Tampilkan postingan dengan label karya sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya sastra. Tampilkan semua postingan
Kamis, 31 Januari 2019
Published 20.17.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
Mata itu terpejam dengan sendirinya.
Bibir itu melengkung menampakkan senyumnya.
Taukah kau siapa yang ada dalam pikirnya?
Rabu, 30 November 2016
Published 13.40.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| Ruang Kelas itu Bernama Perasaan |
Inginku untuk duduk berdua disisihmu dan bercanda gurau sampai raga ini tak lagi bernyawa. Berdua bersama. Saling membantu dan saling melengkapi. Duduk di dua bangku yang berbeda namun berada di meja yang sama. Hidup di dua peran yang berbeda namun berada di kehidupan yang sama. Kehidupan itu adalah keluarga. Aku yang akan duduk di kursi suami dan kau yang akan duduk di kursi isteri. Mungkin suatu saat kita akan duduk di bangku yang sama bersama. Atau mungkin kita akan saling bertukar bangku untuk sementara waktu.
Namun semua itu hanya sebuah kenyataan dalam khayalan. Ketika aku melihat dirimu lebih luas lagi. Ternyata dirimu sudah duduk bersama laki-laki lain. Laki-laki yang selama ini kau impikan. Seorang pendamping yang kau dambakan. Apalah dayaku yang hanya bisa melihatmu bermesraan dengan dirinya. Dihadapanku secara langsung dalam keseharianku duduk di bangku ini. Tak ada arah pandangan lain selain menatap kedepan. Setiap aku mencoba fokus untuk memandang kedepan untuk meraih masa depan, bayangmu dan bayangnya selalu nampak jelas di kedua bola mata. Aku hanya bisa memendam dan terus bertahan, mengeluarkan ekspresi datar tak berperasaan, karena itu yang bisa membuat ruang kelas ini terasa nyaman.
Aku berharap ada seseorang yang menemani duduk disampingku. Tidak membuka percakapan tapi saling menemani. Tidak membuka obrolan tapi saling mengerti. Sampai akhirnya menetertawakan apa yang aku dan orang itu lihat bersama. Tapi aku sadar, aku pengharap yang tidak tahu diri. Mana mungkin aku menjadikan orang lain sebagai pelampiasan, menjadikan orang lain hanya penghibur semata, aku harus bisa melakukannya sendiri.
Suatu ketika dalamku meraih masa depan, aku melihat sebuah pertengkaran. Pertengkaran antara dirimu dengan laki-laki impianmu. Sampai akhirnya laki-laki itu pergi meninggalkan dirimu sendiri. Kamu hanya duduk terdiam meratapi apa yang telah terjadi. Menangis tiada henti membuat ruang kelas ini begitu asing. Inginku untuk menemani dan menghiburmu, tapi apa daya hanya doa yang menghampiri. Aku memang bukan laki-laki yang berani mengungkapkan kata-kata seperti laki-laki yang ada di dalam hatimu.
Hari demi hari terlalui, bulan pun berganti, tahun yang sama pun tak lagi menemani. Sepertinya dirimu sudah terbiasa dengan kepergiaannya. Walaupun masih kutemui sajak-sajak rindumu kepada dirinya. Aku hanya manusia biasa yang juga bisa merasakan apa itu rasa cemburu. Tapi aku sadar bahwa aku tidak berhak mempunyai rasa itu. Sampai pada akhirnya aku memberanikan untuk memberimu sajak kasih yang selama ini aku simpan dalam. Walaupun pada kenyataannya sajak itu hanya aku taruh pada kolong mejamu.
Aku hanyalah seorang laki-laki yang duduk di kursi belalakang memandang ke depan. Berharap diperhatikan namun digusurkan. Laki-laki tanpa ekspresi yang ingin mengungkapkan isi hati. Surat itu tak kunjung kau baca, mungkin karena tertutupi oleh sajak-sajakmu kepada laki-laki impianmu yang kau simpan di tempat yang sama. Namun akhirnya kau menemukannya. Aku melihatnya saat kau membaca sajak-sajakku untukmu. Kamu tersenyum manis dan akhirnya kamu tahu bahwa sajak itu dariku. Raut wajahmu berubah tidak tahu harus berkata apa. Tapi dirimu memang wanita yang baik, kau datang kepadaku dan mengatakan ucapan terima kasih.
Banyak hal yang kau katakan tapi aku tidak paham. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin kau katakan. Tidak ada kata maju atau mundur. Aku hanya berkesimpulan untuk tidak bergerak maju atau mundur. Hanya berdiam diri ditempat yang sama, menunggu sepanjang waktu. Tapi ada sesuatu yang berubah. Aku masih disini duduk di bangku yang sama tapi dirimu sekarang semakin menjauh. Dirimu yang kini terhalang tembok-tembok penghalang yang kau ciptakan. Aku tidak tahu apa maksutmu, tapi aku tetap bertahan disini. Ditempat yang sama, seperti dulu.
Sampai akhirnya aku coba berjalan ke arahmu dan kamu mengatakan kepadaku untuk mundur. Mungkinkah ini jawaban darimu yang selama ini aku tunggu? Sesuatu pernyataan yang aku tunggu walaupun memang bukan suatu hal yang aku ingin dan aku dengar darimu. Tapi aku sadar aku tidak bisa hidup dengan wanita yang tidak mempunyai rasa yang sama. Aku tidak bisa hidup dengan wanita yang duduk disisihku tapi tak mengharapkan keberadaanku.
Lemas tubuh ini seketika. Kaki yang selama ini menopang kuat runtuh bagai tak bertulang. Langkah kaki ini terasa berat. Tidak tahu lagi harus melangkah kemana. Paras cantikmu yang tidak bisa membunuhku itu kini membuatku merasa mati. Perangai santunmu yang tidak bisa menghancurkanku itu kini membuatku lebur. Aku hanya duduk melamun terdiam. Memandang kosong tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Pernah aku berpikir sifatmu yang mudah bergaul sedangkan aku yang pendiam ini bisa membuat kita hidup bersama dengan saling melengkapi dan mengisi. Pernah aku berpikir bahwa kesukaan dan cara pandang hidup kita yang sama akan membuat kita hidup bersama dengan arah tujuan yang tak berbeda. Pernah aku berpikir kehadiranmu yang selalu ada dalam kelompok dan tempat yang sama denganku adalah rencana Tuhan untuk menyatukan kita. Tapi aku lupa bahwa rencana Tuhan lebih luas daripada apa yang aku bayangkan. Kita memang selalu berada dalam kelompok dan tempat yang sama, tapi tidak dalam perasaan yang sama.
Waktu berlalu dan pada akhirnya kamu pergi dari ruangan kelas ini. Setiap langkah yang kau tapakan bisa aku lihat dengan jelas. Semuanya bergerak dengan perlahan. Mata ini begitu mudah menangkapnya tapi berat langkah kaki ini untuk bergerak. Sampai pada akhirnya bayangmu kini manjauh dan tak terlihat sama sekali. Semuanya pergi. Tinggal aku seorang diri dalam ruangan kelas yang kosong ini.
Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku harus melanjutkan hidup dan meraih apa yang aku impikan saat pertama kali melangkahkan kaki di ruang kelas ini. Aku berharap ada seseorang yang mengulurkan tangan ke arahku, menarikku keluar dari ruang kelas ini, kemudian berlari menjauh. Tapi seseorang seperti itu tidak ada. Aku sadar hanya aku sendiri yang bisa membuat diriku bergerak keluar dari ruang kelas ini.
