Tampilkan postingan dengan label fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fotografi. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2016

Published 21.24.00 by with 0 comment

Berkah Pemotretan

Berkah Pemotretan
23 Nov 2016 - Siang ini setelah menyelesaikan pemotretan satu kelompok untuk buku tahunan, teman saya yang juga rekan fotografer buku tahunan mendapat pesan singkat lewat Whatsapp yang mengatakan bahwa jam 12.40 dibutuhkan jasa pemotretannya untuk acara wisuda di salah satu rumah dekat Kids Fun Yogyakarta. Sedangkan waktu sudah menunjukan sekitar pukul 12.15.

Motor pun di gas setelah bersiap dan sebelumnya mengajak saya untuk bergabung. Pengalaman baru, menantang dan tentu saja positif kenapa tidak? Singkirkan dulu tentang bayaran.

Jalan gang kecil dan pedesaan kami susuri dengan berharap akan lebih cepat tanpa harus bertemu kemacetan dan rute yang panjang. Mengingat posisi sekarang masih berada di sekitar kampus UGM.

Berpegang dari instruksi chat whatsapp teman yang memberi job, akhirnya jalan disusuri dengan gesitnya.

Sampai juga di sebuah rumah besar dan bertingkat. Sebuah rumah mewah yang dibangun di lingkungan pedesaan yang asri. Waktu sudah melebihi jadwal tapi sepertinya acara belum dimulai. Setelah melihat dari pintu luar yang terbuka lebar dan hanya terlihat seorang laki-laki paruh baya yang sedang menyiapkan tempat.

Datang dua orang yang menaiki sepeda motor berboncengan. Raut wajah penuh tanya ada di mimik wajah mereka. Ternyata mereka mencari alamat yang sama dengan alamat yang saya dan rekan saya cari. Nama pemilik dan ciri-ciri rumah memang sama. Sempat terbesit dalam benak apakah mereka juga fotografer yang dipanggil mengingat pekerjaan yang teman saya ambil adalah job lemparan. Karena fotografer sebelumnya sedang berhalangan.

Nyatanya setelah berbincang, mereka bukan seorang atau dua orang fotografer. Mereka adalah dua orang yang datang untuk memenuhi undangan pengajian yang beralamat sama dengan alamat yang saya dan rekan saya cari.

"Acara pengajian?" Saya dan rekan saya saling menatap dan tertawa. Bukan karena lucu tapi tertawa geleng-geleng karena bingung dengan perjanjian yang katanya acara wisudaan. Sedikit bingung juga selain karena salah acara, baju yang kita pakai pun "tidak sopan" untuk datang ke sebuah acara pengajian.

Rekan saya memakai kaos berjaket sedangkan saya memakai polo. Cukup sopan memang apa yang saya pakai tapi kami segera bergegas mencari masjid untuk berganti pakaian. Bukan untuk rekan saya, tapi untuk saya sendiri. Saya memang memakai polo tapi sebelum memakai polo saya memakai kaos hitam berlengan panjang bertuliskan "Death Fucking Vomit" di lengan kanan dan kirinya. Sebuah kaos band metal asli Yogyakarta yang saya miliki sewaktu SMA. Sudah lama saya tidak memakainya. Tapi berhubung ada pemotretan di siang bolong di bawah terik matahari dan sebelumnya berada di rumah, akhirnya saya memilihnya.

Kami pun masuk ke rumah dan acara belum dimulai karena para tamu undangan belum pada datang. Menyapa serta berkenalan dengan dua orang tadi dan pemilik rumah setelah sebelumnya berganti pakaian di WC kantor desa karena tidak menemukan masjid.

Nampak seorang laki-laki paruh baya berpeci yang sepertinya tidak asing dalam ingatan saya. Menyapa, bersalaman dan sedikit mengobrol dengan beliau. Sepertinya saya pernah melihat beliau tapi kapan dan dimananya saya tidak ingat.

Tamu udangan pun berombongan berdatangan dan acara dimulai. Saya dan rekan saya mengambil setiap momen yang ada. Termasuk memfoto laki-laki paruh baya berpeci yang akhirnya saya ketahui bahwa beliau adalah ustadz yang sering muncul di TV dangdut dan dikenal dengan nama ustadz Cinta.

Sebetulnya tidak seratus persen salah acara juga karena sejatinya sekarang adalah acara syukuran wisuda. Tapi ini membuat durasi menjadi lama ditambah acara seperti ini merupakan acara yang tidak pasti waktu mulai dan selesainya. Ditambah molornya dari waktu perjanjian. Secara profesional maka ini disebut penyewaan jasa fotografi "long time"—bukan "short time".

