Tampilkan postingan dengan label kepenulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kepenulisan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 April 2021

Published 19.41.00 by with 0 comment

Adab Berbicara


Kerap dijumpai di tengah masyarakat, peristiwa yang berakhir saling bunuh atau saling membinasakan. Jika ditelisik lebih jauh, kejadian tersebut bermula dari cek-cok dan salah paham. Ini menjadi indikasi bahwa lidah memiliki bahaya besar jika tidak dijaga. Berikut beberapa adab terkait dengan urusan lidah atau bercakap.
1. Ucapan Bermanfaat
Dalam kamus seorang Muslim, hanya ada dua pilihan ketika hendak bercakap dengan orang lain. Mengucapkan sesuatu yang baik atau diam. Rasulullah Shallallahu ailihi wassalam (SAW) bersabda, "Barang siapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari pembalasan hendaknya ia berkata yang baik atau memilih diam. (Riwayat al-Bukhari).
2. Bernilai Sedekah
"Setiap tulang itu memiliki kewajiban bersedekah setiap hari. Di antaranya, memberikan boncengan di atas kendaraannya, membantu mengangkatkan barang orang lain ke atas tunggangannya, atau sepotong kalimat yang diucapkan dengan baik dan santun." (Riwayat al-Bukhari).
3. Menjauhi Pembicaraan Sia-Sia
Sebaiknya menghindari pembicaraan berujung kepada kesia-siaan. "Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh jaraknya dariku pada hari kiamat adalah para penceloteh lagi banyak berbicara." (Riwayat at-tirmidzi).
4. Tidak Terperangkap Ghibah
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (al-Hujurat[49]: 12).
5. Stop Mengadu Domba
Hudzaifah Radhiyallahu anhu (RA) meriwayatkan, saya mendengar Rasulullah Shallallahu ailihi wassalam (SAW) bersabda, "Tak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba." (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
6. Stop Berbohong
"Sesungguhnya kejujuran itu mendatangkan kebaikan, dan kebaikan itu akan berujung kepada surga. Dan orang yang senantiasa berbuat jujur niscaya tercatat sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya kebohongan itu mendatangkan kejelekan, dan kejelekan itu hanya berujung pada neraka. Dan orang yang suka berbohong, niscaya tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (Riwayat al-Bukhari).
7. Menghindari Perdebatan
Sedapat mungkin menghindari perdebatan dengan lawan berbicara. Meskipun boleh jadi kita berada di pihak yang benar. Sebab Rasulullah Shallallahu ailihi wassalam (SAW) telah menjamin istana di surga bagi mereka yang mampu menahan diri. "Aku menjamin sebuah istana di halaman surga bagi mereka yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berhak untuk itu." (Riwayat Abu Daud, dishahihkan oleh al-Albani).
8. Tak Memotong Pembicaraan
Suatu hari seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah Shallallahu ailihi wassalam (SAW), ia langsung memotong pembicaraan beliau dan bertanya tentang hari Kiamat. Namun Rasulullah tetap melanjutkan hingga selesai pembicaraannya. Setelah itu baru beliau mencari si penanya tadi. (Riwayat al-Bukhari).
9. Stop Saling Mengolok dan Memanggil dengan Gelar yang Buruk
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Hujurat[49]:11).
10. Pandai Menjaga Rahasia
Tiadalah seorang Muslim menutupi rahasia saudaranya di dunia kecuali Allah menutupi (pula) rahasianya pada hari kiamat. (Riwayat Muslim).

Sumber: disalin dari spanduk di masjid Al-Ikhlas Borobudur.

Read More
      edit

Senin, 16 Maret 2020

Published 18.43.00 by with 0 comment

Cara Menghapus Akun Instagram Secara Permanen

Instagram merupakan media sosial berbagi foto dan video yang tengah digandrungi oleh banyak orang. Selain digunakan untuk personal individu, juga digunakan oleh perusahaan  sebagai media promosi produknya. Namun karena alasan tertentu, seperti privasi dan lain sebagainya, seseorang kemudian ingin menghapus akun instagramnya. Berikut langkah-langkah untuk menghapus akun instagram secara permanen.
1. Buka Akun Instagram Menggunakan Aplikasi Perambah (browser)
Pastikan bahwa kamu membuka akun instagram yang ingin dihapus menggunakan aplikasi perambah (browser), seperti google chrome, modzilla firefox, opera, atau apapun aplikasi perambah yang kamu miliki.
2. Edit Profil
Setelah kamu masuk dengan akun yang ingin kamu hapus, maka selanjutnya adalah masuk ke halaman profil dan klik/tekan "edit profil".
3. Nonaktifkan Sementara Akun Saya
Pada halaman "Edit Profil" cari dan klik/tekan tulisan "Nonaktifkan Sementara Akun Saya".

4. Ubah URL
Setelah menekan tulisan "nonaktifkan sementara akun saya", maka kamu akan diarahkan ke halaman baru. Pada halaman baru ubah tulisan temporary menjadi permanent. Maka halaman URL-nya akan menjadi https://instagram.com/accounts/remove/request/permanent. Setelah itu tekan enter.
5. Konfirmasi
Ketika tulisan temporary diubah menjadi permanent maka akan muncul halaman baru dan kamu tinggal mengisi alasan apa yang membuatmu menghapus akun. Setelah itu klik tulisan "Hapus Akun Saya Secara Permanen". Kalau sudah maka akan muncul pop-up bertuliskan Apakah yakin ingin menghapus akun anda? Kalau memang benar kamu ingin menghapusnya maka tinggal klik Oke.
6. Selesai
Kalau kamu sudah melakukan semua tahap maka akan muncul halaman pemberitahuan bahwa akun kamu sudah dihapus secara permanen. Setelah itu kamu tinggal klik/tekan tulisan Keluar. Semoga bermanfaat. :)

Read More
      edit

Senin, 04 Februari 2019

Published 16.12.00 by with 0 comment

[Wallpaper Dekstop] Doa Nabi Yunus

Gambar 1
Gambar 2
Gambar sudah sesuai dengan ukuran wallpaper dekstop dan boleh diunduh.

Setiap manusia pasti memiliki masalah. Entah itu masalah keluarga, pertemanan, sekolah, kuliah ataupun percintaan. Masalah yang datang bahkan membuat kita merasa gelap dalam melihat dunia. Dalam keramaian merasa sepi, siang hari terasa gelap, sampai pada tahap ingin mengakhiri hidup dengan cara yang dimurkai Allah. 

Masalah pun juga menghampiri nabi dan rasul. Salah satunya adalah yang dihadapi oleh Nabi Yunus as. Yang mana Nabi Yunus as menghadapi masalah dalam tiga kegelapan. Kegelapan pertama adalah kegelapan di dalam perut ikan, kegelapan kedua adalah kegelapan di dalamnya lautan, dan kegelapan ketiga adalah kegelapan pada malam hari.

Kemudian Nabi Yunus berdoa: "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim/aniaya."

Allah mendengar doa Nabi Yunus dan memperkenankan doanya sebagaimana yang terlulis dalam surat Al-Anbiya ayat 88: "Maka Kami kabulkan (doa)nya  dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman."

Doa yang diajarkan Nabi Yunus ini juga boleh diamalkan oleh kita dalam menghadapi setiap permasalahan. Semoga kita selalu diberi kemudahan dalam menyelesaikan segala permasalahan yang datang kepada kita. Aamiin.
Read More
      edit

Kamis, 31 Januari 2019

Published 20.17.00 by with 0 comment

[Puisi] Damba

Damba
Damba

Nikmati saja cakrawalanya.
Mentari pagi menyinari dengan hangatnya,
Mata itu terpejam dengan sendirinya.
Bibir itu melengkung menampakkan senyumnya.
Taukah kau siapa yang ada dalam pikirnya?
Read More
      edit

Rabu, 30 November 2016

Published 13.40.00 by with 0 comment

[Cerpen] Ruang Kelas itu Bernama Perasaan

Ruang Kelas itu Bernama Perasaan
Aku duduk di sebuah bangku di suatu ruang kelas tempatku meraih masa depan. Mencoba memejamkan mata dan menghela nafas panjang. Setelah lelah ini menghilang, aku buka kedua mataku perlahan. Aku melihat sesuatu yang membuatku betah berlama-lama di tempat ini. Duduk di bangku ini. Tidak ada sesuatu yang lebih indah daripada melihat ciptaan-Nya. Ciptaan-Nya itu adalah dirimu. Sinar bola matamu yang menghangatkan, senyum merekah bibirmu yang manis, parasmu yang menenangkan dan perangaimu yang santun. Semua itu memenuhi hari-hariku di bangku ini. Bangku yang sama yang selalu aku singgahi.