Aku paksakan kaki ini untuk bergerak, melangkah di kehidupan baru keluar dari ruangan ini. Sampai pada akhirnya aku berada di antara lorong dan ruangan yang selama ini aku singgahi. Aku melihat lorong itu begitu panjang dan begitu gelap. Sesekali aku melihat ke dalam ruangan. Ruangan yang masih terang karena sinar buatan. Terbayang masa-masa indah dan kelam yang ada di dalamnya. Tapi semakin aku ingat hati ini terasa begitu sakit.
Kini tekad sudah aku bulatkan untuk melangkahkan kaki keluar dari ruang kelas ini. Setiap langkah aku tempuh dengan berjuangan yang besar melewati lorong gelap. Walaupun aku tidak tahu apa yang ada diluar sana dan betapa gelapnya lorong ini, tapi aku tidak mau kembali ke dalam ruang itu dan hidup seorang diri. Aku bersumpah tidak akan kembali ke ruang kelas itu dan kembali ke masa-masa yang sama. Ruangan kelas itu kini kosong. Ruang kelas itu bernama perasaan.
Published 13.32.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| Kata-Katamu di Malam Itu |
Berat langkah ini karena pelukan sang pasir, aku putuskan untuk duduk sebentar. Mendekap kedua kaki ditemani tumpukan ranting kering dan sekantong penuh peninggalan sang wisatawan. Aku tengok pemandangan yang berada di kiriku, melihat orang-orang yang sudah lama aku kenal. Orang-orang yang sama-sama berjuang dalam perantauan untuk mendapatkan sebuah gelar bernama anak kuliahan. Terima kasih Tuhan telah memasukan mereka ke dalam hidupku. Terlebih lagi ada dirimu disitu. Melihatmu menutup mulut saat tertawa, melihatmu yang terampil membantu teman-teman lain membuat hidangan malam, waktu seakan berhenti sesaat. Semua bergerak dengan lambat.
Mereka melambaikan tangan dan berteriak kepadaku, menyuruh diriku untuk segera bergabung menikmati santap malam. Aku hanya menjawab dengan isyarat tangan. Tanda untuk menunggu sebentar dan mempersilahkan mereka menyantap hidangan malam duluan. Aku masih betah menikmati kesunyian ini. Aku putuskan untuk merebahkan tubuhku di hamparan pasir, melihat betapa cantiknya bulan malam ini. Ditemani suara desiran ombak yang menenangkan, aku pejamkan kedua mataku. Aku taruh kedua telapak tangan menjadi bantal alas kepala. Sedikit bergerak menyesuaikan raga ini dengan kasur alam yang sangat luas. Ku rasakan hembusan angin yang menyegarkan mengenai seluruh tubuhku. Aku satukan tubuh dan raga ini denga alam, seolah beban hidup hilang seketika.
Perut ini sudah mulai mengadu, inginku segera beranjak dan menikmati hidangan malam. Kubuka mataku perlahan. Kulihat bayang-bayang yang sepertinya aku kenal. Bayang-bayang yang membuat hati ini merasa tenang, membuat diriku ini ingin tetap singgah berlama-lama. Ternyata dirimu, bidadari sang rembulan. Duduk disebelah kiriku menghadap lautan. Menikmati hembusan angin yang mengenai paras cantikmu. Belum mulut ini terbuka tapi dirimu sudah memulai pembicaraan.
"Sudah bangun?" katamu sambil tersenyum, manis sekali. Aku pun membenarkan posisiku duduk menghadap lautan sama sepertinya. "Kok disini?" kataku penasaran. Dia tersenyum lagi dan menjawab dengan menggemaskan. "Iiih... gak dijawab palah nanya balik."
"Kan bisa dilihat sendiri, lagian aku gak tidur kok, cuma tiduran aja." Jawabku.
"Iya aku tahu, masak tidur senyum-senyum." Celotehnya kesal. Aku tersenyum, ternyata dia sedari tadi memperhatikanku, pikirku.
"Jadi daritadi memperhatikan aku nih?" candaku.
"Enggak kok, tadi aku kesini mau bilang buruan makan tapi kamunya lagi tidur gak enak ganggu. Yaudah aku temenin kamunya."
"Cie perhatian banget sih tapi makasih mau nemenin," kataku, "gak ada yang marah nanti?"
"Gak ada, kamu kan tau sendiri. Eh iya kenapa eh gak nyari pacar? Biar status jomblo akutmu segera hilang dari peredaran." Dia tertawa lepas.
"Gapapa... lagian mana ada yang mau sama cowok yang gak dewasa dan kekanak-kanakan seperti aku ini." Candaku.
"Ada kok..."
Aku tersenyum dan menganggap perkataannya sebagai angin lalu. Aku tidak mau gede rasa dengan apa yang dikatakannya barusan. "Masa sih?" tanyaku bercanda.
"Masak gak percaya," katanya,"memang gak dewasa seperti apa yang kamu maksud?".
"Ya sifat kekanak-kanakanku ini, yang suka banget hujan-hujanan, tidur sembarangan seperti yang kamu lihat barusan dan ngelakuin apapun sesukanya."
"Kamu memang seperti itu, tidak ada yang salah dari apa yang kamu lakukan, bukankah itu bagian dari menikmati hidup?"
"Iya sih.." timpalku.
"Gini yaa...." dia berkata dengan lembut, "waktu kamu melakukan semua hal yang kamu sebut kekanak-kanakan tadi apa ada yang dirugikan?"
Aku hanya terdiam. Dia melanjutkan lagi. "Mungkin sebagian orang akan mengatakan kamu tidak dewasa tapi percayalah ada orang yang tetap mencintaimu dan menyayangimu dengan caramu. Tidak perlu kamu berubah menjadi orang lain. Dewasa memang banyak bentuknya. Kamu tau banyak dari mereka yang mengatakan bahwa seseorang itu dewasa tapi tidak memikirkan masa depannya. Sebagian dari mereka acuh dengan lingkungan sekitar dan tidak memiliki rencana untuk menjalani hidup. Sebagian dari mereka acuh dengan apa yang mereka kerjakan. Merokok di sembarang tempat misalnya. Mereka yang tidak dewasa dalam merawat kesehatan mereka. Bahkan aku begitu jengkel dengan para perokok yang tidak tahu tempat. Aku tidak melarang mereka merokok tapi sadarilah bahwa orang lain juga berhak untuk menikmati udara bebas dari asap rokok. Gak cuma itu tp masih banyak lagi.".
Aku terdiam melihat ke arahnya, tak mau melawan argumen-argumennya.
"Gak cuma itu!" dia berkata dengan sangat antusias melanjutkan argumennya. "Kau tahu banyak dari orang tua dan dosen juga tidak dewasa dalam bersosial media. Harusnya kan mereka bisa mengendalikan diri. Mungkin di kehidupan nyata mereka terlihat dewasa tapi di sosial media mereka berbeda. Bukankah harusnya mereka menjadi contoh?"
"Mungkin mereka kaget dengan teknologi yang baru mereka temui." Kataku bercanda. Kami berdua tertawa lepas.
"Kamu benar, mungkin mereka kaget dan lupa esensinya media sosial dengan bagaimana menggunakan media sosial dengan baik dan benar."
