Tampilkan postingan dengan label kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Januari 2018

Published 04.03.00 by with 0 comment

[Board Game Kesehatan] Melatih Bapak-Ibu Pegawai Puskesmas

Photo via  puskesmasbantulkab.go.id
Memasuki minggu ketiga yaitu minggu terakhir batas waktu penyerahan board game saya mendapat kabar bahwa akan diadakan sebuah pelatihan tentang board game yang kami buat. Dengan judul “Pelatihan Pengembangan Media Promosi Kesehatan Melalui Board Game”. Jadi kami dari pihak tim produksi mendapat tugas baru yaitu menjadi pelatih para peserta yang diundang oleh pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul selama tiga hari berturut-turut.

Peserta merupakan perwakilan dari 27 Puskesmas yang berada di Kabupaten Bantul. Setiap Puskesmas diwakili oleh dua orang peserta. Meliputi laki-laki dan perempuan serta dari berbagai tingkatan usia. Tujuan dari pelatihan adalah diharapkan nantinya perwakilan tersebut dapat mensosialisasikan dan mengembangkan media promosi kesehatan di Puskesmas masing-masing.

Acara dibuka oleh perwakilan Dinas Kesehatan kabupaten Bantul kemudian diisi oleh tim dari DAKON. Selama tiga hari berturut-turut pihak DAKON bertugas menjadi pemateri dan pelatih. Dimana pemateri memiliki tugas untuk memberikan wawasan yang berkaitan dengan board game secara umum di depan semua peserta sedangkan tugas dari pelatih adalah memberikan wawasan tentang board game karya tim DAKON dan memberi pelatihan cara bermain kepada peserta yang telah dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Saya sendiri bertugas menjadi salah satu pelatih. Ini merupakan pengalaman pertama saya berbicara di muka umum berkaitan dengan pekerjaan. Dimana pesertanya notabene lebih dewasa daripada saya ditinjau dari usia.

Dalam padatnya revisi dan produksi yang tidak mengenal waktu saya menyempatkan untuk membaca materi dan mempelajari kembali cara bermain tiga board game yang kami buat. Karena itu membuat saya lebih siap dan merasa nyaman dan tentu saja itu adalah bentuk tanggung jawab serta profesionalitas. Walaupun sebelum pelatihan ada pengarahan-pengarahan singkat tentang cara bermain yang mungkin ada tambahan atau pengurangan dalam setiap materi board game.

Pada hari pertama kami di tim pelatih memberikan pelatihan tentang board game yang bernama “Diabetamon”. Dimana sebenarnya rencana awal hari pertama adalah board game “Germas Game” namun diganti karena ada sedikit masalah di bagian produksi. Kemudian pada hari kedua permainan yang dimainkan adalah dua board game sekaligus yaitu “Germas Game” dan “Ciberat”. Selanjutnya pada hari ketiga diisi dengan memainkan beberapa board game yang dimiliki DAKON.

Pada hari ketiga saya terpaksa tidak ikut karena mengurusi di bagian produksi yaitu penyortiran. Demi tercapainya target pemesanan dengan batas waktu yang sudah ditentukan. Jadi memasuki hari ketiga tepatnya lewat tengah malam komponen permainan yang tim buat baru selesai proses pemotongan. Kemudian dilanjutkan proses penyortiran komponen sesuai set yang sudah ditentukan. Yang mana jumlahnya ribuan. Memasuki waktu shubuh proses penyortiran kami hentikan untuk istirahat. Kemudian sekitar pukul delapan pagi kami melanjutkan kembali sampai menjelang sore hari akhirnya selesai. Hari dimana hampir 24 jam saya tidak tidur itulah hari ketiga pelatihan dan hari batas waktu penyerahan.

Itulah mengapa ada beberapa orang pada hari ketiga tidak ikut mengisi pelatihan. Di tim game designer yang terdiri dari sepuluh orang ada lima orang yang tidak ikut. Dua orang dari tim “Germas Game”, dua orang dari “Ciberat” dan satu orang dari “Diabetamon”.