Inginku untuk duduk berdua disisihmu dan bercanda gurau sampai raga ini tak lagi bernyawa. Berdua bersama. Saling membantu dan saling melengkapi. Duduk di dua bangku yang berbeda namun berada di meja yang sama. Hidup di dua peran yang berbeda namun berada di kehidupan yang sama. Kehidupan itu adalah keluarga. Aku yang akan duduk di kursi suami dan kau yang akan duduk di kursi isteri. Mungkin suatu saat kita akan duduk di bangku yang sama bersama. Atau mungkin kita akan saling bertukar bangku untuk sementara waktu.

Namun semua itu hanya sebuah kenyataan dalam khayalan. Ketika aku melihat dirimu lebih luas lagi. Ternyata dirimu sudah duduk bersama laki-laki lain. Laki-laki yang selama ini kau impikan. Seorang pendamping yang kau dambakan. Apalah dayaku yang hanya bisa melihatmu bermesraan dengan dirinya. Dihadapanku secara langsung dalam keseharianku duduk di bangku ini. Tak ada arah pandangan lain selain menatap kedepan. Setiap aku mencoba fokus untuk memandang kedepan untuk meraih masa depan, bayangmu dan bayangnya selalu nampak jelas di kedua bola mata. Aku hanya bisa memendam dan terus bertahan, mengeluarkan ekspresi datar tak berperasaan, karena itu yang bisa membuat ruang kelas ini terasa nyaman.

Aku berharap ada seseorang yang menemani duduk disampingku. Tidak membuka percakapan tapi saling menemani. Tidak membuka obrolan tapi saling mengerti. Sampai akhirnya menetertawakan apa yang aku dan orang itu lihat bersama. Tapi aku sadar, aku pengharap yang tidak tahu diri. Mana mungkin aku menjadikan orang lain sebagai pelampiasan, menjadikan orang lain hanya penghibur semata, aku harus bisa melakukannya sendiri.

Suatu ketika dalamku meraih masa depan, aku melihat sebuah pertengkaran. Pertengkaran antara dirimu dengan laki-laki impianmu. Sampai akhirnya laki-laki itu pergi meninggalkan dirimu sendiri. Kamu hanya duduk terdiam meratapi apa yang telah terjadi. Menangis tiada henti membuat ruang kelas ini begitu asing. Inginku untuk menemani dan menghiburmu, tapi apa daya hanya doa yang menghampiri. Aku memang bukan laki-laki yang berani mengungkapkan kata-kata seperti laki-laki yang ada di dalam hatimu.

Hari demi hari terlalui, bulan pun berganti, tahun yang sama pun tak lagi menemani. Sepertinya dirimu sudah terbiasa dengan kepergiaannya. Walaupun masih kutemui sajak-sajak rindumu kepada dirinya. Aku hanya manusia biasa yang juga bisa merasakan apa itu rasa cemburu. Tapi aku sadar bahwa aku tidak berhak mempunyai rasa itu. Sampai pada akhirnya aku memberanikan untuk memberimu sajak kasih yang selama ini aku simpan dalam. Walaupun pada kenyataannya sajak itu hanya aku taruh pada kolong mejamu.

Aku hanyalah seorang laki-laki yang duduk di kursi belalakang memandang ke depan. Berharap diperhatikan namun digusurkan. Laki-laki tanpa ekspresi yang ingin mengungkapkan isi hati. Surat itu tak kunjung kau baca, mungkin karena tertutupi oleh sajak-sajakmu kepada laki-laki impianmu yang kau simpan di tempat yang sama. Namun akhirnya kau menemukannya. Aku melihatnya saat kau membaca sajak-sajakku untukmu. Kamu tersenyum manis dan akhirnya kamu tahu bahwa sajak itu dariku. Raut wajahmu berubah tidak tahu harus berkata apa. Tapi dirimu memang wanita yang baik, kau datang kepadaku dan mengatakan ucapan terima kasih.

Banyak hal yang kau katakan tapi aku tidak paham. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin kau katakan. Tidak ada kata maju atau mundur. Aku hanya berkesimpulan untuk tidak bergerak maju atau mundur. Hanya berdiam diri ditempat yang sama, menunggu sepanjang waktu. Tapi ada sesuatu yang berubah. Aku masih disini duduk di bangku yang sama tapi dirimu sekarang semakin menjauh. Dirimu yang kini terhalang tembok-tembok penghalang yang kau ciptakan. Aku tidak tahu apa maksutmu, tapi aku tetap bertahan disini. Ditempat yang sama, seperti dulu.

Sampai akhirnya aku coba berjalan ke arahmu dan kamu mengatakan kepadaku untuk mundur. Mungkinkah ini jawaban darimu yang selama ini aku tunggu? Sesuatu pernyataan yang aku tunggu walaupun memang bukan suatu hal yang aku ingin dan aku dengar darimu. Tapi aku sadar aku tidak bisa hidup dengan wanita yang tidak mempunyai rasa yang sama. Aku tidak bisa hidup dengan wanita yang duduk disisihku tapi tak mengharapkan keberadaanku.

Lemas tubuh ini seketika. Kaki yang selama ini menopang kuat runtuh bagai tak bertulang. Langkah kaki ini terasa berat. Tidak tahu lagi harus melangkah kemana. Paras cantikmu yang tidak bisa membunuhku itu kini membuatku merasa mati. Perangai santunmu yang tidak bisa menghancurkanku itu kini membuatku lebur. Aku hanya duduk melamun terdiam. Memandang kosong tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Pernah aku berpikir sifatmu yang mudah bergaul sedangkan aku yang pendiam ini bisa membuat kita hidup bersama dengan saling melengkapi dan mengisi. Pernah aku berpikir bahwa kesukaan dan cara pandang hidup kita yang sama akan membuat kita hidup bersama dengan arah tujuan yang tak berbeda. Pernah aku berpikir kehadiranmu yang selalu ada dalam kelompok dan tempat yang sama denganku adalah rencana Tuhan untuk menyatukan kita. Tapi aku lupa bahwa rencana Tuhan lebih luas daripada apa yang aku bayangkan. Kita memang selalu berada dalam kelompok dan tempat yang sama, tapi tidak dalam perasaan yang sama.

Waktu berlalu dan pada akhirnya kamu pergi dari ruangan kelas ini. Setiap langkah yang kau tapakan bisa aku lihat dengan jelas. Semuanya bergerak dengan perlahan. Mata ini begitu mudah menangkapnya tapi berat langkah kaki ini untuk bergerak. Sampai pada akhirnya bayangmu kini manjauh dan tak terlihat sama sekali. Semuanya pergi. Tinggal aku seorang diri dalam ruangan kelas yang kosong ini.

Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku harus melanjutkan hidup dan meraih apa yang aku impikan saat pertama kali melangkahkan kaki di ruang kelas ini. Aku berharap ada seseorang yang mengulurkan tangan ke arahku, menarikku keluar dari ruang kelas ini, kemudian berlari menjauh. Tapi seseorang seperti itu tidak ada. Aku sadar hanya aku sendiri yang bisa membuat diriku bergerak keluar dari ruang kelas ini.

Aku paksakan kaki ini untuk bergerak, melangkah di kehidupan baru keluar dari ruangan ini. Sampai pada akhirnya aku berada di antara lorong dan ruangan yang selama ini aku singgahi. Aku melihat lorong itu begitu panjang dan begitu gelap. Sesekali aku melihat ke dalam ruangan. Ruangan yang masih terang karena sinar buatan. Terbayang masa-masa indah dan kelam yang ada di dalamnya. Tapi semakin aku ingat hati ini terasa begitu sakit.

Kini tekad sudah aku bulatkan untuk melangkahkan kaki keluar dari ruang kelas ini. Setiap langkah aku tempuh dengan berjuangan yang besar melewati lorong gelap. Walaupun aku tidak tahu apa yang ada diluar sana dan betapa gelapnya lorong ini, tapi aku tidak mau kembali ke dalam ruang itu dan hidup seorang diri. Aku bersumpah tidak akan kembali ke ruang kelas itu dan kembali ke masa-masa yang sama. Ruangan kelas itu kini kosong. Ruang kelas itu bernama perasaan.
Read More
      edit
Published 13.32.00 by with 0 comment

[Cerpen] Kata-Katamu di Malam Itu

Kata-Katamu di Malam Itu
Kulangkahkan kaki tak beralas ini menjauh dari bara api yang menyatukan malam dengan segerombolan orang yang merindukan kebebasan. Menjauh dari keramaian canda khas anak muda yang tak kenal kata padam. Melangkah menyusuri malam beratapkan manisnya rembulan. Mengumpulkan peninggalan-peninggalan wisatawan yang tidak tahu kata penghormatan. Para wisatawan yang lupa dengan perasaan lingkungan. Sudah kau masuki kehidupanku tanpa permisi dan setelah itu kau kotori aku kemudian pergi begitu saja, mungkin itu yang akan dikatakannya pikir candaku dalam hati.