"Halah... kamu dulu juga paling alay," timpalku.
"Hehe... benar juga sih. Hmm... ternyata benar ya kalo dewasa itu memang sebuah proses bukan suatu paksaan."
Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Untuk beberapa waktu kami hanya berdiam menikmati suasana malam itu. Merasakan angin yang berhembus pelan, mendengarkan desiran ombak yang menentramkan dan kehangatan percakapan dalam diam.
"Udah malam kamu makan ya. Nanti aku buatkan minuman kesukaanmu. Cokelat hangat kan?"
Untuk beberapa saat aku terdiam tidak percaya dengan apa yang dikatakan barusan. Apa mungkin barusan hanya imajinasiku saja tanyaku dalam hati. Aku masih terdiam memasang muka bertanya-tanya melihat ke arah wajahnya.
"Hey... dijawab dong," katanya dengan nada sedikit kesal tapi senyum di bibirnya tetap masih menghiasi. Aku pun mengangguk tanda setuju.
"Yaudah aku kesana dulu, aku panasin airnya dulu, dan... gak usah mikirin soal hal kedewasaan tadi. Tetaplah menjadi dirimu sendiri, jangan menjadi orang lain. Bukankah kamu ingin mencintai dan dicintai sesesorang dengan utuh tak bertopeng? Saling mengerti dan memahami? Pasti ada seseorang yang bisa mengerti dan saling mengerti dengan duniamu yang unik itu." Dia tersenyum dengan manis. "Pasti ada...." Dia melanjutkan.
Aku tersenyum dan terdiam melihat ke arahnya berlalu pergi. Terpikirkan oleh setiap kata-katanya. Mungkinkah dia? Ah aku tak mau berpikir sejauh itu.
Perut ini sudah mulai mengadu, inginku segera beranjak dan menikmati hidangan malam. Kubuka mataku perlahan. Kulihat bayang-bayang yang sepertinya aku kenal. Bayang-bayang yang membuat hati ini merasa tenang, membuat diriku ini ingin tetap singgah berlama-lama. Ternyata dirimu, bidadari sang rembulan. Duduk disebelah kiriku menghadap lautan. Menikmati hembusan angin yang mengenai paras cantikmu. Belum mulut ini terbuka tapi dirimu sudah memulai pembicaraan.
"Sudah bangun?" katamu sambil tersenyum, manis sekali. Aku pun membenarkan posisiku duduk menghadap lautan sama sepertinya. "Kok disini?" kataku penasaran. Dia tersenyum lagi dan menjawab dengan menggemaskan. "Iiih... gak dijawab palah nanya balik."
"Kan bisa dilihat sendiri, lagian aku gak tidur kok, cuma tiduran aja." Jawabku.
"Iya aku tahu, masak tidur senyum-senyum." Celotehnya kesal. Aku tersenyum, ternyata dia sedari tadi memperhatikanku, pikirku.
"Jadi daritadi memperhatikan aku nih?" candaku.
"Enggak kok, tadi aku kesini mau bilang buruan makan tapi kamunya lagi tidur gak enak ganggu. Yaudah aku temenin kamunya."
"Cie perhatian banget sih tapi makasih mau nemenin," kataku, "gak ada yang marah nanti?"
"Gak ada, kamu kan tau sendiri. Eh iya kenapa eh gak nyari pacar? Biar status jomblo akutmu segera hilang dari peredaran." Dia tertawa lepas.
"Gapapa... lagian mana ada yang mau sama cowok yang gak dewasa dan kekanak-kanakan seperti aku ini." Candaku.
"Ada kok..."
Aku tersenyum dan menganggap perkataannya sebagai angin lalu. Aku tidak mau gede rasa dengan apa yang dikatakannya barusan. "Masa sih?" tanyaku bercanda.
"Masak gak percaya," katanya,"memang gak dewasa seperti apa yang kamu maksud?".
"Ya sifat kekanak-kanakanku ini, yang suka banget hujan-hujanan, tidur sembarangan seperti yang kamu lihat barusan dan ngelakuin apapun sesukanya."
"Kamu memang seperti itu, tidak ada yang salah dari apa yang kamu lakukan, bukankah itu bagian dari menikmati hidup?"
"Iya sih.." timpalku.
"Gini yaa...." dia berkata dengan lembut, "waktu kamu melakukan semua hal yang kamu sebut kekanak-kanakan tadi apa ada yang dirugikan?"
Aku hanya terdiam. Dia melanjutkan lagi. "Mungkin sebagian orang akan mengatakan kamu tidak dewasa tapi percayalah ada orang yang tetap mencintaimu dan menyayangimu dengan caramu. Tidak perlu kamu berubah menjadi orang lain. Dewasa memang banyak bentuknya. Kamu tau banyak dari mereka yang mengatakan bahwa seseorang itu dewasa tapi tidak memikirkan masa depannya. Sebagian dari mereka acuh dengan lingkungan sekitar dan tidak memiliki rencana untuk menjalani hidup. Sebagian dari mereka acuh dengan apa yang mereka kerjakan. Merokok di sembarang tempat misalnya. Mereka yang tidak dewasa dalam merawat kesehatan mereka. Bahkan aku begitu jengkel dengan para perokok yang tidak tahu tempat. Aku tidak melarang mereka merokok tapi sadarilah bahwa orang lain juga berhak untuk menikmati udara bebas dari asap rokok. Gak cuma itu tp masih banyak lagi.".
Aku terdiam melihat ke arahnya, tak mau melawan argumen-argumennya.
"Gak cuma itu!" dia berkata dengan sangat antusias melanjutkan argumennya. "Kau tahu banyak dari orang tua dan dosen juga tidak dewasa dalam bersosial media. Harusnya kan mereka bisa mengendalikan diri. Mungkin di kehidupan nyata mereka terlihat dewasa tapi di sosial media mereka berbeda. Bukankah harusnya mereka menjadi contoh?"
"Mungkin mereka kaget dengan teknologi yang baru mereka temui." Kataku bercanda. Kami berdua tertawa lepas.
"Kamu benar, mungkin mereka kaget dan lupa esensinya media sosial dengan bagaimana menggunakan media sosial dengan baik dan benar."
"Halah... kamu dulu juga paling alay," timpalku.
"Hehe... benar juga sih. Hmm... ternyata benar ya kalo dewasa itu memang sebuah proses bukan suatu paksaan."
Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Untuk beberapa waktu kami hanya berdiam menikmati suasana malam itu. Merasakan angin yang berhembus pelan, mendengarkan desiran ombak yang menentramkan dan kehangatan percakapan dalam diam.
"Udah malam kamu makan ya. Nanti aku buatkan minuman kesukaanmu. Cokelat hangat kan?"
Untuk beberapa saat aku terdiam tidak percaya dengan apa yang dikatakan barusan. Apa mungkin barusan hanya imajinasiku saja tanyaku dalam hati. Aku masih terdiam memasang muka bertanya-tanya melihat ke arah wajahnya.
"Hey... dijawab dong," katanya dengan nada sedikit kesal tapi senyum di bibirnya tetap masih menghiasi. Aku pun mengangguk tanda setuju.