Karena tidak mengikuti pelatihan maka saya dan empat rekan saya yang sibuk mengurusi di bagian produksi tidak mendapatkan royalty sebagai pelatih pada hari ketiga. Namun, Alhamdulillah-nya kami diberi “ganti rugi” oleh salah satu pemiliki DAKON dari hasil menjadi pemateri selama tiga hari berturut-turut. Yang mana jumlah jumlah royalty menjadi pemateri dan pelatih berbeda. Walaupun royalty menjadi pelatih tidak sebesar pemateri yang sampai jutaan namun kalau dikalikan tiga hari maka itu merupakan jumlah yang tidak sedikit. Dan tentu saja itu belum termasuk gaji utama menjadi game designer. Sungguh pengalaman yang berkesan dan bermanfaat sekali bagi anak kos seperti saya.

Baca juga:
1. [Board Game Kesehatan] Menjadi Bagian Tim DAKON Library X Dinkes Bantul
2. [Board Game Kesehatan] Serunya Proses Pembuatan Germas Game, Ciberat dan Diabetamon
3. [Board Game Kesehatan] Melatih Bapak-Ibu Pegawai Puskesmas

Read More
      edit

Kamis, 28 Desember 2017

Published 14.06.00 by with 0 comment

[Board Game Kesehatan] Serunya Proses Pembuatan Germas Game, Ciberat dan Diabetamon

Produk Board Game Kesehatan DAKON yaitu Diabetamon, CIBERAT dan Germas Game
Kalau sebelumnya saya sudah sedikit bercerita bagaimana saya bisa masuk di sebuah tim pembuatan board game, maka ijinkalah kali ini saya bercerita tentang serunya proses pembuatan. Namanya juga proses pembuatan sebuah permainan, maka isinya tentu saja banyak bermain. Tapi bedanya bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Yang nanti bisa ditabung untuk modal menikah. Ah elah.

Kemarin saya sudah bercerita bahwa kami membuat tiga jenis permainan dari tiga tema yang berbeda dan setiap jenis permainan dibuat oleh satu tim atau kelompok. Jadi ada tiga kelompok. Kelompok  yang pertama membuat board game  dengan tema GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat). Kemudian kelompok kedua membuat board game dengan tema diabetes. Sedangkan yang terakhir membuat board game dengan tema PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat). Setiap kelompok terdiri dari empat orang. Tiga orang game designer dan satu orang illustrator. Saya sendiri tergabung di tim pertama.

Karena saya sendiri masih awam dengan industri board game  maka saya pun belajar tentang board game dan mencoba beberapa permainan di DAKON library. Semakin banyak permainan papan yang dipelajari maka semakin banyak pula wawasan untuk membangun permainan papan yang baru. Proses awal dalam pembuatan permainan papan adalah dengan melakukan observasi. Ada dua observasi yang harus dilakukan. Pertama adalah observasi tentang permainan papan. Sedangkan yang kedua adalah observasi tentang materi tema yang dibangun. Dalam konteks ini adalah tema kesehatan. Misalkan untuk tim saya maka mencari materi tentang GERMAS. Dalam mencocokan materi juga dibantu oleh pihak Dinas Kesehatan dan dokter.

Waktu Produktif di Kaliurang

Pertemuan di Kaliurang

Karena singkatnya waktu yang telah ditetapkan, maka tim membuat jadwal khusus yang nanti bisa lebih produktif yaitu bertempat di Kaliurang. Kaliurang merupakan tempat yang biasa dirujuk untuk kegiatan mahasiswa Jogja atau instansi lainnya. Sungguh hubungan yang sangat erat. Entah kenapa secara pribadi Kaliurang merupakan tempat yang selalu ingin saya singgahi. Suasananya seperti sudah memiliki kemistri tersendiri. Padahal seingat saya waktu kecil juga belum pernah kesana.