Berat langkah ini karena pelukan sang pasir, aku putuskan untuk duduk sebentar. Mendekap kedua kaki ditemani tumpukan ranting kering dan sekantong penuh peninggalan sang wisatawan. Aku tengok pemandangan yang berada di kiriku, melihat orang-orang yang sudah lama aku kenal. Orang-orang yang sama-sama berjuang dalam perantauan untuk mendapatkan sebuah gelar bernama anak kuliahan. Terima kasih Tuhan telah memasukan mereka ke dalam hidupku. Terlebih lagi ada dirimu disitu. Melihatmu menutup mulut saat tertawa, melihatmu yang terampil membantu teman-teman lain membuat hidangan malam, waktu seakan berhenti sesaat. Semua bergerak dengan lambat.

Mereka melambaikan tangan dan berteriak kepadaku, menyuruh diriku untuk segera bergabung menikmati santap malam. Aku hanya menjawab dengan isyarat tangan. Tanda untuk menunggu sebentar dan mempersilahkan mereka menyantap hidangan malam duluan. Aku masih betah menikmati kesunyian ini. Aku putuskan untuk merebahkan tubuhku di hamparan pasir, melihat betapa cantiknya bulan malam ini. Ditemani suara desiran ombak yang menenangkan, aku pejamkan kedua mataku. Aku taruh kedua telapak tangan menjadi bantal alas kepala. Sedikit bergerak menyesuaikan raga ini dengan kasur alam yang sangat luas. Ku rasakan hembusan angin yang menyegarkan mengenai seluruh tubuhku. Aku satukan tubuh dan raga ini denga alam, seolah beban hidup hilang seketika.

Perut ini sudah mulai mengadu, inginku segera beranjak dan menikmati hidangan malam. Kubuka mataku perlahan. Kulihat bayang-bayang yang sepertinya aku kenal. Bayang-bayang yang membuat hati ini merasa tenang, membuat diriku ini ingin tetap singgah berlama-lama. Ternyata dirimu, bidadari sang rembulan. Duduk disebelah kiriku menghadap lautan. Menikmati hembusan angin yang mengenai paras cantikmu. Belum mulut ini terbuka tapi dirimu sudah memulai pembicaraan.

"Sudah bangun?" katamu sambil tersenyum, manis sekali. Aku pun membenarkan posisiku duduk menghadap lautan sama sepertinya. "Kok disini?" kataku penasaran. Dia tersenyum lagi dan menjawab dengan menggemaskan. "Iiih... gak dijawab palah nanya balik."

"Kan bisa dilihat sendiri, lagian aku gak tidur kok, cuma tiduran aja." Jawabku.

"Iya aku tahu, masak tidur senyum-senyum." Celotehnya kesal. Aku tersenyum, ternyata dia sedari tadi memperhatikanku, pikirku.

"Jadi daritadi memperhatikan aku nih?" candaku.

"Enggak kok, tadi aku  kesini mau bilang buruan makan tapi kamunya lagi tidur gak enak ganggu. Yaudah aku temenin kamunya."

"Cie perhatian banget sih tapi makasih mau nemenin," kataku, "gak ada yang marah nanti?"

"Gak ada, kamu kan tau sendiri. Eh iya kenapa eh gak nyari pacar? Biar status jomblo akutmu segera hilang dari peredaran." Dia tertawa lepas.

"Gapapa... lagian mana ada yang mau sama cowok yang gak dewasa dan kekanak-kanakan seperti aku ini." Candaku.

"Ada kok..."

Aku tersenyum dan menganggap perkataannya sebagai angin lalu. Aku tidak mau gede rasa dengan apa yang dikatakannya barusan. "Masa sih?" tanyaku bercanda.

"Masak gak percaya," katanya,"memang gak dewasa seperti apa yang kamu maksud?".

"Ya sifat kekanak-kanakanku ini, yang suka banget hujan-hujanan, tidur sembarangan seperti yang kamu lihat barusan dan ngelakuin apapun sesukanya."

"Kamu memang seperti itu, tidak ada yang salah dari apa yang kamu lakukan, bukankah itu bagian dari menikmati hidup?"

"Iya sih.." timpalku.

"Gini yaa...." dia berkata dengan lembut, "waktu kamu melakukan semua hal yang kamu sebut kekanak-kanakan tadi apa ada yang dirugikan?"

Aku hanya terdiam. Dia melanjutkan lagi. "Mungkin sebagian orang akan mengatakan kamu tidak dewasa tapi percayalah ada orang yang tetap mencintaimu dan menyayangimu dengan caramu. Tidak perlu kamu berubah menjadi orang lain. Dewasa memang banyak bentuknya. Kamu tau banyak dari mereka yang mengatakan bahwa seseorang itu dewasa tapi tidak memikirkan masa depannya. Sebagian dari mereka acuh dengan lingkungan sekitar dan tidak memiliki rencana untuk menjalani hidup. Sebagian dari mereka acuh dengan apa yang mereka kerjakan. Merokok di sembarang tempat misalnya. Mereka yang tidak dewasa dalam merawat kesehatan mereka. Bahkan aku begitu jengkel dengan para perokok yang tidak tahu tempat. Aku tidak melarang mereka merokok tapi sadarilah bahwa orang lain juga berhak untuk menikmati udara bebas dari asap rokok. Gak cuma itu tp masih banyak lagi.".

Aku terdiam melihat ke arahnya, tak mau melawan argumen-argumennya.

"Gak cuma itu!" dia berkata dengan sangat antusias melanjutkan argumennya. "Kau tahu banyak dari orang tua dan dosen juga tidak dewasa dalam bersosial media. Harusnya kan mereka bisa mengendalikan diri. Mungkin di kehidupan nyata mereka terlihat dewasa tapi di sosial media mereka berbeda. Bukankah harusnya mereka menjadi contoh?"

"Mungkin mereka kaget dengan teknologi yang baru mereka temui." Kataku bercanda. Kami berdua tertawa lepas.

"Kamu benar, mungkin mereka kaget dan lupa esensinya media sosial dengan bagaimana menggunakan media sosial dengan baik dan benar."

"Halah... kamu dulu juga paling alay," timpalku.

"Hehe... benar juga sih. Hmm... ternyata benar ya kalo dewasa itu memang sebuah proses bukan suatu paksaan."

Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Untuk beberapa waktu kami hanya berdiam menikmati suasana malam itu. Merasakan angin yang berhembus pelan, mendengarkan desiran ombak yang menentramkan dan kehangatan percakapan dalam diam.

"Udah malam kamu makan ya. Nanti aku buatkan minuman kesukaanmu. Cokelat hangat kan?"

Untuk beberapa saat aku terdiam tidak percaya dengan apa yang dikatakan barusan. Apa mungkin barusan hanya imajinasiku saja tanyaku dalam hati. Aku masih terdiam memasang muka bertanya-tanya melihat ke arah wajahnya.

"Hey... dijawab dong," katanya dengan nada sedikit kesal tapi senyum di bibirnya tetap masih menghiasi. Aku pun mengangguk tanda setuju.

"Yaudah aku kesana dulu, aku panasin airnya dulu, dan... gak usah mikirin soal hal kedewasaan tadi. Tetaplah menjadi dirimu sendiri, jangan menjadi orang lain. Bukankah kamu ingin mencintai dan dicintai sesesorang dengan utuh tak bertopeng? Saling mengerti dan memahami? Pasti ada seseorang yang bisa mengerti dan saling mengerti dengan duniamu yang unik itu." Dia tersenyum dengan manis. "Pasti ada...." Dia melanjutkan.

Aku tersenyum dan terdiam melihat ke arahnya berlalu pergi. Terpikirkan oleh setiap kata-katanya. Mungkinkah dia? Ah aku tak mau berpikir sejauh itu.
Read More
      edit
Published 13.30.00 by with 0 comment

[Puisi] Jomblo Pemberani

Jomblo Pemberani
Jomblo Pemberani

Malam ini malam yang seru,
tak seperti malam-malam di masa lalu.
Meskipun masih saja merindu,
tapi itu tak masalah buatku.