"Yaudah aku kesana dulu, aku panasin airnya dulu, dan... gak usah mikirin soal hal kedewasaan tadi. Tetaplah menjadi dirimu sendiri, jangan menjadi orang lain. Bukankah kamu ingin mencintai dan dicintai sesesorang dengan utuh tak bertopeng? Saling mengerti dan memahami? Pasti ada seseorang yang bisa mengerti dan saling mengerti dengan duniamu yang unik itu." Dia tersenyum dengan manis. "Pasti ada...." Dia melanjutkan.
Aku tersenyum dan terdiam melihat ke arahnya berlalu pergi. Terpikirkan oleh setiap kata-katanya. Mungkinkah dia? Ah aku tak mau berpikir sejauh itu.
Published 13.30.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| Jomblo Pemberani |
Jomblo Pemberani
Malam ini malam yang seru,
tak seperti malam-malam di masa lalu.
Meskipun masih saja merindu,
tapi itu tak masalah buatku.
Malam ini aku sedang uji nyali,
diribuan pasang muda-mudi.
Hanya berteman alat fotografi,
aku berani.
Bukan karena aku belagu,
bukan juga karena aku tak punya rasa malu.
Hanya saja,
jomblo juga berhak merasakan malam minggu.
Published 13.27.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
Tapi tak tahu juga apa yang akan terjadi nanti.
Cuaca kini cepat berubah.
Beberapa menit lagi mungkin akan hujan deras seperti yang sudah-sudah.
Tapi hari ini panas, detik ini sangat panas.
Sungguh.
Cuaca tak menentu seperti ini mulai terjadi ketika aku beranjak dewasa.
Aku rasa masa kanak-kanak dulu aku tak merasakannya.
Lalu bagaimana yang akan terjadi nanti?
Saat aku menua dan tiada?
Aku tak tahu.
Tapi aku rasa waktu berlalu makhluk tak ada yang menjadi muda.
Semua menua.
Lalu bumi, apakah kau sudah menua?
Apakah kau tak kuat lagi dengan kami, manusia?
Apakah kau sudah muak dengan tingkah kami yang merusak?
Tapi sadarilah, kami semua tak sama.
Published 13.22.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| Sajak Terakhir |
Aku selalu tersipu.
Aku selalu menunggu.
Aku selalu merindu.
Merindu, menunggu, tersipu kehadiran wanita itu.
Wanita itu kamu, sayangku.
Kamu yang sekarang membaca sajakku.
Maukah kau jadi pendampingku?
Dalam setiap sedih dan bahagiaku.
Aku harap begitu.
Apa yang aku tuliskan ini bukan bukti cintaku padamu.
Karena perlu seumur hidupku untuk membuktikan cintaku padamu.
Dariku, laki-laki yang ada di depanmu.
Wanita di depan itu berdiri. Sebelum dia akhirnya berlalu pergi, dia berkata dengan lembut : "Itu surat darinya. Laki-laki yang sama yang dulu menunggumu di kampus biru. Kalau kamu bertanya kenapa sekarang aku yang ada di depanmu, baris kesebelas dari surat itu adalah jawaban untukmu. Karena kini kau tak bisa lagi melihat kehadiran laki-laki itu."
Selasa, 15 November 2016
Published 22.40.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| Selalu Terlambat |
Ketika kau berdua, aku menunggumu dengan tenang dan sabar.
Sampai akhirnya dirimu sendiri.
Mungkin ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untukku.
Untuk mengejar dirimu, lagi.
Aku memang selalu memendam rasa kepadamu.
Walaupun terkadang aku menjauh darimu.
Aku hanya ingin memastikan rasa kasih ini.
Untuk meyakini rasa ini datang dari Ilahi.
Bukan dari birahi
Dan ketika aku menyadari.
Kenapa aku selalu terlambat.
Aku sadar.
Kini hatimu telah menjadi milik laki-laki lain.
Lagi.
Seorang laki-laki yang ada di dekatmu.
Seorang laki-laki yang telah lama mengenalmu.
Mungkin karena kesalahanku yang terlalu menjaga jarak.
Mungkin karena kesalahanku yang tak selalu mendekat.
Mungkin juga karena kesalahanku yang tak segera beranjak menembak.
Selamat.
Kini kau berbahagia dengan kenalanku,
lagi.
Senin, 07 November 2016
Published 04.34.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| Kembali |
Kau banyak sekali berkata. Namun
inilah yang ingin kurasa. Senyum di bibir ini kembali. Bahkan tawa karenamu sering
menghiasi. Kini aku di dekatmu lagi.
Tidak!
Kini aku bersamu. Lagi.
Alam penuh ilalang tinggi sudah
tak lagi kutemui. Genangan rawa yang kita lompati tadi sudah berlalu pergi. Kau
membawa ku ke sebuah taman bermain namun tak berwahana. Sepi. Itu kesan pertama
yang aku rasakan dari tempat baru ini. Seperti sebuah lahan luas yang tak
pernah dikunjungi lagi.
Aku kini sadar, sekumpulan
manusia yang aku lihat pertama kali bersamamu tadi hilang seperti di telan
bumi. Namun kita bukanlah manusia yang tersisa di tempat ini. Aku masih melihat
beberapa manusia sebaya yang saling berbicara dan terkadang menyapa. Walaupun
aku tak merasa ada hawa keberadaan manusia di dalam diri mereka.
Jalan setapak dengan sungai kecil
keruh di sampingnya dan beberapa
bangunan seperti ruangan kelas itu kita lalui. Kau memegang erat tanganku. Kau
masih bersamaku.
Kini kau mengajakku untuk
menjemput orang tuamu yang telah pulang dari tanah suci. Begitu kagetnya aku
melihat waktu. Pukul dua. Aku ingin bersujud kepada-Nya dan mengajakmu. Namun kau
terus memaksa. Perdebatan tak bisa kita hindari. Aku berpikir tak akan ada
waktu bagiku kalau aku ikut bersamamu. Bayangan masalah dari masa lalu pun kembali.
Sampai akhirnya kau berlalu
pergi. Lagi. Aku tak bermasalah dengan perpisahan. Tapi aku tak menyangka kita
akan berpisah untuk kedua kali dengan cara seperti ini.
Aku marah kau lebih memilih menjemput
orang tuamu daripada aku yang akan bersujud kepada-Nya. Tak bisakah kau menungguku sebentar? Hanya sedikit saja? Akupun meninggalkan
tempat dimana kau meninggalkanku. Masih menyusuri jalan setapak dengan sungai
keruh disampingnya. Masih menyusuri tempat yang tak terkena cahaya matahari
karena pohon bambu yang begitu tinggi. Ngeri. Seperti ada yang membuntuti.
Kulangkahkan kaki ke tempat air
suci. Aku lihat beberapa wanita berkerudung berpapasan dan berlalu pergi. Dua atau tiga aku rasa.
Kosong. Aku tak merasakan hawa manusia dalam tubuh itu. Kenapa setiap manusia
yang aku temui disini seperti boneka bertali. Entah siapa yang menggerakan di balik semua ini.
Ketika aku ingin menunduk dan
menuangkan air suci, aku melihat semua yang ada di sekelilingku. Sepi. Aku sendiri.
Namun seperti ada hawa yang ingin mendekati.
Semua yang aku lihat kini berubah
menjadi putih.
Sunyi.
Sepi.
Putih.
Kosong.
Hitam.
Cahaya kini perlahan aku temui.
Sedikit namun pasti. Cahaya ini sepertinya aku kenali. Warna putih ini juga
sepertinya aku ketahui. Ku lihat semua bagian tubuh ini. Mereka semua masih
dalam posisi. Perlahan tubuh ini aku gerakan. Melihat kedua telapat tangan.
