekatnya dengan hari H banyak teman yang pada tumbang karena sakit ataupun jatuh dari motor. Terlebih lagi yang mengajak palah tumbang (Bad luck Amin). Dengan sisa orang yang ada, perjalanan tetap kami lanjutkan. Sehubungan sudah matangnya persiapan dan susahnya mencari jadwal yang pas. Karena bentroknya dengan jadwal kuliah dan konsultasi buat skripsi, hem....
Perjalanan kami mulai dari Yogyakarta dan tiba di basecamp Patak Banteng sore hari menjelang malam. Dengan kondisi tubuh kedinginan karena hujan. Sesudah beristirahat sebentar dan mengurus ijin ke petugas akhirnya kami putuskan untuk mulai mendaki, sekitar setengah delapan waktu itu. Dengan anggota yang kebanyakan pemula kami putuskan untuk mendaki dengan slow saja. Sekitar pukul setengah sebelas akhirnya kami sampai puncak.
Memilih Lokasi Pendirian Tenda; Setelah sampai di area puncak kami memilih pendirian tenda yang tidak terlalu dekat dengan puncak agar terhindar dari hembusan angin. Walaupun 2.565 mdpl tapi sangat dingin pada waktu itu. Dengan bermodalkan dua tenda akhirnya kami bermalam dengan membuat hidangan malam sebelum menuju ke alam mimpi.
Kabut Dimana-mana; Pagi tiba waktunya menikmati mentari pun datang. Akan tetapi momen itu tidak bisa kami rasakan karena kabut putih tebal menyelimuti gunung Prau kala itu. Niat hati untuk mengabadikan momen sunrise dari puncak Gunung Prau dengan pemandangan gunung-gunung yang berjejeran tidak terlaksana. Tapi tak apa kami masih bisa merasakan kebersamaan yang ada.
Setelah dirasa cukup, kami putuskan untuk turun kembali ke basecamp.
Momen Tak Terlupakan; Hujan ringan menjadi teman perjalanan turun ke basecamp. Tentu saja jika hujan datang pasti membuat track menjadi basah dan licin. Menuju pos satu kala itu dengan pijakan yang kurang pas dan sepatu yang gak "ngegigit" badan ini pun terbanting dan terguling. Tapi syukur tidak sampai parah. Hanya kotor saja.
(Buat kalian hati-hati ya.. awas ujan licin! hehe..)
(Buat kalian hati-hati ya.. awas ujan licin! hehe..)
Akhirnya sampai juga di basecamp. Perjalanan pun kami teruskan kembali menuju Yogyakarta. Kota kami berpulang. Ternyata perjalanan kembali ke Yogyakarta bukanlah hal yang mudah. Ditemani hujan dan kondisi yang tidak fit membuat perjalanan terasa lama dan melelahkan.
Mungkin ini beberapa kenangan yang bisa kami abadikan kala itu. Semoga pada kesempatan lainnya bisa terhindar dari kabut dan mengambil gambar pemandangan dengan deretan gunung-gunung yang berjejeran. Terima kasih buat semuanya, terutama buat (saudara-saudaranya) Marwah yang telah bersedia menampung kami sebelum dan sesudah pendakian. Atas semua hidangan dan lain sebagainya. Hehe....
Salam Lestari.
Salam Lestari.
| Kebersamaan Kami Canon 60D, lensa kit 18-55mm ISO 500, 1/1000s, f/5.6 |
| Pendaki Caem (Marwah) Canon 60D, lensa kit 18-55mm ISO 800, 1/2500s, f/5.6 |
| Cuma Temen Canon 60D, lensa kit 18-55mm ISO 800, 1/2500, f/5.6 |
| Turun-Turun ke Basecamp Gunung |
| Taken by : Imam |
| Taken by : Temen |
| Terima kasih kepada : Dinar - Imam - Marwah - Rahmat - Zuni - Satriyo - Neswin - Saya |
PS : Jangan lupa bawa sampahnya turun dan jaga lingkungan. Salam..