Selama dua hari satu malam semua tim berdiskusi untuk membangun permainan. Entah itu pagi, siang, sore ataupun malam. Karena sebelumnya setiap tim telah menyusun materi berupa permainan papan yang menginspirasi atau membangun dan apa saja dari tema kesehatan yang bisa dimasukan maka langkah selanjutnya adalah membuat dummy dengan kertas karton. Kemudian setiap tim mencoba untuk memaikannya. Sampai mendapatkan formula yang seimbang. Trial and error tidak perlu ditanya lagi seberapa banyak dan beberapa kali juga menemukan kebuntuan tapi akhirnya bisa diatasi.

Adapun sesi dimana setiap tim mempresentasikan hasil karyanya. Kemudian mendapatkan masukan lagi dari tim-tim lain dan juga mempresentasikan kepada mas Adnan selaku salah satu pemilik DAKON. Yang mana beliu sudah lama terjun di industri board game. Kemudian meracik lagi formula yang pas agar permainan bisa seimbang dan menyenangkan. Adapun juga rencana-rencana cadangan lainnya. Sepertinya memang kelihatan banyak lika-liku tapi karena proses itu dinikmati jadinya terasa menyenangkan. Apalagi kalau diniatkan sebagai ibadah. Maka itu adalah sebuah hal tidak hanya baik di dunia tapi juga di akhirat.

Sidang dengan Pihak Dinas Kesehatan

Sidang Pertama dengan Pihak Dinas Kesehatan Bantul
Karena proyek ini berhubungan dengan dinas kesehatan Bantul maka tentu saja ada sesi presentasi kepada instansi tersebut. Setidaknya ada dua kali pertemuan dimana setiap pertemuan selalu ada revisi. Entah itu penambahan cara bermain atau substansi materi yang ada di dalam permainan. Agar sesusai dengan tema dan kondisi geografis kabupaten Bantul.

Pada pertemuan pertama kami masih menggunakan dummy sedangkan pertemuan kedua sudah menggunakan desain yang dibuat oleh illustrator  masing-masing kelompok. Ilustrasi gambar pun tak lepas dari revisi. 

Begitupun dengan nama dari masing-masing produk. Namun pada akhirnya nama pun sampai ke titik final. Yaitu GERMAS GAME untuk tema GERMAS, kemudian DIABETAMON untuk tema diabetes dan yang terakhir bernama CIBERAT (Cinta Bersih dan Sehat) dari tema PHBS.

Padatnya Proses Produksi

Proses Produksi
Setelah melalui rangkaian perbaikan karena revisi maka langkah selanjutnya adalah proses produksi. Ada berbagai macam hal yang ada dalam tahap ini. Ada yang kami lakukan sendiri adapun yang bekerja sama dengan pihak lain. Dalam tahap ini tidak mengenal waktu. Sering kali melakukan lembur sampai larut atau bahkan sampai Shubuh kemudian waktu Dhuha dilanjutkan lagi. Karena memang waktu yang begitu sempit.

Beberapa hal yang dilakukan oleh pihak lain yang bekerja sama adalah produksi box serta penempelan cover  yang sudah dilaminasi. Kemudian juga ada produksi karakter yang terbuat dari akrilik dan juga pemesanan dadu serta token. Walaupun nanti pada tahap pengecetan token kami kerjakan sendiri.

Adapun yang berkaitan dengan percetakan komponen dan laminasi maka kami mencari percetakan yang murah dan berkualitas. Kalau pemotongan ada yang dikerjakan sendiri, memperkerjakan orang dan ada juga yang dipotong langsung di percetakan. Kemudian tahap akhirnya adalah sortir dan pengepakan kami lakukan sendiri.

Sungguh sangat seru bukan? Nantikan cerita seru lainnya yang masih akan berlanjut.

Baca juga:
Read More
      edit

Rabu, 27 Desember 2017

Published 21.06.00 by with 0 comment

[Board Game Kesehatan] Menjadi Bagian Tim DAKON Library X DINKES Bantul

Tim Game Designer Board Game DAKON X DINKES Bantul
Beberapa minggu yang lalu saya cukup disibukan dengan aktivitas pembuatan board game. Di tengah “sibuk”-nya mengerjakan skripsi saya mencoba mengajukan diri untuk bergabung di sebuah tim pembuatan board game. Setelah proses “wawancara” lewat whatsapp akhirnya saya pun diterima. Ya, diterima, kalau tidak maka cerita ini pun tak bakalan ada.