Masih sama, seperti yang sebelumnya aku punya.
Sepertinya aku baru saja kembali dari alam mimpi.
Selasa, 25 Oktober 2016
Published 07.34.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| Diam |
Siang itu di
sebuah halaman rumah yang cukup luas dan aman terlihat dua bocah laki-laki
sedang berlari dan bermain bersama. Lima atau enam tahun usia mereka
sepertinya. Menikmati masa anak-anak yang penuh canda tawa. Tidak ada raut
sedih yang nampak di wajah mereka. Hanya ada senyum dan tawa menggantung di
bibir kedua bocah itu.
Dilihatnya
sebuah putung rokok tergeletak di tanah dari seorang serdadu yang baru saja
membuangnya. Sebatang rokok yang sebelumnya menemani sang serdadu duduk
menunggu seorang penjahit menyelesaikan pesanannya.
Sebuah
bangunan dari kayu dan bambu yang cukup tua itu menjadi ladang untuk
mencari rejeki bagi penjahit yang sudah tak muda lagi. Ditemani kursi panjang
dari kayu untuk duduk pelanggan, si penjahit sudah bisa membuka lapaknya di
kesehariannya.
Bangunan tua
si pejahit dan rumah yang memiliki halaman cukup luas untuk bermain dua bocah
tadi terletak bersisian.
“Eh,
rokok-rokok!” dengan penuh kegirangan salah satu bocah itu berkata kepada bocah
lainnya. Rasa penasaran pun muncul dalam benak mereka berdua. Diambilnya putung
rokok itu dan perlahan-lahan mendekat ke bibir yang masih perjaka.
“Manis!
Enak-enak!” teriak salah satu bocah.
“Sini-sini,
aku juga pengen coba.”
“Nih!” bocah
itu memberikan rokok yg dianggap sudah menjadi miliknya ke bocah satunya.
Sebatang rokok itu kini dinikmati kedua mulut bocah itu. Bergilir dari satu
mulut ke mulut lainnya.
Sang serdadu
tertawa melihat pemandangan yang sedang dilihatnya. Dengan lucunya dia
memamerkan kepada si penjahit. Si penjahit tersenyum sekedar membalas
pernyataan dari sang serdadu. Tapi tetap diam menghiraukan. Kedua bocah itu
menghiraukan mereka para orang tua yang sedang tertawa, sang serdadu dan si
penjahit. Walaupun masih nampak rasa malu-malu dalam raut wajah kedua bocah
itu.
Jumat, 07 Oktober 2016
Published 22.49.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| Iya, Aku Sayang Kamu. |
Suasana sunyi tanpa kata di antara mereka berdua kini berubah menjadi tanda tanya bagi Gita. Jemari tangannya yang lentik itu berhenti memainkan tangkai cangkir yang penuh dengan kopi latte, dan kini memandang ke arah laki-laki yang duduk di depannya. Memandang penuh tanda tanya.
Sebelum mulutnya mulai terbuka Masastra melanjutkan kata-kata jujur dari hatinya. Namun kini mereka saling menatap dalam satu frekuensi yang sama.
"Dan aku masih ingin bebas dan membebaskanmu. Aku tidak mau ada sesuatu hal yang mengikat untuk sekarang. Entah kenapa aku merasa ada yang menahan jika kita memiliki hubungan yang lebih dari seorang teman untuk saat ini. Bukan apa-apa, aku hanya selalu percaya dengan perasaanku sendiri. Karena aku merasa tidak nyaman berhubungan seperti anak muda jaman sekarang. Ah entah, walaupun kita juga masih muda namun sudah tak remaja".
Masastra berhenti berbicara, merasa bingung dengan apa yang harus dikatakan. "Sastraa...," Gita memanggil Masastra dengan membuka lebar mulutnya di akhir kata. Spontan Masastra membalasnya, "Gitaa...." tak kalah dengan apa yang dilakukan Gita saat mengatakan namanya.
Gita tertawa melihat kelakuan laki-laki yang ada di depannya. Tawanya begitu menghipnotis Masastra. Keceriaan yang ada pada Gita memang selalu membuat Masastra merasakan sesuatu hal yang bisa membuatnya nyaman. Gita dan Latte memang suatu hal yang sama pikir Masastra. Menyembuhkan.
"Dan ini bukan suatu ikatan yang mengikat, jika pada suatu saat nanti kamu tertarik dengan laki-laki lain. Itu tak jadi masalah buatku." Masastra melanjutkan. Gita tersenyum dan melihat mata Masastra dengan penuh perhatian.
Kamu ih, dasarr..., harusnya kan kamu tanya dulu perasaanku bagaimana, bukannya langsung tiba-tiba membuka pembicaraan dengan bilang iya aku sayang kamu. Batin Gita. "Memangnya bener gak masalah kalau aku sama laki-laki lain?"
Kamu ih, dasarr..., harusnya kan kamu tanya dulu perasaanku bagaimana, bukannya langsung tiba-tiba membuka pembicaraan dengan bilang iya aku sayang kamu. Batin Gita. "Memangnya bener gak masalah kalau aku sama laki-laki lain?"
"Hemm," Masastra hanya bergumam dan sedikit menganggukkan kepalanya. Masastra mengalihkan pandangannya melihat lalu lalang jalan. Melihat tetesan-tetesan air dibalik kaca cafe yang mereka temui di kala hujan.
Suasana kembali hening, tapi mereka berdua tidak merasa sunyi.
Gita tahu kenapa Masastra bersikap seperti itu. Tanpa cerita dari Masastra sendiri, Gita sudah tahu masa lalu laki-laki yang ada di hadapannya. Yang dengan lucunya bilang kalau dia mencintainya dan merelakannya dengan laki-laki lain. Tak hanya mengerti, Gita menerima masa lalu itu.
Masastra masih terdiam memperhatikan lalu lalang di balik kaca. Terkadang memperhatikan Gita yang menatapnya dan melemparkan senyumnya. Mencoba menggaruk kulit di bawah kelopak mata, sekedar mengalihkan salah tingkahnya. Masastra bahagia.
Iya, aku suka kamu, aku cinta kamu dan tentu saja aku sayang kamu juga Masastra. Gita tersenyum membayangkan kata-kata barusan yang urung dia katakan.
"Sastra...."
"Iya sayang, eh Gita" Canda Masastra.
"Besok ketemu orang tua ku yuk?"
Hujan kini reda, matahari mulai menyinari. Seperti kedua hati mereka yang saling mengerti dan memahami.
Gita tahu kenapa Masastra bersikap seperti itu. Tanpa cerita dari Masastra sendiri, Gita sudah tahu masa lalu laki-laki yang ada di hadapannya. Yang dengan lucunya bilang kalau dia mencintainya dan merelakannya dengan laki-laki lain. Tak hanya mengerti, Gita menerima masa lalu itu.
Masastra masih terdiam memperhatikan lalu lalang di balik kaca. Terkadang memperhatikan Gita yang menatapnya dan melemparkan senyumnya. Mencoba menggaruk kulit di bawah kelopak mata, sekedar mengalihkan salah tingkahnya. Masastra bahagia.
Iya, aku suka kamu, aku cinta kamu dan tentu saja aku sayang kamu juga Masastra. Gita tersenyum membayangkan kata-kata barusan yang urung dia katakan.