Selasa, 12 Juli 2016
Published 06.41.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
| Sunrise di Puncak Syarif Merbabu (Canon 60D ; 1/50s ; ISO 100 ; f 7.1) |
Mendaki gunung merupakan suatu kegiatan yang saya mulai sekitar tahun 2013. Cukup baru memang. Kebetulan pada waktu itu sedang booming-nya film 5cm yang mengakibatkan munculnya euforia dalam mendaki gunung. Akan tetapi berpetualang bukanlah sesuatu hal yang baru bagi saya. Kebetulan sudah sejak saya kecil saya sudah terbiasa mendaki dan menyusuri alam. Karena tempat tinggal saya yang mendukung kegiatan dan hobi tersebut. Saya lahir dan besar di Borobudur, Magelang.
Sebelum melakukan kegiatan mendaki gunung saya cukup aktif dalam mengikuti kegiatan kepramukaan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Dari mengikuti keanggotaan, pengurus sampai pernah sekali mengikuti lomba kepramukaan. Walaupun saya tidak begitu ahli dalam hal ini tapi kegiatan semacam ini merupakan suatu hal yang saya sukai.
Mendaki gunung merupakan kegiatan yang tidak lepas dari pengaruh teman-teman saya. Berbekal ajakan dari teman saya (akhirnya diajak) dan beberapa peralatan kepramukaan yang saya miliki akhirnya saya putuskan untuk mengikuti pendakian. Dimana pendakian pertama saya adalah gunung Merbabu dengan jalur yang diambil adalah melalui Wekas.
Magelang merupakan satu-satunya wilayah di Indonesia yang dikelilingi
oleh 5 gunung yaitu Merapi, Merbabu, Sumbing, Telomoyo, dan Menoreh. Oleh karena itu kegiatan ini bisa saya lakukan dengan biaya yang cukup minim karena faktor jarak tempuh yang dekat antara rumah dan basecamp. Saya sangat beruntung mendapatkan teman-teman pendakian yang sudah paham betul dengan track pendakian dan sudah terjun dalam dunia muncak cukup lama. Apalagi dengan peralatan yang mereka miliki sangat membantu dalam proses pendakian bagi saya yang pemula ini. Selain itu mereka juga teman-teman yang mengerti tentang begitu pentingnya kebersihan lingkungan.
Pendakian ini kami lakukan beberapa hari setelah hari lebaran. Tidak begitu ramai pada waktu itu. Sekitar jam 1 kami berangkat dari basecamp menuju pos 1 Merbabu via Wekas.
| Ini dia beberapa tersangkanya - sekitar basecamp Wekas |
| Setelah basecamp terdapat jalur track melewati rumah penduduk |
Sampai pos 2 sekitar jam empat sore kami putuskan untuk bermalam di pos 2. Kemudian melanjutkan perjalanan dari pos 2 sampai puncak jam satu pagi.
| Saya - Ferisa - Rohmad |
| Perjalanan Menuju Puncak |
| Puncak Syarif |
Gunung Merbabu sangat bersahabat kala itu. Pendakian gunung pertama saya syukur bisa sampai puncak, cuacana bersahabat, samudera di atas awan, sunrise yang cantik dan keselamatan semua anggota. Setelah sampai di puncak Syarif beberapa dari temen pendaki juga melanjutkan ke dua puncak lainnya. Ada dua jalur tercepat dari puncak Syarif yang satunya aman yang satunya perlu ketelitian yang namanya "jembatan setan".
Beberapa foto lainnya :
| Merbabu |
| Jembatan Setan |
| Pemburu Fajar |
| Kenalan Baru |
| ... |
| Selalu ada persahabatan disetiap pendakian |
| Menikmati alam sebelum pulang |
Salam
FYI :
1. Pos 2 via Wekas masih terdapat air bersih
Langganan:
Postingan (Atom)