Malam ini aku sedang uji nyali,
diribuan pasang muda-mudi.
Hanya berteman alat fotografi,
aku berani.

Bukan karena aku belagu,
bukan juga karena aku tak punya rasa malu.
Hanya saja,
jomblo juga berhak merasakan malam minggu.


Read More
      edit
Published 13.27.00 by with 0 comment

[Puisi] Sajak Untuk Bumi

Sajak untuk Bumi
Sajak untuk Bumi

Bahkan panas ini sunggu luar biasa.
Tapi tak tahu juga apa yang akan terjadi nanti.
Cuaca kini cepat berubah.
Beberapa menit lagi mungkin akan hujan deras seperti yang sudah-sudah.
Tapi hari ini panas, detik ini sangat panas.
Sungguh.

Cuaca tak menentu seperti ini mulai terjadi ketika aku beranjak dewasa.
Aku rasa masa kanak-kanak dulu aku tak merasakannya.
Lalu bagaimana yang akan terjadi nanti?
Saat aku menua dan tiada?
Aku tak tahu.
Tapi aku rasa waktu berlalu makhluk tak ada yang menjadi muda.
Semua menua.

Lalu bumi, apakah kau sudah menua?
Apakah kau tak kuat lagi dengan kami, manusia?
Apakah kau sudah muak dengan tingkah kami yang merusak?
Tapi sadarilah, kami semua tak sama.
Read More
      edit
Published 13.22.00 by with 0 comment

[Cerpen] Sajak Terakhir

Sajak Terakhir
Aku selalu tersipu.
Aku selalu menunggu.
Aku selalu merindu.
Merindu, menunggu, tersipu kehadiran wanita itu.
Wanita itu kamu, sayangku.
Kamu yang sekarang membaca sajakku.
Maukah kau jadi pendampingku?
Dalam setiap sedih dan bahagiaku.
Aku harap begitu.
Apa yang aku tuliskan ini bukan bukti cintaku padamu.
Karena perlu seumur hidupku untuk membuktikan cintaku padamu.
Dariku, laki-laki yang ada di depanmu.

Wanita di depan itu berdiri. Sebelum dia akhirnya berlalu pergi, dia berkata dengan lembut : "Itu surat darinya. Laki-laki yang sama yang dulu menunggumu di kampus biru. Kalau kamu bertanya kenapa sekarang aku yang ada di depanmu, baris kesebelas dari surat itu adalah jawaban untukmu. Karena kini kau tak bisa lagi melihat kehadiran laki-laki itu."
Read More
      edit

Selasa, 15 November 2016

Published 22.40.00 by with 0 comment

[Puisi] Selalu Terlambat

Selalu Terlambat
Kini mimpiku untuk memperjuangkanmu hanya sebuah isapan.
Ketika kau berdua, aku menunggumu dengan tenang dan sabar.
Sampai akhirnya dirimu sendiri.

Mungkin ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untukku.
Untuk mengejar dirimu, lagi.

Aku memang selalu memendam rasa kepadamu.
Walaupun terkadang aku menjauh darimu.
Aku hanya ingin memastikan rasa kasih ini.
Untuk meyakini  rasa ini datang dari Ilahi.
Bukan dari birahi
Dan ketika aku menyadari.

Kenapa aku selalu terlambat.

Aku sadar.
Kini hatimu telah menjadi milik laki-laki lain.
Lagi.
Seorang laki-laki yang ada di dekatmu.
Seorang laki-laki yang telah lama mengenalmu.

Mungkin karena kesalahanku yang terlalu menjaga jarak.
Mungkin karena kesalahanku yang tak selalu mendekat.
Mungkin juga karena kesalahanku yang tak segera beranjak menembak.

Selamat.
Kini kau berbahagia dengan kenalanku,
lagi.
Read More
      edit

Senin, 07 November 2016

Published 04.34.00 by with 0 comment

[Prosa] Kembali

Kembali
Bayangmu kini kembali. Bahkan dirimu menunggu dan menanti. Tak hanya dirimu sendiri, tapi bersama sekumpulan manusia yang sepertinya banyak aku ketahui dalam ingatan dan hati. Kau meraih tanganku dan mengajakku menyusuri alam asing ini. Suara yang khas darimu yang ku rindu itu kini menghiasi.

Kau banyak sekali berkata. Namun inilah yang ingin kurasa. Senyum di bibir ini kembali. Bahkan tawa karenamu sering menghiasi. Kini aku di dekatmu lagi.

Tidak!

Kini aku bersamu. Lagi.

Alam penuh ilalang tinggi sudah tak lagi kutemui. Genangan rawa yang kita lompati tadi sudah berlalu pergi. Kau membawa ku ke sebuah taman bermain namun tak berwahana. Sepi. Itu kesan pertama yang aku rasakan dari tempat baru ini. Seperti sebuah lahan luas yang tak pernah dikunjungi lagi.

Aku kini sadar, sekumpulan manusia yang aku lihat pertama kali bersamamu tadi hilang seperti di telan bumi. Namun kita bukanlah manusia yang tersisa di tempat ini. Aku masih melihat beberapa manusia sebaya yang saling berbicara dan terkadang menyapa. Walaupun aku tak merasa ada hawa keberadaan manusia di dalam diri mereka.

Jalan setapak dengan sungai kecil keruh di sampingnya  dan beberapa bangunan seperti ruangan kelas itu kita lalui. Kau memegang erat tanganku. Kau masih bersamaku.

Kini kau mengajakku untuk menjemput orang tuamu yang telah pulang dari tanah suci. Begitu kagetnya aku melihat waktu. Pukul dua. Aku ingin bersujud kepada-Nya dan mengajakmu. Namun kau terus memaksa. Perdebatan tak bisa kita hindari. Aku berpikir tak akan ada waktu bagiku kalau aku ikut bersamamu. Bayangan masalah dari masa lalu pun kembali.

Sampai akhirnya kau berlalu pergi. Lagi. Aku tak bermasalah dengan perpisahan. Tapi aku tak menyangka kita akan berpisah untuk kedua kali dengan cara seperti ini.

Aku marah kau lebih memilih menjemput orang tuamu daripada aku yang akan bersujud kepada-Nya. Tak bisakah kau menungguku sebentar? Hanya sedikit saja? Akupun meninggalkan tempat dimana kau meninggalkanku. Masih menyusuri jalan setapak dengan sungai keruh disampingnya. Masih menyusuri tempat yang tak terkena cahaya matahari karena pohon bambu yang begitu tinggi. Ngeri. Seperti ada yang membuntuti.

Kulangkahkan kaki ke tempat air suci. Aku lihat beberapa wanita berkerudung berpapasan dan berlalu pergi. Dua atau tiga aku rasa. Kosong. Aku tak merasakan hawa manusia dalam tubuh itu. Kenapa setiap manusia yang aku temui disini seperti boneka bertali. Entah siapa yang menggerakan di balik semua ini.

Ketika aku ingin menunduk dan menuangkan air suci, aku melihat semua yang ada di sekelilingku. Sepi. Aku sendiri. Namun seperti ada hawa yang ingin mendekati.

Semua yang aku lihat kini berubah menjadi putih.

Sunyi.

Sepi.

Putih.

Kosong.

Hitam.

Cahaya kini perlahan aku temui. Sedikit namun pasti. Cahaya ini sepertinya aku kenali. Warna putih ini juga sepertinya aku ketahui. Ku lihat semua bagian tubuh ini. Mereka semua masih dalam posisi. Perlahan tubuh ini aku gerakan. Melihat kedua telapat tangan. Masih sama, seperti yang sebelumnya aku punya.

Sepertinya aku baru saja kembali dari alam mimpi.
Read More
      edit

Selasa, 25 Oktober 2016

Published 07.34.00 by with 0 comment

[Cerpen] Diam

Diam
Siang itu di sebuah halaman rumah yang cukup luas dan aman terlihat dua bocah laki-laki sedang berlari dan bermain bersama. Lima atau enam tahun usia mereka sepertinya. Menikmati masa anak-anak yang penuh canda tawa. Tidak ada raut sedih yang nampak di wajah mereka. Hanya ada senyum dan tawa menggantung di bibir kedua bocah itu.