Namun pemotretan kali ini sungguh berkah banget. Bagaimana tidak? Lha wong sekalian mengaji. Ditambah lagi isinya tentang nasihat percintaan yang cocok banget untuk kaum jomblo seperti saya. Seperti yang dikatakan oleh pak ustadz Cinta yang juga saya yakini bahwa pertemuan ini bukan merupakan suatu kebetulan. Allah sudah mengaturnya.

Acara selesai dan uang kini sudah berada di kantong setelah sebelumnya dibagi berdua. Lumayan untuk mentraktir pacar dan jalan-jalan selain untuk ditabung. Oh iya, lupa... saya kan gak punya pacar. Yaudah ditabung dan buat makan sendiri saja.

Acara yang lain menunggu setelah sebelum pulang diminta nomornya karena dibutuhkan jasanya di acara selanjutnya.

Waktu sudah sangat sore dan perjalanan pulang diisi banyak perbincangan. Salah satunya membahas tentang rumah yang dibuat untuk pemotretan. Sebuah rumah yang dibangun dengan dana 3 Miliar yang saya dan rekan saya tahu setelah melihat artikel koran berpigura menempel di dinding salah satu tembok rumah.

"Pengen enggak punya rumah kayak gitu?"

"Enggak...." jawab saya simple. "Gak ada halamannya."

"Nanti kalau parkir ndak ngerusuhin tetangganya?" Kami berdua tertawa lepas.
Read More
      edit

Senin, 21 November 2016

Published 14.13.00 by with 0 comment

Lika-Liku Pemotretan

Lika-Liku Pemotretan
18 November 2016 - Kalau sebuah hari dimulai disaat orang bangun dan beranjak dari tempat tidur, mungkin sekitar pukul 3.38 pagi bukanlah awal dari hari yang akan saya lalui. Karena pada akhirnya diri ini melanjutkan untuk kembali terlelap dan akhirnya satu jam kemudian baru beranjak dari tempat yang memiliki gaya gravitasi tinggi itu. Seperti biasa saya kurang istirahat dan terlelap di larut malam.

Setelah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan di pagi hari dan menyiapkan perlengkapan fotografi, saya bersiap untuk bergegas melakukan pengambilan foto buku tahunan. Berdua dengan rekan. Tapi setelah beberapa menit tidak kunjung datang juga yang katanya pukul tujuh.

Pengambilan gambar buku tahunan berada di sekitar rektorat Universitas Negeri Yogyakarta. Ketika sampai disana terlihat beberapa perbedaan. "Seberapa lama itukah saya tidak datang ke kampus?" pikir saya ketika melihat pembangunan gedung baru untuk S2 yang sedang dibangun dan terdapat lahan parkir baru. Cukup disayangkan, karena tempat yang dijadikan pembangunan adalah lahan hijau yang menyegarkan mata dan pikiran.

"Aah..!!!" Teriak saya disusul rekan saya. Serangan semut ngangrang menggigit kaki dan mulai merambat ke seluruh badan. Entah kenapa mereka seperti makhluk yang bisa melihat dan mengejar kami sebagai mangsa. Sepertinya kami sudah ditandai oleh mereka. Tapi anehnya yang diserang orangnya itu-itu saja. Gigitannya (kagak tahu sebutan tepatnya apa, toh walaupun semut kagak punya gigi tapi sudah biasa disebut begitu) itu lho, bisa menembus celana dan kaos kaki. Begitupun dengan rasa gigitannya. Hmm, super sekali.

Pemotretan tetap dilanjutkan dan hari ini empat kelompok berhasil di proses pengambilan gambarnya. Padahal niat awal adalah pemotretan bersama satu kelas dan pengambilan semua anggota kelompok yang berjumlah 6 kelompok. Karena beberapa alasan dari klien hal itu tidak sesuai dengan rencana.

Hari kini sudah mulai petang dan hujan pun turun dengan syahdunya. Waktu-waktu itu saya dan rekan saya habiskan di dalam kamar kos untuk melihat film dan mengedit foto ditemani camilan keripik singkong pedas.

Hal itu tak berlalu sampai larut malam seperti pengerjaan buku tahunan sebelumnya. Karena saya ada janji dengan teman-teman yang saya kenal di KKN. Untuk berbincang dan menikmati kopi bersama. Sudah beberapa pertemuan saya tidak bergabung dengan mereka. Akhirnya saya memiliki waktu untuk bergabung dengan mereka. Bukan karena saya sibuk tapi memang waktu dan tempat yang tidak berjodoh. Saya pun bergegas sendiri, setelah sebelumnya mengajak rekan saya yang menolak karena memiliki keperluan lain.
Read More
      edit

Kamis, 15 September 2016

Published 21.17.00 by with 0 comment

[Yearbook] Matematika E 2012 Universitas Negeri Yogyakarta


Setiap orang mempunyai caranya tersendiri dalam menangkap masa sekarang untuk menjadikan kenangan indah di masa yang akan datang. Seperti halnya dengan fungsi dari sebuah buku tahunan. Sebagai media mengenang orang-orang yang berjuang bersama dalam sebuah organisasi atau institusi. Mengenang masa-masa indah bersama teman walaupun terkadang ada rasa perih saat terlintas bayangan mantan—yekan?