"Sastra...."
"Iya sayang, eh Gita" Canda Masastra.
"Besok ketemu orang tua ku yuk?"
Hujan kini reda, matahari mulai menyinari. Seperti kedua hati mereka yang saling mengerti dan memahami.
Selasa, 12 Juli 2016
Published 01.44.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| Menjauh Bukan untuk Pergi |
Aku yang tak lagi menghubungimu bukan karena aku tak mau, tapi aku ingin menjaga perasaanmu. Aku yang tak lagi banyak menemuimu bukan karena aku hilang, tapi aku ingin pertemuan kita menjadi sebuah pertemuan yang indah nan halal. Aku tidak pergi, aku masih disini.
Memang tidak mudah untuk diriku tidak menghubungimu, walau hanya sekadar bertanya kabar. Aku seperti ini bukan karena aku membencimu, juga bukan karena ada orang lain dalam hatiku. Memang berat rasanya menjauh darimu. Tapi inilah caraku menjaga perasaanmu. Aku tidak pergi, aku masih disini.
Biarkanlah hati ini berpuasa sementara sampai dipertemukan dengan indahnya berbuka menurut cara-Nya. Biarkanlah kita saling memperkuat rasa iman dan percaya dengan kuasa-Nya.
Menjauhku bukan untuk pergi. Menjauhku untuk datang. Mendekat dengan cara-Nya. Jika memang dirimulah yang telah Dia janjikan, maka cinta ini akan dipertemukan. Aku tidak pergi, aku masih disini.
Jumat, 29 April 2016
Published 01.05.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| 4 |
Rapi. Itulah kesan pertamaku setelah melihat ruangan yang ada di balik pintu warna coklat bersticker itu. Walaupun cukup banyak barang yang ada di dalam kamar tapi dia cukup pintar menata barang-barangnya. Peralatan mendaki, buku-buku dan banyak sekali peralatan fotografi yang tidak tahu itu namanya apa. Tapi setidaknya pernah melihat benda-benda itu di situs online-shop waktu mencari kamera pocket untuk perjalanan backpaker-ku. Diapun menyalakan lampu kamar yang memang sudah mulai gelap menuju malam.
"Gerah gak luu?" dia bertanya sambil menyalakan kipas angin yang ada di bawah saklar lampu kamar tadi.
"Lumayan, wuih barang baru nih?" aku memegang sebuah sleeping bag yang ditaruhnya di atas lemari bajunya.
Dia melihatku yang sedang memutar-mutar sleeping bag nya "Udah setahun itu maah, yang dulu buat naik ada di rumah gak anget soalnya. Tau sendiri kan pas kita ke Merbabu dulu itu gimana? Dingin banget breee".
"Halaah.. alesan lu! lo gak bisa tidur karena mikirin wanita yang kamu cintai diem-diem itu kan?" Aku ingat betul wajahnya yang mendadak berubah pucat setelah mendengar cerita malam itu. Pandangannya kosong. Seolah-olah dunianya runtuh begitu saja secara tiba-tiba. Mendengar jawaban yang selama ini dia pikirkan tapi tidak berharap menjadi kenyataan.
Alisnya terangkat. "Hahaha.. bisa aja lu maah. Yaudah buruan sono mandi" jari telunjuk kanannya mengarah ke sebuah pintu dan jari telunjuk kirinya menekan sebuah tombol power televisi.
Aku pun menuju kamar mandi yang ada diluar kamar kosnya. Sedangkan dia sibuk dengan kameranya yang digunakan untuk hunting foto di stasiun tadi.
*****
"Ngapain lu berdiri di situ? Ngalangin pemandangan. Hahaha..."
"Pemandangan apaan coba? Gak ada cewek juga. Haha. Banyak juga kegiatan lu"
Dia memasang wajah bingungnya. "Kegiatan apaan?"
Jari telunjuk kananku menujuk sticker-sticker yang ada di pintu coklat itu. "Niiih...."
"Oooh.. mayan laah. Eh nanti mau kemana nih? Restoran? Cafe? Kaki lima apa mau kemana?" dia antusias sekali ingin mengajakku keluar melihat kota pelajar yang istimewa itu.
"Restoran?? Ngapain coba. Males banget. Jangan cafe juga aah. Masak ke Jogja maennya ke cafe juga. Anterin gue keliling Jogja aja. Terus ke angkringan stasiun Tugu. Kan asik tuh..."
"Oke deeh.. kalo gitu gue sekalian bawa kamera"
"Serah lu deeh.. haha, yaudah giliran lu yang mandi sono"
Dia mengarahkan telapak tangan kirinya ke arahku. "Bentar...dikit lagi". Sedangkan tangan kanannya sedang memegang mouse memindah file foto dari kamera ke laptop. "Oh iya.. gue punya buku bagus nih.
"Buku apa?" tanyaku.
"Buku backpaker. Penulisnya Agustinus Wibowo" dia menunjuk sebuah buku yang ada di atas kasurnya. Mungkin sebelum tidur dia sering membacanya.
"Wuihh.. kece. Eh.. bukannya itu buku lama ya?"
"Iya keknya tapi baru sempet beli ini. Kalo enggak, baca buku atau novel tuh disana" dia menunjuk ke salah satu sudut kamar. Aku mengalihkan pandangan melihat ke sebuah sudut kamar yang ditunjuknya. Rupanya banyak sekali buku yang dia miliki tapi rasanya tidak ada yang berhubungan sama sekali dengan kuliah yang dia ambil. Aku juga melihat banyak sekali kertas-kertas coretan di samping tumpukan buku. Mungkin coretan-coretan kuliah pikirku. Dia pun beranjak dari duduknya, mengambil keperluan untuk mandi dan pergi menuju ke arah kamar mandi tanpa sepatah katapun.
*****
"Oh..iya sampai lupa nawarin minum. Mau minum ape?"
Aku memalingkan pandanganku dari layar kaca dan melihat ke arah wajahnya. "Ahh.. gak usah. Gak perlu di tawari gue udah ngambil sendiri nih. Haha..." sambil menunjukan gelas ke arahnya.
Dia menoleh ke arahku. "Air putih aja nih? ".
"Iyeee...". Aku sengaja cuma minum air putih karena nanti juga bakalan minum kopi. Aku tau kalo ada beberapa kopi sachet dan susu sachet yang digantung di dekat jendela. Macam warung kopi saja aku pikir. "Yaudah yuk berangkat". Dengan pakaian kemeja kotak flanel hitam, jeans biru yang sedikit pudar dan sepatu sneaker aku pikir sudah cukup nglindungin dari angin malam. Ditambah sedikit aksesoris yaitu jam tangan dan beberapa gelang hasil kreasi sendiri. Sudah menjadi kebiasan bagiku menggunakan jam dan gelang.
"Gak pake jaket lu?" tanya dia sambil mengambil jaket jeans biru yang ada hoodienya.
"Ah.. gak usah. Kan elu yang depan" sahutku.
"Ebuseeeet... haha. Oke deeh... "
Suasana kota pelajar malam itu begitu bersahabat. Tujuan pertama kami adalah angkringan stasiun Tugu. Cukup banyak tukang parkir waktu itu yang mengarahkan kendaraan kami seakan tau kalau tujuan kami adalah mampir di angkringan. "Lumayanlaah gak begitu rame" batinku. Banyak sekali anak muda yang menghabiskan waktunya bersama teman-temannya. Kebetulan malam ini adalah Sabtu malam. Setelah selesai berurusan dengan motor, parkir dan tukang parkirnya kamipun langsung menuju ke salah satu angkringan.