Dilihatnya sebuah putung rokok tergeletak di tanah dari seorang serdadu yang baru saja membuangnya. Sebatang rokok yang sebelumnya menemani sang serdadu duduk menunggu seorang penjahit menyelesaikan pesanannya.

Sebuah bangunan dari kayu dan bambu yang cukup tua itu  menjadi ladang untuk mencari rejeki bagi penjahit yang sudah tak muda lagi. Ditemani kursi panjang dari kayu untuk duduk pelanggan, si penjahit sudah bisa membuka lapaknya di kesehariannya.

Bangunan tua si pejahit dan rumah yang memiliki halaman cukup luas untuk bermain dua bocah tadi terletak bersisian. 

“Eh, rokok-rokok!” dengan penuh kegirangan salah satu bocah itu berkata kepada bocah lainnya. Rasa penasaran pun muncul dalam benak mereka berdua. Diambilnya putung rokok itu dan perlahan-lahan mendekat ke bibir yang masih perjaka.

“Manis! Enak-enak!” teriak salah satu bocah.

“Sini-sini, aku juga pengen coba.”

“Nih!” bocah itu memberikan rokok yg dianggap sudah menjadi miliknya ke bocah satunya. Sebatang rokok itu kini dinikmati kedua mulut bocah itu. Bergilir dari satu mulut ke mulut lainnya.

Sang serdadu tertawa melihat pemandangan yang sedang dilihatnya. Dengan lucunya dia memamerkan kepada si penjahit. Si penjahit tersenyum sekedar membalas pernyataan dari sang serdadu. Tapi tetap diam menghiraukan. Kedua bocah itu menghiraukan mereka para orang tua yang sedang tertawa, sang serdadu dan si penjahit. Walaupun masih nampak rasa malu-malu dalam raut wajah kedua bocah itu.


Read More
      edit

Minggu, 16 Oktober 2016

Published 22.28.00 by with 0 comment

Analogi Hati dan Lidah

Analogi Hati dan Lidah
Hati (perasaan-red) dan lidah tak ubahnya pinang dibelah dua. Kedua hal tersebut sama-sama bisa menilai suatu objek tertentu. Menilai dengan predikat baik dan buruk, benar dan salah, kemudian memilih dan memilah mana yang sesuai atau tidak sesuai menurut setiap individu pemilik hati (perasaan-red) dan lidah.

Banyak indikator seseorang dalam menilai suatu hal yang kemudian menimbulkan banyak penilaian yang berbeda dari setiap individu pemilik hati dan lidah. Entah itu negara, suku, ras, agama, budaya, pengalaman, ilmu, belajar dan lain sebagainya. Namun, dari semua indikator itu sejatinya terbagi menjadi dua latar belakang. Yaitu latar belakang asal dan latar belakang proses. Dua latar belakang inilah yang nantinya membangun sebuah penilaian.

Latar belakang asal adalah suatu keterangan yang menjelaskan keadaan awal. Dalam konteks ini adalah keadawaan awal individu pemilik hati (perasaan-red) dan lidah. Sedangkan latar belakang proses adalah keadaan dimana individu pemilik hati (perasaan-red) dan lidah sudah mengalami kontak dengan indikator-indikator di luar latar belakang asalnya.

Kita ambil contoh dalam latar belakang asal yaitu sebuah indikator kelahiran. Individu yang lahir di suatu negara di Eropa dan di Indonesia akan memiliki perspektif sendiri dalam menilai suatu objek atau kejadian tertentu.

Orang Indonesia yang terlahir di sebuah wilayah yang kaya akan emas hijau yaitu rempah-rempah kebanyakan akan menyukai masakan dengan cita rasa yang kaya. Percampuran dari satu bumbu dengan bumbu lainnya. Atau cotoh lainnya adalah rasa pedas. Berbeda dengan individu yang terlahir di suatu negara di Eropa kebanyakan dari mereka tidak menyukai rasa pedas. Contoh lainnnya adalah penilaian tentang buah durian. Yang mana di Indonesia terkenal dengan sebutan rajanya buah. Kebanyakan orang Indonesia menyukai rasa dan tekstur dari buah durian sedangkan hal tersebut berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh kebanyakan orang yang terlahir dan besar di salah satu negara di Eropa.

Begitupun penilaian yang menggunakan hati (perasaan-red). Salah satu objeknya adalah yang berkaitan dengan budaya dan adat istiadat. Kita ambil contoh sebuah kejadian dimana seorang istri mencium tangan suami. Menurut penilaian orang Indonesia itu merupakan suatu yang wajar. Bentuk cinta dan kasih sayang dari seorang istri kepada suami, pun sebaliknya. Namun bisa berbeda menurut pandangan individu yang terlahir di salah satu negara Eropa. Hal tersebut akan dinilai sebuah hal buruk. Dimana menurut individu tersebut hal seperti itu dianggap sebagai ketidak setaraan gender. Tak jarang itu akan menimbulkan culture shock. Walaupun tidak semuanya seperti itu.

Kemudian dalam latar belakang proses adalah ketika individu tersebut sudah mengalami asimilasi. Sebuah pertemuan dan penyesuaian dengan cara berpikir, pola berpikir dan indikator-indikator yang berbeda-beda. Itulah yang disebut sebagai pengalaman dan proses belajar. Yang akan menimbulkan suatu penilaian yang baru.

Setiap individu manusia yang memiliki hati (perasaan-red) dan lidah memiliki penilaian tersendiri dalam menilai suatu objek atau kejadian tertentu. Kalau seperti itu maka individu atau kelompok satu tidak perlu memaksakan kebenaran menurut pandangannya kepada individu atau kelompok yang lain. Lalu kalau kebenaran dalam kehidupan itu berlandaskan persepsi dari setiap individu, maka kebenaran yang memang benar-benar benar itu yang seperti apa? Mungkin kita perlu bertanya dengan sesuatu hal yang menciptakan kehidupan itu sendiri.


Read More
      edit

Jumat, 07 Oktober 2016

Published 22.49.00 by with 0 comment

[Cerpen] Iya, Aku Sayang Kamu.

Iya, Aku Sayang Kamu.
"Iya aku suka kamu, aku cinta kamu dan tentu saja aku sayang kamu".

Suasana sunyi tanpa kata di antara mereka berdua kini berubah menjadi tanda tanya bagi Gita. Jemari tangannya yang lentik itu berhenti memainkan tangkai cangkir yang penuh dengan kopi latte, dan kini memandang ke arah laki-laki yang duduk di depannya. Memandang penuh tanda tanya.

Sebelum mulutnya mulai terbuka Masastra melanjutkan kata-kata jujur dari hatinya. Namun kini mereka saling menatap dalam satu frekuensi yang sama.

"Dan aku masih ingin bebas dan membebaskanmu. Aku tidak mau ada sesuatu hal yang mengikat untuk sekarang. Entah kenapa aku merasa ada yang menahan jika kita memiliki hubungan yang lebih dari seorang teman untuk saat ini. Bukan apa-apa, aku hanya selalu percaya dengan perasaanku sendiri. Karena aku merasa tidak nyaman berhubungan seperti anak muda jaman sekarang. Ah entah, walaupun kita juga masih muda namun sudah tak remaja".

Masastra berhenti berbicara, merasa bingung dengan apa yang harus dikatakan. "Sastraa...," Gita memanggil Masastra dengan membuka lebar mulutnya di akhir kata. Spontan Masastra membalasnya, "Gitaa...." tak kalah dengan apa yang dilakukan Gita saat mengatakan namanya.

Gita tertawa melihat kelakuan laki-laki yang ada di depannya. Tawanya begitu menghipnotis Masastra. Keceriaan yang ada pada Gita memang selalu membuat Masastra merasakan sesuatu hal yang bisa membuatnya nyaman. Gita dan Latte memang suatu hal yang sama pikir Masastra. Menyembuhkan.

"Dan ini bukan suatu ikatan yang mengikat, jika pada suatu saat nanti kamu tertarik dengan laki-laki lain. Itu tak jadi masalah buatku." Masastra melanjutkan. Gita tersenyum dan melihat mata Masastra dengan penuh perhatian.

Kamu ih, dasarr..., harusnya kan kamu tanya dulu perasaanku bagaimana, bukannya langsung tiba-tiba membuka pembicaraan dengan bilang iya aku sayang kamu. Batin Gita. "Memangnya bener gak masalah kalau aku sama laki-laki lain?"

"Hemm," Masastra hanya bergumam dan sedikit menganggukkan kepalanya. Masastra mengalihkan pandangannya melihat lalu lalang jalan. Melihat tetesan-tetesan air dibalik kaca cafe yang mereka temui di kala hujan.