Banyak sekali perkembangan dan inovasi dalam dunia mengabadikan momen ini. Tidak hanya soal buku tahunan yang menggunakan teknik fotografi saja, akan tetapi ada juga yang menggunakan teknik videografi. Biar bisa di upload ke Youtube kata mereka. Apalagi banyak orang yang terinspirasi setelah booming-nya film 'Catatan Akhir Sekolah' tahun 2005 silam.

Seiring berkembangnya jaman, mengabadikan momen dengan media cetak menjadi buku masih menjadi idaman. Bahkan ada rasa tersendiri jika di cetak daripada hanya berbentuk softfile. Lebih merasa memiliki katanya. Dimana setiap lembar yang kita buka memiliki kenangan tersendiri.

Ini kali pertama saya mengambil gambar untuk kepentingan pembuatan buku tahunan. Tentu saja saya tidak sendirian. Ada sebuah TIM dalam pengambilan gambar hingga sampai ke percetakan.

Tidak banyak kendala yang kami temui selama proses pemotretan hingga akhirnya menjadi sebuah buku tahunan. Kendala utama kali ini adalah soal waktu. Dimana kita harus mencocokan jadwal dengan beberapa orang yang memiliki jadwal yang berbeda.

Adapun kendala lain ketika salah satu tempat pengambilan gambar tidak diijinkan oleh salah seorang pengurus yang ada di sana. Akan tetapi untuk masalah ini setelah melobi dengan pengurus akhirnya kami tetap bisa melanjutkan proses pemotretan.

Dalam proses pengambilan gambar kami menghabiskan beberapa hari dengan lokasi pengambilan gambar di lingkungan Universitas Negeri Yogyakarta - Indoor maupun Outdoor. Adapun tempat lain yaitu Taman Sari untuk pengambilan gambar panitia.

Kami menggunakan peralatan kamera Canon 60D, Canon 50D, 2 lensa Canon 18 - 55mm, lensa fix 50mm, flash Yongnuo, tripod dan beberapa alat tambahan lainnya.

Berikut adalah beberapa hasil foto dari buku tahunan Matematika E 2012. 







Sampul Depan

Foto Kelompok (1)

Foto Kelompok (2)

Foto Kelompok (3)

Foto Perorangan (1)

Foto Perorangan (2)

Snapshoot (1)

Snapshoot (2)
Foto Panitia

Read More
      edit

Minggu, 28 Agustus 2016

Published 22.33.00 by with 0 comment

Tips Memotret Ketika Festival Lampion Waisak di Candi Borobudur

Mei 2016 - Waisak adalah hari suci yang selalu diperingti oleh seluruh umat Budha diseluruh dunia. Tanpa terkecuali bagi umat Budha di Indonesia yang kegiatannya terpusat di Candi Borobudur, Magelang. Hari raya Waisak diperingati pada bulan Mei saat purnama Sidhi atau terang bulan untuk memperingati 3 peristiwa penting yaitu lahirnya pangeran Siddharta, penerangan agung pangeran Siddharta menjadi Buddha, dan wafatnya Buddha Gautama.

Salah satu bagian dalam prosesi Waisak adalah pelepasan lampion. Ada yang mengatakan bahwa pelepasan lampion adalah puncak perayaan Waisak. Puncak acara yaitu pelepasan lampion bisa disebut juga dengan festival lampion. Namun sesungguhnya pelepasan lampion ini masuk dalam serangkaian prosesi acara keagamaan dan ritual yang biasa ada saat perayaan Waisak. Makna dari pelepasan lampion pada acara Waisak adalah pengharapan para umat Budha untuk keadaan yang lebih tinggi. Melepasan lampion pada acara festival lampion selain diikuti oleh umat Budha juga bisa diikuti oleh khalayak umum. Namun bagi anda yang ingin melepasan lampion pada acara festival lampion anda harus mengkonfirmasi ke panitia beberapa hari sebelum hari H dan membayar sejumlah biaya. Akan tetapi jika anda hanya ingin mengambil foto atau video, anda tidak akan dikenakan biaya sedikitpun. Termasuk terbebas dari biaya masuk candi Borobudur.

Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Perhatikan Cuaca
Tidak dapat dipungkiri bahwa cuaca merupakan faktor penting yang harus diperhatikan disaat kita pergi ke suatu tempat. Sejauh pengalaman saya tinggal di Borobudur pada hari Waisak sering terjadi hujan lebat. Akan tetapi datangnya hujan bukanlah hal yang datang sebagai pengganggu namun dianggap sebagai rejeki dari Tuhan. Hujan biasanya turun dari sekitar pukul tiga sore sampai malam menjelang. Akan tetapi beberapa jam sebelum acara pelepasan lampion kemungkinan sudah reda. Walaupun itu tidak dapat dipastikan. Biarkan Tuhan yang mengatur.
(Berdoa saja semoga cuaca mendukung...)

2.  Ketahui Waktu dan Tempat Pelepasan Lampion dari Sumber yang Terpercaya
Dari tahun ke tahun pelepasan lampion  tidak selalu dimulai pada jam yang sama dan tempat yang sama. Memang betul bahwa lokasi pelepasan lampion berada di kawasan candi Borobudur. Akan tetapi bisa berada di sisi yang berbeda dari tahun sebelumnya. Juga waktu pelepasan lampion tidak selalu sama dengan tahun sebelumnya.
(Jadi.. lihat jadwal baik-baik yaa..)

3. Perhatikan Langkah Anda
Seperti biasa pada acara yang langka seperti ini pasti banyak pengunjung yang datang untuk berburu momen. Terlebih lagi mereka akan berebutan memilih lokasi yang bagus untuk mengambil gambar. Akan tetapi kita juga harus memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan. Jangan sampai anda melewati taman-taman yang ada di sana dan akibatnya taman itu menjadi rusak. Selain itu buanglah sampah pada tempat yang sudah disediakan.
(Jaga baik-baik lingkungan ya..!)

4. Hindari Penggunaan Flash
Flash memang membantu anda dalam pengambilan foto di cahaya minim. Dimana dalam konteks ini anda akan memfoto di malam hari yang tentu saja kondisi cahaya sangat minim. Akan tetapi, lebih baik anda menghindari penggunaan flash agar tidak mengganggu konsentrasi umat Budha dalam beribadah.
(Gak pakai flash juga bagus kok!)

5. Minta Ijin Terlebih Dahulu Jika Ingin Berfoto
Hal ini terkait dengan banyaknya para pengunjung yang nyelonong berfoto bersama dengan para Biksu. Sebelum berfoto bersama dengan mereka, mintalah ijin terlebih dahulu. Apakah boleh saya mengambil gambar bersama dengan anda? Apakah saya tidak mengganggu anda? Mungkin itu beberapa pertanyaan yang bisa anda ajukan sebelum berfoto bersama mereka. Karena mereka adalah manusia bukan benda obyek foto terlebih lagi mereka sedang melakukan ibadah.
(Kan enak kalo gitu....)

6. Persiapkan Strategi dan Peralatan Anda dengan Baik
Alangkah baiknya sebelum kita berada di medan pertempuran kita persiapkan terlebih dahulu strategi dan peralatan bertempur. Sebelum anda berburu, membaca atau mendengar tips-tips para fotografer pro itu perlu. Lihat juga hasil-hasil jepretan mereka dengan objek yang sama.
(Terutama bagi saya yang masih amatiran ini. Hehe...)

7.  Putuk Situmbu, dengan Hasil Foto yang Berbeda !
Putuk Situmbu adalah salah satu lokasi spot terbaik untuk melihat Sunrise dengan latar Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan tentu saja candi Borobudur. Dengan pengambilan foto pelepasan lampion dari sana anda akan mendapatkan foto yang berbeda dari fotografer lainnya. Atau anda juga bisa mencari lokasi lain yang berbeda.
(Hati-hati mendung! hehe...)

Mungkin itu adalah beberapa hal bisa anda perhatikan sebelum memulai berburu foto di malam Waisak. Berikut adalah beberapa hasil foto yang saya abadikan.

Menuju Nirwana
Canon 60D, lensa kit 18-55mm
Mode Av, ISO 2000, f/4.5
Menerbangkan Harapan
Canon 60D, lensa kit 18-55mm
Mode Av, ISO 2000, f/3.5
Bersama Orang-Orang Tercinta
Canon 60D, lensa kit 18-55mm
Mode Av, ISO 2000, f/3.5
Selamat mengabadikan momen di tahun-tahun yang akan datang. Jangan lupa bawa orang tersayang untuk merasakan keromantisan ini bersama. Terlebih lagi hormati mereka yang sedang beribadah dan juga mari menjaga lingkungan. Salamm....
Read More
      edit