"Monggo... monggo" salah seorang pedagang angkringan menyambut kami dengan ramah.
"Pak. Es susu tape setunggal nggih. (dibaca : es susu tape satu ya) lu pesen ape?" temenku bertanya padaku.
"Ah.. aku kopi jos aja pak"
Kami disodori sebuah kertas menu. Karena tidak begitu rame jadinya tadi bilang duluan. Kamipun duduk di dekat segerombolan anak muda-mudi. Mahasiswa semester awal pikirku.
"Niih.. gue udah. Sekarang lu yang pesen" sambil menyodorkan kertas menu.
"Banyak banget lu pesennya" dia kaget saat melihat apa yang aku tulis. Yaah.. namanya belum makan seharian. Ditambah kangen banget sama suasana angkringan seperti ini. Dia pun segera menulis beberapa pesenan dan menyodorkan ke penjual. Tidak lama pesanan pun datang.
"Gimana? enak kagak?"
"hemmm.. heemm..." Aku hanya bisa mengangguk dan memberi isyarat karena mulut penuh dengan makanan.
"Udah.. santai aja. Baru jam segini jugak. Makanan masih banyak"
Aku tidak memperhatikannya. Aku sedang sibuk dengan semua makanan yang ada di depanku. "Gak ambil foto lu" tanyaku setelah selesai menikmati semua makanan.
"Ah.. enggak. Entar aja. Aku dah beberapa kali ambil foto di spot sini"
"Yaudah fotoin gue aja. Haha..."
"Wuuuth?? wani piro? haha..."
Diapun mengambil sebuah kamera profesional yang dia bawa dan mengambil beberapa gambar diriku yang sedang asik menikmati kopi jos. Kopi yang bercampur dengan arang panas ditaruh langsung di minuman kopinya.
Dia memasukan kameranya kembali. "Habis ini mau kemana?"
"Terseraaah.. elu dah. Elu kan yang dah lama disini"
"Haaah... kek cewek lu. Pake terserah segala"
Karena dia bicara begitu aku pun mulai membahas soal wanita. "Eh... lu dah punya pacar belum?"
Dia menoleh ke arahku sambil menikmati minuman pesanannya. Kedua alisnya terangkat. "heeem..??"
Aku pun bertanya kembali tapi jawaban yang aku dapat bukan iya ataupun tidak. Dia hanya membalasku dengan ketawa.
"Yaudah yuk lanjut ke tempat berikutnya. Dah selesai kan lu? Gak mau pesen lagi?"
Aku pun meng-iyakannya.
Selama perjalanan kami hanya membahas tentang persoalan kuliah dan masa SMA, tidak sekalipun membahas tentang wanita. Atau bahkan dirimu. Dirimu yang dia cintai dari awal bertemu.
*****
Jumat, 15 April 2016
Published 23.01.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| Romantisme si Laki-Laki Pemalu |
Kau laki-laki pemalu.
Kau laki-laki yang khusuk
mendoakannya dalam setiap sujud. Mendoakan keselamatan dan kebahagian
orang yang kau sayang. Mendoakan supaya nanti dirimu dan dirinya
dipersatukan dimana Tuhan sebagai saksi suci. Kau hanya berkata :
“Kepedulian dan perhatian bukan selalu tentang suatu yang diperlihatkan
atau bahkan dipamerkan ke semua orang. Aku hanya bisa berdoa”.
Kau laki-laki pemalu.
Kau laki-laki pemalu.
Kau
laki-laki yang diam-diam memperjuangkannya. Kau yang bersemangat saat
bekerja mencari nafkah sebagai usaha untuk menjemputnya. Atau setidaknya sekedar berada disekitarnya. Nafkah yang kau gunakan untuk bisa pergi makan dengan dia dan teman-temannya. Nafkah yang kau gunakan untuk menemani dia yang senang
berpetualang. Kau yang bekerja keras supaya nanti bisa pergi makan dan
berpetualang dengan dia hanya berdua sebagai pasangan suci. Kau hanya
berkata : “Aku tidak bisa diam saat mencintainya”.
Kau laki-laki pemalu.
Kau laki-laki pemalu.
Published 22.55.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| 3 |
Nanti kalo udah nyampek sms aja bro. Aku dah di stasiun. Slow aja... aku juga lagi hunting photo kok.
Aku pun segera membalas pesan singkat itu.
“Woyy...
!” terdengar suara dan tepukan di bahu yang mengagetkanku. Ternyata
Dia. “Gilee lu. Kaget gua” jawabku spontan. Diapun hanya tertawa
terbahak-bahak. Seakan-akan tidak peduli kalau jantung ini mau copot.
“Yaudah, shalat dulu sana. Blm shalat kan luu” kata Dia.
Selama
perjalanan dia begitu cerewetnya menjelaskan apa saja yang kita lihat di
kanan-kiri eksotisnya jalanan kota pelajar di sore hari itu. Bagai
pemandu wisata yang mau di bayar lebih. Aku tersenyum dan dalam batinku
terucap : “Inilah Dia. Laki-laki yang kata orang pendiem, sombong karena
jarang nyapa, maklum deh orangnya pemalu, aneh, absurd gitu deh.
Apalagi kalau sama wanita. Cuma bisa jadi patung. Tapi entahlah kalau
selama beberapa tahun ini sudah berbeda jadi sedikit lebih percaya diri.
Tapi kalo udah kenal ramenya minta ampun deh”. Aku pun tertawa sendiri.
Lalu bagaimana perasaan dia, apakah masih terjaga untukmu?
Published 22.51.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| 2 |
Aku jadi teringat dengan percakapan kami malam itu.
Percakapan yang mengungkapkan rahasia terdalam dari sebuah perasaan.
Kira-kira bagaimana ya kabarnya Dia. Bagaimana dengan perasaannnya
kepada Wanita itu. Aku pun melamun. Bagaimana jika itu terjadi padaku?
Apakah aku kuat menahan perasaan itu? Ah tidak. Aku tidak seperti Dia
yang pandai menyimpan perasaan. Kalau itu terjadi padaku sudah pasti aku
katakan dari awal. Tidak perduli dengan apa yang akan terjadi nanti.
Aku pun teringat sesuatu. Oh iya, wanita yang dicintai oleh Dia kan
populer waktu di SMA. Setidaknya aku tahu dari kelas satu sampai kelas
tiga selalu ada yang mengejar-ngejar cinta wanita itu. Entah itu teman
satu kelas, teman satu angkatan. Atau bahkan kakak tingkat.
Aku
pun teringat kembali waktu kelas satu wanita itu memiliki hubungan cinta dengan
kakak kelasnya yang duduk di bangku kelas dua IPA. Aku tidak tahu secara
pasti tapi itu memang sudah menyebar luas di SMA terlebih lagi di
kelas. Waktu kelas dua dan tiga pun begitu. Wanita itu punya hubungan
cinta dengan teman satu kelasnya. Aku pun mengernyitkan dahi berpikir
lebih dalam. “Apa? Teman satu kelasnya? Bukankah dia dan wanita itu satu
kelas selama tiga tahun?” Aku berkata dengan diriku sendiri di dalam
hati. Bagaimana dia bisa bertingkah biasa saja di depan wanita dan
laki-laki yang dicintai oleh Wanita itu. Aku tak habis pikir dengan apa
yang dia lakukan dalam kesehariannya. Enam hari dalam seminggu selama
tiga tahun memasang wajah tidak terjadi apa-apa.