Board game merupakan bagian dari tabletop game. Yaitu sebuah permainan papan. Selain itu di dalam tabletop game juga ada yang namanya card game. Namun disini saya akan menyebutnya board game (BG) saja. Karena di dalam board game sendiri, sekarang pun sudah ada penambahan komponen kartu dan lain sebagainya. Contoh dari permainan board game adalah catur.

Saya sendiri memang masih awam dengan dunia board game bahkan untuk sekedar bermain monopoli pun saya tidak begitu paham. Padahal sudah lama saya mengenal permainan itu. Sebuah permainan papan yang mengajarkan kapitalisme. Akan tetapi kalau permainan kartu sepertinya kebiasaan dulu bermain kartu di kampus bisa membantu. Dan ternyata latar belakang saya di matematika sungguh sangat membantu. Walaupun tidak begitu kaget karena kalau kamu tahu film dengan judul "21" pasti kamu akan paham hubungan antara permainan kartu dan matematika.

Jadi selama tiga minggu kemarin saya tergabung dalam sebuah tim pembuatan BG dibawah naungan DAKON yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Bantul. Dimana DAKON adalah sebuah board game library yang terletak di plaza UNY lantai empat. Kalau penasaran silahkan berkunjung. Jadi kalau kamu datang kesana kamu bisa menikmati berbagai macam permainan papan dan juga aneka makanan. Karena memang letaknya yang dekat dengan foodcourt.

Kenapa bisa bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Bantul? 

Nah, ini merupakan suatu hal yang menarik. Latar belakang kerja sama antara DAKON dan Dinas Kesehatan Bantul adalah karena adanya program dari pemerintah pusat yaitu program GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat). Yaitu sebuah program untuk mengkampanyekan pola hidup sehat. Big Applause untuk Dinas Kesehatan Bantul yang merespon dengan baik dan tentu saja kreatif program dari pemerintah pusat tersebut. Jadi, board game yang kami buat adalah untuk sarana edukasi kesehatan kepada masyarakat.

Kami di tim pembuatan hanya bertugas untuk mendesain dan memproduksi. Sedangkan pemasarannya ada di pihak Dinas Kesehatan Bantul. Yaitu didistribusikan ke puskesmas-puskesmas yang berada di kabupaten Bantul. Jadi kesimpulannya adalah pihak DAKON mendapat pesanan untuk membuat board game dari pihak Dinas Kesehatan Bantul.

Ada tiga tema yang diajukan pihak Dinas Kesehatan Bantul ke pihak DAKON. Setiap satu tema dibuat satu jenis permainan. Dimana setiap jenis permainan dibuat seratus unit. Jadi totalnya adalah tiga ratus unit dengan tiga jenis permainan yang berbeda. Walaupun pada akhirnya nanti pihak Dinas Kesehatan Bantul meminta penambahan produksi. Yang sangat menantang adalah waktu pengerjaannya yaitu hanya selama tiga minggu saja. Sungguh waktu yang sangat singkat karena kami tidak hanya mendesain tapi juga memproduksi sendiri dengan jumlah yang cukup besar.

Mau tahu keseruan proses mendesain dan produksinya? Nantikan cerita selanjutnya.

Baca juga:
1. [Board Game Kesehatan] Menjadi Bagian Tim DAKON Library X DINKES Bantul
2. [Board Game Kesehatan] Serunya Proses Pembuatan Germas Game, Ciberat dan Diabetamon
3. [Board Game Kesehatan] Melatih Bapak-Ibu Pegawai Puskesmas
Read More
      edit

Senin, 05 Desember 2016

Published 21.24.00 by with 0 comment

Berkah Pemotretan

Berkah Pemotretan
23 Nov 2016 - Siang ini setelah menyelesaikan pemotretan satu kelompok untuk buku tahunan, teman saya yang juga rekan fotografer buku tahunan mendapat pesan singkat lewat Whatsapp yang mengatakan bahwa jam 12.40 dibutuhkan jasa pemotretannya untuk acara wisuda di salah satu rumah dekat Kids Fun Yogyakarta. Sedangkan waktu sudah menunjukan sekitar pukul 12.15.