Suasana kembali hening, tapi mereka berdua tidak merasa sunyi.

Gita tahu kenapa Masastra bersikap seperti itu. Tanpa cerita dari Masastra sendiri, Gita sudah tahu masa lalu laki-laki yang ada di hadapannya. Yang dengan lucunya bilang kalau dia mencintainya dan merelakannya dengan laki-laki lain. Tak hanya mengerti, Gita menerima masa lalu itu.

Masastra masih terdiam memperhatikan lalu lalang di balik kaca. Terkadang memperhatikan Gita yang menatapnya dan melemparkan senyumnya. Mencoba menggaruk kulit di bawah kelopak mata, sekedar mengalihkan salah tingkahnya. Masastra bahagia.

Iya, aku suka kamu, aku cinta kamu dan tentu saja aku sayang kamu juga Masastra. Gita tersenyum membayangkan kata-kata barusan yang urung dia katakan.

"Sastra...."

"Iya sayang, eh Gita" Canda Masastra.

"Besok ketemu orang tua ku yuk?"

Hujan kini reda, matahari mulai menyinari. Seperti kedua hati mereka yang saling mengerti dan memahami.

Read More
      edit

Senin, 19 September 2016

Published 14.41.00 by with 0 comment

R.I.P. ENGLISH

R.I.P ENGLISH
Yo! watsap pipel of the internet...
*familiar?

Beberapa dari kita akan menjawab atau berkomentar "What's up too bro", "nothing much" atau sesuatu yang bisa menjawab pertanyaan itu. Beberapa dari kita juga mungkin akan berkomentar "ngomong apaan sih ini orang", ada juga yang baik hati meluruskan "eh itu salah ngomongnya (re: nulisnya)" atau berkomentar dengan nyinyir "eh jangan sok inggris deh, gak bisa bahasa inggris jangan sok inggris, tulisan loe salah LOL! " dan sampai akhirnya kebagian pem-bully-an.

Walaupun tidak semua yang berkata nyinyir bermaksud menghina, karena memang cara dia dalam mengkritik seseorang yang berbeda. Tapi alangkah baiknya mengkritik seseorang dengan bahasa yang santun—supaya tidak jatuh dalam konteks hujatan. Ataupun berkomentar dengan menukil kata-kata yang ada di poin ketiga Soempah Pemoeda yang sangat saya hormati itu, yaitu KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA kemudian menyuruh kita untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Walaupun tidak memungkinkan juga untuk menggunakan bahasa baku dalam kehidupan kita sehari-hari. Sampai S-P-O-K harus tersusun dengan benar dan jelas. Kalau anda bisa dan tidak mengganggu lawan bicara anda ya silahkan saja.

Akan tetapi penggunakan bahasa baku memang sangat penting digunakan dalam forum-forum resmi atau kepenulisan karangan ilmiah dan sebagainya yang harus menggunakan bahasa baku. Tidak mungkin juga kan kita menggunakan bahasa alay, slang dan lainnya dalam menulis skripsi misal. Bisa-bisa tidak lekas sidang nantinya. Kesalahan penggunakan bahasa Inggris tadi juga bisa mendapatkan komentar cukup dengan R.I.P. ENGLISH.

Hal di atas sering kita jumpai dalam keseharian kita. Entah itu di dunia nyata maupun dunia maya. Setidaknya ada lima hal yang membuat seseorang diberi komentar R.I.P English , yaitu:

1. Memcampurkan dua bahasa atau lebih dalam berkomunikasi

Yaitu ketika kita berkomunikasi secara tulisan atau lisan dengan seseorang dimana lawan bicara kita menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing. Terlebih lagi bahasa Inggris. Karena sejujurnya tidak hanya bahasa Inggris saja yang sering kita jumpai dalam komunikasi kita dengan bercampur aduk—seperti gado-gado. Beberapa bahasa asing lain yang sering membubui komunikasi dalam pergaulan kita adalah bahasa Jepang, Korea dan Arab.

Saya sendiri tidak begitu bermasalah dengan mereka yang berkomunikasi dengan saya entah itu lewat lisan atau tulisan dengan mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Karena saya sedikit banyak paham dengan yang mereka ingin komunikasikan. Berbeda dengan bahasa Jepang, Korea, Arab atau bahasa lainnya. Karena bahasa tersebut sangat sedikit kosakata yang saya bisa mengerti.

Alangkah baiknya jika kita berkomunikasi dengan seseorang yang tidak mengerti bahasa Inggris sama sekali, kita perlu  untuk menghormatinya dengan berbicara bahasa Indonesia saja—toh anda bisa bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. 

2. Kesalahan dalam penggunakan bahasa Inggris

Kesalahan dalam penggunakan bahasa Inggris ini sering kita temui dalam bentuk tulisan maupun lisan. Entah itu dalam bentuk kesengajaan mereka atau ketidaktahuan mereka dengan apa yang mereka katakan atau tuliskan.

Contoh kesalahan dalam penulisan adalah 'watsap' yang mungkin maksut hati adalah 'what's up' seperti yang telah saya tuliskan di awal tadi. Dalam konteks menulis kata berbahasa Ingris memang tidak mudah. Perlu banyak berlatih tentu saja. Apalagi kalau kita berlatih bahasa yang hurufnya tidak sama-sama latin. Seperti Jepang misal.

Untuk masalah kesalahan dalam lisan ini banyak sekali contohnya dan kita tidak perlu menghina mereka yang salah. Cukup dikoreksi dan diberi tahu yang benar dengan baik. Seperti halnya pengucapan 'even' dan 'event', 'life' dan 'live' dan sebagainya. Atau 'heartache' yang berarti duka bisa kita dengar berbeda seperti 'hard dig', 'hard d*ck'. Silahkan cari tahu sendiri artinya.
*=i

Dalam pengucapan kata dalam bahasa Inggris tidaklah mudah—bahkan untuk mereka yang memiliki bahasa ibu yang sama—yaitu bahasa Inggris. Seperti orang dari British, Amerika, Kiwi, Australia(bukan suku aborigin) dan sebagainya. Jika anda punya waktu luang silahkan buka Youtube dengan keyword "versus". Seperti Kiwi vs Australian, British vs American dan sebagainya.

Sebagai tambahan banyak perbedaan juga dalam menuliskan dan mengucapkan suatu objek. Seperti tulisan 'color' dan 'colour', 'favorite dan favourite' atau penyebutan yang berbeda seperti 'police' dan 'cops' dan masih banyak lagi lainnya yang dimana kedua hal tersebut sama-sama benar.

3. Kesalahan dalam Mengartikan Bentuk Singkatan Bahasa Inggris

Salah satu contoh untuk masalah ini sudah saya tuliskan di bagian atas sana. Tak perlu repot-repot anda untuk nge-scroll ke atas, akan saya tuliskan lagi di sini. Kalaupun anda ingat, ya! Kata itu adalah LOL. Tidak sedikit netizen yang salah mengartikan masalah LOL ini.

LOL adalah akronim dari Laugh Out Loud. Yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan tertawa terbahak-bahak. Bukan toLOL yang seperti dimaksud beberapa netizen di Indonesia. 

4. Tanda Baca 

Tanda baca adalah simbol yang tidak berhubungan dengan fonem (suara) atau kata dan frasa pada suatu bahasa, melainkan berperan untuk menunjukkan struktur dan organisasi suatu tulisan, dan juga intonasi serta jeda yang dapat diamati sewaktu pembacaan.

Kita juga harus cermat dalam menggunakan tanda baca. Karena tidak adanya tanda baca atau kesalahan menempatkan tanda baca akan mengakibatkan salah persepsi atau maksud dan tujuan yang akan ingin kita sampaikan. Mari kita lihat gambar di bawah ini.

sumber : google
Permasalahan di atas juga termasuk kesalahan dalam tata bahasa (grammar). Kita bisa lihat tulisan di atas adalah NO! MORE RAPE. Hal ini akan berbeda arti jika tanda seru (!) diletakan di akhir maka tulisannya akan menjadi NO MORE RAPE ! Sudah dapat dipastikan bahwa arti dari dua kalimat di atas berbeda dan bahkan memiliki arti yang berlawanan.

Atau ada juga contoh lain yaitu.
Let's eat kids !
Let's eat (,) kids !
Bagaimana? Apakah anda sudah menangkap perbedaannya?