Bagaimana
jika itu terjadi padaku? Bukankah cinta datang tanpa diundang? Aku hanya
terdiam dan mendoakan dia supaya diberikan kekuatan dan kesabaran. PING! Terdengar dentingan suara handphone
memecah lamunanku. Aku tersadar bahwa aku harus bergegas packing
barang untuk kembali ke daerah asal sebelum menghadapi tugas akhir. Aku pun menghubungi dia, temanku itu. Berniat singgah di tempatnya, menikmati suasana kota
pelajar. Sebelum pulang menuju ke rumah.
Published 22.12.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| 1 |
Malam ini aku sibuk dengan
lembaran-lembaran kertas dan buku-buku untuk aku pelajari sebagai
persiapan menghadapi ujian besok. Terdengar suara handphone
berdering tanda ada pesan singkat yang masuk. Kamar yang berantakan
penuh dengan barang bertumpukan itu membuatku bingung menemukan
keberadaan handphone. Akhirnya aku temukan. Ada nama dia yang
nampak di layar depan. Ternyata “dia” teman SMA ku dulu yang mengirimi
pesan singkat. Aku baru sadar kalau sudah satu tahun aku tidak bertemu
dengan dia. Sudah dua semester ini juga aku tidak pernah berkontak
dengan dia secara langsung. Maklum aku dan dia menempuh sekolah di
perguruan tinggi yang berbeda. Tidak hanya perguruan tinggi yang berbeda
tapi provinsinya pun berbeda. Dengan jarak yang jauh ini sulit bagi
kami saling bertegur sapa secara langsung. Aku pun mulai membaca pesan
singkat itu dan mulai melompat kegirangan. Bagaimana tidak, dia
mengajakku dan beberapa teman SMA kita dulu untuk melakukan sebuah
pendakian di Merbabu saat liburan semester dua. Kebetulan kita memiliki
hobi yang sama. Sudah sejak SMA aku dan dia bergabung dalam organisasi
pecinta alam. Aku pun langsung meng-iyakannya.
Hari yang
dinanti pun datang juga. Dengan wajah sumringah kami saling bertegur
sapa menanyakan keadaann dan kabar. Ada satu teman wanita ternyata yang
ikut dalam pendakian ini. Namanya Tika. Kami bertiga adalah teman dekat
waktu SMA dulu.
Malam dimana kebenaran pun terungkap.
Hawa
dingin menyelimuti malam saat kami beristirahat di pos 2 Merbabu. Kami
memutuskan untuk membuat tenda disini. Malam-malam kami habiskan dengan
mengobrol sambil minum kopi dan susu hangat. Setelah sebelumnya membuat
makanan dari perbekalan yang kami bawa dari bawah dan sayuran yang kami
dapat dari petani di bawah. Awalnya kami ingin membelinya tapi petani
itu memberikannya cuma-cuma. Malam semakin larut tinggal kami bertiga
yang mengobrol di tempat yang sama. Di bawah pohon yang tak begitu besar
tapi begitu rindang. Aku, Dia dan Tika duduk bersebelahan menggunakan
satu matras dikelilingi oleh tenda-tenda di sekitar. Kami mengobrolkan
kenangan-kenangan yang telah kami lalui di masa SMA dulu dan kesibukan
masing-masing di perguruan tinggi yang berbeda. Ngobrolin tentang
kenakalan-kenakalan waktu SMA dan lambat laut mengarah ke arah
percintaan. Membahas soal mantan, gebetan, kasih yang tak sampai dan
persoalan cinta lainnya. Kami pun menertawakannya. Aku pun bertanya
dengan dia, teman baikku itu. “Lagi deket atau suka sama siapa?” Kataku.
Dia hanya tersenyum dan mengelak merasa tak nyaman ditanyai seperti
itu. Karena tidak mau menjawab kemudian si Tika pun bercerita tentang
masa lalunya yang kami berdua tidak tahu.
Tika menceritakan bahwa
dulu waktu SMA pernah ada wanita yang menyuruhnya menjauhi seorang
laki-laki. Wanita itu berkata kepada Tika bahwa dia sudah terlanjur
sayang dengan laki-laki itu dan menyuruh Tika untuk menjauhinya. Karena
kebetulan saat itu Tika sedang dekat dengan laki-laki itu. Aku pun
sontak merespon ke Tika dengan nada bercanda :”Laah.. kok bisa. haha”.
Hanya aku yang merespon apa yang dikatakan oleh Tika. Entah kenapa
temanku yang satunya hanya berdiam dan cuma sedikit tersenyum. Aku dan
Tika pun saling menatap dengan raut wajah penuh dengan pertanyaan. Kami
berdua sepemikiran. Apa yang terjadi dengan teman kita yang satu itu
tuh.
Tidak selang lama Dia pun berkata : “Sebenarnya aku suka
dengan wanita itu”. Aku dan Tika pun sontak kaget. Aku bingung harus
bagaimana untuk menyambung percakapan ini. Karena begitu bingungnya
hanya kata “terus?” yang secara spontan aku katakan. Dia pun
menceritakan bahwa dia sudah suka dengan wanita itu sejak SMA kelas
satu. Kebetulan dia dan wanita itu satu kelas bersamaan. Bahkan tiga
tahun Dia dan Wanita itu duduk di dalam satu kelas yang sama. Aku yang
waktu kelas satu duduk disampingnya begitu kaget tidak menyadari kalau
laki-laki yang katanya “kasar” itu menyimpan perasaan begitu sangat
dalam dan merahasiakannya sampai sejauh ini. Selain itu, yang membuatku
begitu heran adalah kuatnya dia dalam menyimpan perasaan itu, bagaimana
tidak. Laki-laki yang disuruh untuk dijauhi oleh Tika itu ternyata
adalah teman dekatnya Dia. Dia, Laki-laki itu, dan Wanita itu adalah
teman satu kelas waktu kelas dua dan tiga. Aku dan Tika pun hanya
berucap agar dia kuat dan bersabar.
Malam semakin malam. Langit
yang begitu cerah memperlihatkan bintang-bintangnya. Indah sekali malam
itu. Hawa dingin yang menyelimuti terhalang oleh hangatnya percakapan
kami. Seakan-akan Tuhan menyuruh kami untuk berlama-lama disitu. Karena
besok pagi-pagi kita sudah diharuskan untuk bangun dan melakukan
perjalanan maka kami mengurungkan diri untuk berlama-lama. Aku pun masuk
tenda bersamaan dengan Dia. Tampak jelas raut bingung yang ada
diwajahnya. Sesekali dia menutupinya dengan canda dan senyum.
Masih
menjadi pertanyaan besar hawa dingin, suasana yang begitu tenang,
obrolan hangat di pegunungan bisa membuka misteri yang begitu dalam.
Published 22.05.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| [Quotes] Pendiam |
Pendiam. Tak punya kata cinta terangkai terucap. Tapi punya rasa tersendiri untuk menyayangi.
Published 19.16.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| [Quotes] Pemuja Rahasia |
Langganan:
Postingan (Atom)


