Motor pun di gas setelah bersiap dan sebelumnya mengajak saya untuk bergabung. Pengalaman baru, menantang dan tentu saja positif kenapa tidak? Singkirkan dulu tentang bayaran.

Jalan gang kecil dan pedesaan kami susuri dengan berharap akan lebih cepat tanpa harus bertemu kemacetan dan rute yang panjang. Mengingat posisi sekarang masih berada di sekitar kampus UGM.

Berpegang dari instruksi chat whatsapp teman yang memberi job, akhirnya jalan disusuri dengan gesitnya.

Sampai juga di sebuah rumah besar dan bertingkat. Sebuah rumah mewah yang dibangun di lingkungan pedesaan yang asri. Waktu sudah melebihi jadwal tapi sepertinya acara belum dimulai. Setelah melihat dari pintu luar yang terbuka lebar dan hanya terlihat seorang laki-laki paruh baya yang sedang menyiapkan tempat.

Datang dua orang yang menaiki sepeda motor berboncengan. Raut wajah penuh tanya ada di mimik wajah mereka. Ternyata mereka mencari alamat yang sama dengan alamat yang saya dan rekan saya cari. Nama pemilik dan ciri-ciri rumah memang sama. Sempat terbesit dalam benak apakah mereka juga fotografer yang dipanggil mengingat pekerjaan yang teman saya ambil adalah job lemparan. Karena fotografer sebelumnya sedang berhalangan.

Nyatanya setelah berbincang, mereka bukan seorang atau dua orang fotografer. Mereka adalah dua orang yang datang untuk memenuhi undangan pengajian yang beralamat sama dengan alamat yang saya dan rekan saya cari.

"Acara pengajian?" Saya dan rekan saya saling menatap dan tertawa. Bukan karena lucu tapi tertawa geleng-geleng karena bingung dengan perjanjian yang katanya acara wisudaan. Sedikit bingung juga selain karena salah acara, baju yang kita pakai pun "tidak sopan" untuk datang ke sebuah acara pengajian.

Rekan saya memakai kaos berjaket sedangkan saya memakai polo. Cukup sopan memang apa yang saya pakai tapi kami segera bergegas mencari masjid untuk berganti pakaian. Bukan untuk rekan saya, tapi untuk saya sendiri. Saya memang memakai polo tapi sebelum memakai polo saya memakai kaos hitam berlengan panjang bertuliskan "Death Fucking Vomit" di lengan kanan dan kirinya. Sebuah kaos band metal asli Yogyakarta yang saya miliki sewaktu SMA. Sudah lama saya tidak memakainya. Tapi berhubung ada pemotretan di siang bolong di bawah terik matahari dan sebelumnya berada di rumah, akhirnya saya memilihnya.

Kami pun masuk ke rumah dan acara belum dimulai karena para tamu undangan belum pada datang. Menyapa serta berkenalan dengan dua orang tadi dan pemilik rumah setelah sebelumnya berganti pakaian di WC kantor desa karena tidak menemukan masjid.

Nampak seorang laki-laki paruh baya berpeci yang sepertinya tidak asing dalam ingatan saya. Menyapa, bersalaman dan sedikit mengobrol dengan beliau. Sepertinya saya pernah melihat beliau tapi kapan dan dimananya saya tidak ingat.

Tamu udangan pun berombongan berdatangan dan acara dimulai. Saya dan rekan saya mengambil setiap momen yang ada. Termasuk memfoto laki-laki paruh baya berpeci yang akhirnya saya ketahui bahwa beliau adalah ustadz yang sering muncul di TV dangdut dan dikenal dengan nama ustadz Cinta.