5. Tata Bahasa (Grammar) 

Tata Bahasa (Grammar) adalah ilmu yang mengajarkan tentang cara menyusun kata-kata untuk menjadi sebuah kalimat secara tepat, atau dapat dikatakan, sebelum anda menyusun sebuah kalimat bahasa Inggris, anda harus mempelajari Grammar terlebih dahulu.

Mempelajari grammar bukan suatu yang mudah. Kita harus melatihnya sesering mungkin. Kesalahan tata bahasa ini sering kita jumpai dalam kehidupan kita dan tidak mengenal orang yang sedang mengatakan dan menuliskan. Bahkan sampai salah satu program acara televisi Indonesia yang kini sudah tidak ada itu pun salah dalam penyebutannya.

Dimana slogan dari program acara tersebut adalah "Keep Smile" padahal pengucapan dan penulisan yang benar adalah "Keep Smiling". Mungkin bentuk kesalahannya kecil tapi bisa memberi efek yang besar karena ditonton oleh jutaan pasang mata dan beragam usia di Indonesia—atau mungkin di negara lainnya juga.

Tidak perlu berkecil hati jika anda dalam proses belajar dikomentari dengan kalimat R.I.P English. Semakin kita banyak salah, semakin dekat juga kita dengan kebenaran—yah palah ber-quote ria—tapi tak apalah. Dalam melatih bahasa Inggris kita bisa lakukan dalam kehidupan keseharian kita. Apa saja yang bisa membantu kita dalam belajar bahasa Inggris di keseharian? Silahkan klik disini.
Read More
      edit

Minggu, 18 September 2016

Published 09.56.00 by with 0 comment

Belajar Bahasa Inggris dalam Keseharian

Anda tidak perlu repot-repot berpikir seberapa tinggi kemampuan berbahasa asing saya—bahkan bisa saja anda sangat jauh lebih baik daripada saya. Berbicara soal nilai TOEFL pun saya tidak mendapatkan skor yang tinggi. Disaat teman sejawat sudah bisa berselancar di Hawai atau berjemur ria di  Maldives—saya masih berjalan kaki menuju kampus untuk mengikuti pelatihan TOEFL tambahan selama beberapa pekan.

Walaupun pada akhirnya saya bisa lulus dengan skor yang tidak jauh berbeda dengan skor kelulusan—setelah mengikuti pelatihan tentu saja. Namun itu menjadi sebuah kabar gembira untuk saya yang mana  sudah beberapa kali mengikuti tes tapi tidak pernah bisa melewati skor 400 sebagai syarat yudisium pada waktu itu. Hal ini bukan menjadi sesuatu yang sulit bagi anda bukan? Sedikit provokator memang melihat judul yang berani-beraninya saya memberi tips terampil berbahasa asing sedangkan saya sendiri tidak semahir bayangan anda dalam berbahasa asing.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang bisa saya bagikan kepada anda tentang bagaimana kita belajar bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari. Yang mana saya dapatkan dari berbagai sumber dan pengalaman.

Hal ini sangat membantu saya dimana awal kuliah saya buta dan tuli terhadap bahasa asing. Cukup mengherankan memang, kenapa saya bisa lulus dari bangku sekolah. Dimana salah satu ujian pokoknya adalah bahasa Inggris.

Alasan terbesar saya belajar bahasa asing—terlebih bahasa inggris karena bahasa Inggris adalah bahasa Internasional. Dimana banyak orang di dunia ini menguasai bahasa tersebut, dan itu membantu saya yang mana saya sangat suka berkomunikasi. Mendengar dan membaca pendapat seseorang dari apa yang mereka tulis atau katakan. Tentu saja bisa memberi wawasan yang lebih jika saya bisa berbahasa asing.

Belajar bahasa asing tak ubahnya ketika kita belajar bahasa ibu. Ada penyesuaian dan perulangan di dalamnya. Membiasakan indera kita untuk mengenal dan terbiasa dengan bahasa tersebut. Dimana kita awali dengan mendengar akhirnya kita bisa berbicara dan berlanjut hingga bisa membaca kemudian menulis. Berikut adalah beberapa tahap yang bisa kita lakukan dalam melatih bahasa asing kita di kehidupan sehari-hari.

Mendengar dan Melihat

Langkah awal kita dalam memperlajari bahasa asing adalah membiasakan indera pendengaran untuk menerima bahasa tersebut. Menjadikan kita merasa terbiasa dan nyaman mendengar bahasa tersebut sehingga kita mampu menerima dengan mudah. Banyak hal yang bisa kita latih untuk membiasakan hal ini, diantaranya;

Mendengarkan lagu—dengan memperhatikan lirik akan lebih membantu tentu saja. Disaat pertama kali kita mendengarkan lagu dan memperhatikan lirik maka di dalam diri kita secara tidak langsung akan menyelaraskan antara suara sang vokalis dan kata-kata di dalam lirik yang kita baca. Ini akan mempermudah ketika kita mendengarkan lagu lagi yang kita dengar sebelumnya tanpa membaca lirik. Karena di dalam otak kita mampu memunculkan kata-kata di dalam lirik saat sang vokalis menyanyikannya.

Sehingga kita bisa mendengarkan apa yang dikatakan sang vokalis dengan lebih jelas karena kita sudah terbiasa mendengar dan terbayang kata dari apa yang kita lihat di dalam lirik lagu tersebut. Tidak lupa kita juga harus meluangkan waktu untuk membuka kamus jika ada kata yang tidak dimengerti artinya. Atau anda bisa buka situs ini, untuk menemukan lirik lagu dengan terjemahan ke bahasa Indonesia.

Menonton film—dengan subtitle bahasa asing yang anda pelajari tentu saja—bukan dengan subtitle bahasa Indonesia. Proses ini tidak jauh berbeda dengan apa yang saya jelaskan mengenai mendengarkan lagu dengan memperhatikan lirik di atas. Karena konsentrasi kita akan lebih memperhatikan subtitle maka pastikan gunakan subtitle berbahasa asing yang anda pelajari. Maka indera pendengaran dan penglihatan kita akan bersinergi dan terbiasa. Walaupun kita akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit karena kita juga perlu melihat jalan cerita.

Melihat dan mendengarkan pidato atau debat. Selain akan menambah kosakata anda dalam berbahasa asing, anda juga dapat menambah wawasan dari apa disampaikan orang yang melakukan debat atau pidato.

Berbicara

Setelah kita membiasakan indera pendengaran dan penglihatan kita. Maka selanjutnya tentu saja melatih ucapan kita. Melatih bagaimana kita bisa berbicara menggunakan bahasa asing. Tidak perlu takut jika tata bahasa kita masih salah. Biasakanlah mulut kita untuk berbicara menggunakan bahasa asing. Sehingga sampai pada akhirnya kita terbiasa dan tidak kaku dalam mengucapkan kata-kata bahasa asing yang kita pelajari. Hal yang dapat kita lakukan diantaranya;

Berbicara sendiri—dengan mendeskripsikan tentang diri anda. Menjelaskan tentang siapa diri anda dengan menggunakan bahasa asing yang ingin anda pelajari. Seperti menjelaskan tentang nama anda siapa, hobi anda apa dan lain sebagainya.

Keluarlah—sangat perlu untuk keluar kemudian mempraktekan bahasa asing anda dengan mendeskripsikan apa yang anda lihat dan apa yang anda rasakan. Jika nanti anda menemukan benda atau situasi yang tidak diketahui bahasa asingnya maka luangkanlah waktu untuk membuka kamus atau sekedar mencatat sehingga bisa kita cari artinya nanti.

Lawan bicara—salah satu yang bisa mempercepat anda dalam berbahasa asing adalah mendapatkan lawan bicara. Dimana dalam kondisi ini anda akan menyelaraskan antara mendengar, melihat dan berbicara. 

Membaca

Membaca dalam konteks ini adalah disaat kita juga mengeluarkan suara—tidak hanya di batin di dalam hati. Hal ini sangat berhubungan erat dengan apa yang telah kita pelajari di atas. Dimana kita akan terbantu dalam membaca setelah kita melatih pendengaran dan berbicara. Melatih pendengaran kita dalam menerima informasi dengan nada dan pengucapan yang benar. Kemudian melatih pengucapan kita dengan benar.

Berbicara soal membaca kita juga dapat menambah kosakata, tata bahasa dan kemampuan bahasa asing lainnya dengan membaca buku yang anda sukai. Entah itu novel, buku memasak, jurnal ilmiah atau lain sebagainya.