Sebetulnya tidak seratus persen salah acara juga karena sejatinya sekarang adalah acara syukuran wisuda. Tapi ini membuat durasi menjadi lama ditambah acara seperti ini merupakan acara yang tidak pasti waktu mulai dan selesainya. Ditambah molornya dari waktu perjanjian. Secara profesional maka ini disebut penyewaan jasa fotografi "long time"—bukan "short time".

Namun pemotretan kali ini sungguh berkah banget. Bagaimana tidak? Lha wong sekalian mengaji. Ditambah lagi isinya tentang nasihat percintaan yang cocok banget untuk kaum jomblo seperti saya. Seperti yang dikatakan oleh pak ustadz Cinta yang juga saya yakini bahwa pertemuan ini bukan merupakan suatu kebetulan. Allah sudah mengaturnya.

Acara selesai dan uang kini sudah berada di kantong setelah sebelumnya dibagi berdua. Lumayan untuk mentraktir pacar dan jalan-jalan selain untuk ditabung. Oh iya, lupa... saya kan gak punya pacar. Yaudah ditabung dan buat makan sendiri saja.

Acara yang lain menunggu setelah sebelum pulang diminta nomornya karena dibutuhkan jasanya di acara selanjutnya.

Waktu sudah sangat sore dan perjalanan pulang diisi banyak perbincangan. Salah satunya membahas tentang rumah yang dibuat untuk pemotretan. Sebuah rumah yang dibangun dengan dana 3 Miliar yang saya dan rekan saya tahu setelah melihat artikel koran berpigura menempel di dinding salah satu tembok rumah.

"Pengen enggak punya rumah kayak gitu?"

"Enggak...." jawab saya simple. "Gak ada halamannya."

"Nanti kalau parkir ndak ngerusuhin tetangganya?" Kami berdua tertawa lepas.
Read More
      edit

Senin, 21 November 2016

Published 14.13.00 by with 0 comment

Lika-Liku Pemotretan

Lika-Liku Pemotretan
18 November 2016 - Kalau sebuah hari dimulai disaat orang bangun dan beranjak dari tempat tidur, mungkin sekitar pukul 3.38 pagi bukanlah awal dari hari yang akan saya lalui. Karena pada akhirnya diri ini melanjutkan untuk kembali terlelap dan akhirnya satu jam kemudian baru beranjak dari tempat yang memiliki gaya gravitasi tinggi itu. Seperti biasa saya kurang istirahat dan terlelap di larut malam.

Setelah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan di pagi hari dan menyiapkan perlengkapan fotografi, saya bersiap untuk bergegas melakukan pengambilan foto buku tahunan. Berdua dengan rekan. Tapi setelah beberapa menit tidak kunjung datang juga yang katanya pukul tujuh.

Pengambilan gambar buku tahunan berada di sekitar rektorat Universitas Negeri Yogyakarta. Ketika sampai disana terlihat beberapa perbedaan. "Seberapa lama itukah saya tidak datang ke kampus?" pikir saya ketika melihat pembangunan gedung baru untuk S2 yang sedang dibangun dan terdapat lahan parkir baru. Cukup disayangkan, karena tempat yang dijadikan pembangunan adalah lahan hijau yang menyegarkan mata dan pikiran.

"Aah..!!!" Teriak saya disusul rekan saya. Serangan semut ngangrang menggigit kaki dan mulai merambat ke seluruh badan. Entah kenapa mereka seperti makhluk yang bisa melihat dan mengejar kami sebagai mangsa. Sepertinya kami sudah ditandai oleh mereka. Tapi anehnya yang diserang orangnya itu-itu saja. Gigitannya (kagak tahu sebutan tepatnya apa, toh walaupun semut kagak punya gigi tapi sudah biasa disebut begitu) itu lho, bisa menembus celana dan kaos kaki. Begitupun dengan rasa gigitannya. Hmm, super sekali.