Menulis

Menulis dengan bahasa asing bukanlah sesuatu yang mudah. Tahap ini anda akan temui jika anda masuk di dalam dunia pendidikan dan lain sebagainya. Bukan hanya untuk berbicara secara langsung dengan orang asing. Dimana kita juga harus melatihnya untuk memperdalam ilmu kita. Seperti halnya disaat kita mendengar kata "what's up" kemudian kita ingin menulisnya. Jika kita sudah melatih pendengaran dan membaca, kemungkinan besar kita tidak akan salah dalam menulis kata tersebut. Anda mungkin tidak akan menulisnya dengan "wats ap" atau lain sebagainya karena anda sudah pernah membaca kata tersebut sebelumnya. Atau menulis bahasa asing yang tidak menggunakan huruf latin dimana itu akan lebih banyak usaha dalam mempelajarinya.

Dalam mempelajari bahasa kita harus banyak dalam praktenya. Bukan berarti teori tidak penting. Karena pada dasarnya mempelajari bahasa asing adalah bisa terjalinnya komunikasi. Dimana informasi dari pihak A akan tersampaikan ke pihak B dengan maksud dan tujuan yang sepaham.

Dalam prakteknya dalam kehidupan komunikasi secara langsung kita harus banyak melatih dalam mendengar, melihat dan berbiacara. Akan tetapi, kita juga harus memperdalamnya dengan membaca dan menulis dengan benar tentu saja.

Seperti halnya yang telah kita ketahui bahwa ada anak yang bernama Putu Rista dengan usia 10 tahun bisa berbicara 23 bahasa. Tentu saja ini karena Putu Rista telah banyak melatih pendengaran, penghlihatan dan berbicara dengan terjun langsung ke 'lapangan'.

Tidak perlu berkecil hati jika ada banyak orang yang meremehkan bahasa asing anda karena masih terdapat kesalahan di dalamnya. Atau mereka yang mengatakan R.I.P English dan sebagainya. Jika ada orang yang mengoreksi bahasa asing anda. Jadikan itu sebagai ilmu dan pelajaran berharga bukan dihindari. Berterima kasihlah kepada mereka yang bersedia meluangkan waktu untuk anda berkembang. Membuat anda keluar dari kesalahan dan bisa memperbaiki bahasa asing anda dengan benar. 
Read More
      edit

Minggu, 28 Agustus 2016

Published 22.33.00 by with 0 comment

Tips Memotret Ketika Festival Lampion Waisak di Candi Borobudur

Mei 2016 - Waisak adalah hari suci yang selalu diperingti oleh seluruh umat Budha diseluruh dunia. Tanpa terkecuali bagi umat Budha di Indonesia yang kegiatannya terpusat di Candi Borobudur, Magelang. Hari raya Waisak diperingati pada bulan Mei saat purnama Sidhi atau terang bulan untuk memperingati 3 peristiwa penting yaitu lahirnya pangeran Siddharta, penerangan agung pangeran Siddharta menjadi Buddha, dan wafatnya Buddha Gautama.

Salah satu bagian dalam prosesi Waisak adalah pelepasan lampion. Ada yang mengatakan bahwa pelepasan lampion adalah puncak perayaan Waisak. Puncak acara yaitu pelepasan lampion bisa disebut juga dengan festival lampion. Namun sesungguhnya pelepasan lampion ini masuk dalam serangkaian prosesi acara keagamaan dan ritual yang biasa ada saat perayaan Waisak. Makna dari pelepasan lampion pada acara Waisak adalah pengharapan para umat Budha untuk keadaan yang lebih tinggi. Melepasan lampion pada acara festival lampion selain diikuti oleh umat Budha juga bisa diikuti oleh khalayak umum. Namun bagi anda yang ingin melepasan lampion pada acara festival lampion anda harus mengkonfirmasi ke panitia beberapa hari sebelum hari H dan membayar sejumlah biaya. Akan tetapi jika anda hanya ingin mengambil foto atau video, anda tidak akan dikenakan biaya sedikitpun. Termasuk terbebas dari biaya masuk candi Borobudur.

Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Perhatikan Cuaca
Tidak dapat dipungkiri bahwa cuaca merupakan faktor penting yang harus diperhatikan disaat kita pergi ke suatu tempat. Sejauh pengalaman saya tinggal di Borobudur pada hari Waisak sering terjadi hujan lebat. Akan tetapi datangnya hujan bukanlah hal yang datang sebagai pengganggu namun dianggap sebagai rejeki dari Tuhan. Hujan biasanya turun dari sekitar pukul tiga sore sampai malam menjelang. Akan tetapi beberapa jam sebelum acara pelepasan lampion kemungkinan sudah reda. Walaupun itu tidak dapat dipastikan. Biarkan Tuhan yang mengatur.
(Berdoa saja semoga cuaca mendukung...)

2.  Ketahui Waktu dan Tempat Pelepasan Lampion dari Sumber yang Terpercaya
Dari tahun ke tahun pelepasan lampion  tidak selalu dimulai pada jam yang sama dan tempat yang sama. Memang betul bahwa lokasi pelepasan lampion berada di kawasan candi Borobudur. Akan tetapi bisa berada di sisi yang berbeda dari tahun sebelumnya. Juga waktu pelepasan lampion tidak selalu sama dengan tahun sebelumnya.
(Jadi.. lihat jadwal baik-baik yaa..)

3. Perhatikan Langkah Anda
Seperti biasa pada acara yang langka seperti ini pasti banyak pengunjung yang datang untuk berburu momen. Terlebih lagi mereka akan berebutan memilih lokasi yang bagus untuk mengambil gambar. Akan tetapi kita juga harus memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan. Jangan sampai anda melewati taman-taman yang ada di sana dan akibatnya taman itu menjadi rusak. Selain itu buanglah sampah pada tempat yang sudah disediakan.
(Jaga baik-baik lingkungan ya..!)

4. Hindari Penggunaan Flash
Flash memang membantu anda dalam pengambilan foto di cahaya minim. Dimana dalam konteks ini anda akan memfoto di malam hari yang tentu saja kondisi cahaya sangat minim. Akan tetapi, lebih baik anda menghindari penggunaan flash agar tidak mengganggu konsentrasi umat Budha dalam beribadah.
(Gak pakai flash juga bagus kok!)

5. Minta Ijin Terlebih Dahulu Jika Ingin Berfoto
Hal ini terkait dengan banyaknya para pengunjung yang nyelonong berfoto bersama dengan para Biksu. Sebelum berfoto bersama dengan mereka, mintalah ijin terlebih dahulu. Apakah boleh saya mengambil gambar bersama dengan anda? Apakah saya tidak mengganggu anda? Mungkin itu beberapa pertanyaan yang bisa anda ajukan sebelum berfoto bersama mereka. Karena mereka adalah manusia bukan benda obyek foto terlebih lagi mereka sedang melakukan ibadah.
(Kan enak kalo gitu....)

6. Persiapkan Strategi dan Peralatan Anda dengan Baik
Alangkah baiknya sebelum kita berada di medan pertempuran kita persiapkan terlebih dahulu strategi dan peralatan bertempur. Sebelum anda berburu, membaca atau mendengar tips-tips para fotografer pro itu perlu. Lihat juga hasil-hasil jepretan mereka dengan objek yang sama.
(Terutama bagi saya yang masih amatiran ini. Hehe...)

7.  Putuk Situmbu, dengan Hasil Foto yang Berbeda !
Putuk Situmbu adalah salah satu lokasi spot terbaik untuk melihat Sunrise dengan latar Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan tentu saja candi Borobudur. Dengan pengambilan foto pelepasan lampion dari sana anda akan mendapatkan foto yang berbeda dari fotografer lainnya. Atau anda juga bisa mencari lokasi lain yang berbeda.
(Hati-hati mendung! hehe...)

Mungkin itu adalah beberapa hal bisa anda perhatikan sebelum memulai berburu foto di malam Waisak. Berikut adalah beberapa hasil foto yang saya abadikan.

Menuju Nirwana
Canon 60D, lensa kit 18-55mm
Mode Av, ISO 2000, f/4.5
Menerbangkan Harapan
Canon 60D, lensa kit 18-55mm
Mode Av, ISO 2000, f/3.5
Bersama Orang-Orang Tercinta
Canon 60D, lensa kit 18-55mm
Mode Av, ISO 2000, f/3.5
Selamat mengabadikan momen di tahun-tahun yang akan datang. Jangan lupa bawa orang tersayang untuk merasakan keromantisan ini bersama. Terlebih lagi hormati mereka yang sedang beribadah dan juga mari menjaga lingkungan. Salamm....
Read More
      edit