Pemotretan tetap dilanjutkan dan hari ini empat kelompok berhasil di proses pengambilan gambarnya. Padahal niat awal adalah pemotretan bersama satu kelas dan pengambilan semua anggota kelompok yang berjumlah 6 kelompok. Karena beberapa alasan dari klien hal itu tidak sesuai dengan rencana.

Hari kini sudah mulai petang dan hujan pun turun dengan syahdunya. Waktu-waktu itu saya dan rekan saya habiskan di dalam kamar kos untuk melihat film dan mengedit foto ditemani camilan keripik singkong pedas.

Hal itu tak berlalu sampai larut malam seperti pengerjaan buku tahunan sebelumnya. Karena saya ada janji dengan teman-teman yang saya kenal di KKN. Untuk berbincang dan menikmati kopi bersama. Sudah beberapa pertemuan saya tidak bergabung dengan mereka. Akhirnya saya memiliki waktu untuk bergabung dengan mereka. Bukan karena saya sibuk tapi memang waktu dan tempat yang tidak berjodoh. Saya pun bergegas sendiri, setelah sebelumnya mengajak rekan saya yang menolak karena memiliki keperluan lain.
Read More
      edit

Kamis, 15 September 2016

Published 21.17.00 by with 0 comment

[Yearbook] Matematika E 2012 Universitas Negeri Yogyakarta


Setiap orang mempunyai caranya tersendiri dalam menangkap masa sekarang untuk menjadikan kenangan indah di masa yang akan datang. Seperti halnya dengan fungsi dari sebuah buku tahunan. Sebagai media mengenang orang-orang yang berjuang bersama dalam sebuah organisasi atau institusi. Mengenang masa-masa indah bersama teman walaupun terkadang ada rasa perih saat terlintas bayangan mantan—yekan?

Banyak sekali perkembangan dan inovasi dalam dunia mengabadikan momen ini. Tidak hanya soal buku tahunan yang menggunakan teknik fotografi saja, akan tetapi ada juga yang menggunakan teknik videografi. Biar bisa di upload ke Youtube kata mereka. Apalagi banyak orang yang terinspirasi setelah booming-nya film 'Catatan Akhir Sekolah' tahun 2005 silam.

Seiring berkembangnya jaman, mengabadikan momen dengan media cetak menjadi buku masih menjadi idaman. Bahkan ada rasa tersendiri jika di cetak daripada hanya berbentuk softfile. Lebih merasa memiliki katanya. Dimana setiap lembar yang kita buka memiliki kenangan tersendiri.

Ini kali pertama saya mengambil gambar untuk kepentingan pembuatan buku tahunan. Tentu saja saya tidak sendirian. Ada sebuah TIM dalam pengambilan gambar hingga sampai ke percetakan.

Tidak banyak kendala yang kami temui selama proses pemotretan hingga akhirnya menjadi sebuah buku tahunan. Kendala utama kali ini adalah soal waktu. Dimana kita harus mencocokan jadwal dengan beberapa orang yang memiliki jadwal yang berbeda.

Adapun kendala lain ketika salah satu tempat pengambilan gambar tidak diijinkan oleh salah seorang pengurus yang ada di sana. Akan tetapi untuk masalah ini setelah melobi dengan pengurus akhirnya kami tetap bisa melanjutkan proses pemotretan.

Dalam proses pengambilan gambar kami menghabiskan beberapa hari dengan lokasi pengambilan gambar di lingkungan Universitas Negeri Yogyakarta - Indoor maupun Outdoor. Adapun tempat lain yaitu Taman Sari untuk pengambilan gambar panitia.

Kami menggunakan peralatan kamera Canon 60D, Canon 50D, 2 lensa Canon 18 - 55mm, lensa fix 50mm, flash Yongnuo, tripod dan beberapa alat tambahan lainnya.

Berikut adalah beberapa hasil foto dari buku tahunan Matematika E 2012. 







Sampul Depan

Foto Kelompok (1)

Foto Kelompok (2)

Foto Kelompok (3)

Foto Perorangan (1)

Foto Perorangan (2)

Snapshoot (1)

Snapshoot (2)
Foto Panitia

Read More
      edit