Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

Published 07.37.00 by with 0 comment

Perjalanan Pertama Menggunakan Kereta Api Indonesia

Perjalanan Pertama Menggunakan Kereta Api Indonesia
Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke ibukota, Jakarta. Untuk mengikuti sebuah acara yang sudah lama ingin saya hadiri. Hal pertama yang saya siapkan tentu saja adalah akomodasi dan transportasi. Setelah mendapatkan tempat untuk menginap, saya pun mencari transportasi untuk menuju ke tempat tujuan. Entah kenapa yang terpikirkan di benak saya adalah menggunakan kereta api. Padahal banyak moda transportasi lain yang bisa mengantarkan diri ini menuju Jakarta dari Yogyakarta. Yaitu menggunakan mobil travel, bus, juga pesawat terbang. Mungkin karena yang ada di dalam pikiran saya sewaktu mendengar kata “Kereta Api” adalah murah dan mudah. Tapi apakah itu benar?

Kalau dibandingkan dengan moda transportasi darat lainnya harga tiket kereta api Indonesia bisa dibilang tidak jauh berbeda. Berbeda lagi kalau dibandingkan dengan harga tiket menggunakan pesawat terbang. Terakhir saya cek dengan kelas yang sama (yang paling murah), harga tiket pesawat terbang lebih dari dua kali lipat harga tiket kereta api. Tentu saja ini tidak masalah bagi mereka yang lebih mengutamakan kecepatan waktu tempuh. Karena lama penerbangan dari Yogyakarta menuju Jakarta terbilang singkat yaitu sekitar 1 jam 30 menit. Bisa dibilang belum sempat tidur, sudah sampai saja di tujuan. Tanpa adanya penundaan pernerbangan tentu saja. Berbeda dengan menggunakan kereta api yang harus menempuh waktu sekitar delapan hingga sembilan jam.

Selanjutnya kalau ditinjau dari segi kemudahan, memesan tiket kereta api pada era serba internet ini tentu saja sangat mudah. Kita hanya butuh membuka situs dan mengisi data selain harus membayarnya juga di akhir nanti lewat salah satu jenis pembayaran yang disediakan. Bisa lewat atm bersama, atm prima dan lain sebagainya. Atau bisa juga memesan tiket dengan menggunakan aplikasi yang tersedia di App Store dan Play Store.

Selain kemudahan untuk pemesanan tiket, pengguna kereta api Indonesia juga dimudahkan ketika proses pencetakan tiket di stasiun. Pencetakan tiket ini diperuntukan bagi pengguna kereta api yang sebelumnya memesan tiket secara online. Ini dibuktikan dengan banyaknya komputer yang disediakan sehingga proses antrian tidak begitu panjang dan waktu yang dibutuhkan tidak begitu lama karena hanya tinggal memasukan nomor pemesanan. Tapi, karena saya baru pertama kali bertemu dengan sistem semacam ini maka hal ini membuat saya sedikit lebih lama di depan komputer. Dikarenakan kesalahan dalam memasukan nomor pesanan. Sebenarnya di stasiun banyak kurir barang yang bisa dimintai tolong tapi karena ketidaktahuan saya sebelumnya maka saya pun berusaha sendiri.

Selain kegagapan saya ketika berhubungan dengan nomor pesanan, ada peristiwa lain yang bisa dijadikan pelajaran. Ketika sampai di stasiun maka langkah selanjutnya bagi mereka yang memesan tiket via online adalah menuju deretan komputer untuk mencetak tiket. Yang mana proses pencetakannya dilakukan sendiri tanpa bantuan dari petugas stasiun. Namun yang saya lakukan sebelumnya palah ikut mengantri di loket tiket. Tapi entah kenapa hal ini tidak membuat saya merasa malu. Hal-hal baru semacam ini merupakan suatu hal yang menyenangkan. Selain menambah ilmu juga bisa dijadikan sebagai bahan untuk bercerita.

Memasuki Kehidupan di Dunia yang Berjalan

Setelah menunggu sekitar satu jam, kereta yang akan membawa saya pun datang. Saya memang sengaja datang jauh lebih awal dari waktu keberangkatan hanya untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Namanya juga pengalaman pertama yang mana tidak tahu apa saja yang harus dilakukan. Sembari menunggu, seperti biasa saya selalu memperhatikan situasi dan bagaimana semuanya berjalan. Para kurir barang yang sigap membantu calon-calon penumpang untuk mencetak tiket dan membawakan barang, para calon penumpang yang berdirian setelah kereta yang akan mengantarkan mereka telah diumumkan lewat pengeras suara, pegawai stasiun yang dengan tekun membersihkan lantai untuk kenyamanan dan berbagai macam kegiatan para calon penumpang dalam menunggu keberangkatannya.

Waktu itu saya memulai titik keberangkatan di stasiun Lempuyangan. Sebelum memasuki area jalur rel, ada pemeriksaan tiket terlebih dahulu. Ditambah dengan pengecekan kartu identitas KTP. Kemudian menuju jalur kereta api yang sesuai dengan yang tertera pada tiket. Pada momen ini saya sedikit panik karena saya tidak tahu jalur mana yang ditunjukan pada tiket dan waktu sudah menuju jam keberangkatan. Saya pun bertanya ke kurir yang ada di sebelah kanan saya. Sang kurir pun menjawab dengan baiknya walaupun terdengar seperti bernada ketus. Kemudian saya pun bergegas menuju jalur yang ditunjukan sang kurir dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Setelah berjalan saya baru sadar ternyata keterangan nomor jalur tertera di bagian atas stasiun.

Saya pun menuju kereta dan kemudian mencari nomor gerbong tempat saya duduk. Tidak lupa mencari nomor kursi setelah sebelumnya bertanya dengan sepasang muda-mudi. Setelah sampai di kursi yang sesuai dengan yang ada di tiket, saya merasa sedikit kecewa dengan apa yang saya lihat. Ada dua kekecewaan yang saya rasakan. Pertama, kursi yang sesuai dengan nomor kursi di tiket sudah diisi oleh orang lain. Dimana posisi yang saya pesan waktu itu adalah dekat dengan jedela. Namun setelah sedikit mengobrol saya pun merelakannya. Saya pun duduk disamping orang yang menduduki kursi pesanan saya.

Kedua, kursi yang saya duduki membelakangi arah tujuan. Itu bisa membuat saya merasa pusing ketika perjalanan. Yang ada di dalam pikiran saya sewaktu memesan posisi kursi via aplikasi adalah bahwa setiap kursi mengarah ke arah tujuan (depan).  Sama seperti posisi kursi di bus dan pesawat pada umunya. Kalau kereta ekonomi yang saya pesan ternyata setiap dua baris saling berhadapan. Seperti apa yang ada di dalam scene perjalanan menggunakan kereta api pada film 5cm.

Pukul 9 pagi tepat sesuai jadwal keberangkatan, kereta pun melaju membawa kami para penumpang menuju tempat tujuan. Waktu itu dua baris kursi yang saling berhadapan, dimana setiap baris terdiri dari dua kursi terisi oleh tiga orang anak muda termasuk saya dan satu orang laki-laki berumur.

Tidak butuh waktu lama kami bertiga yang masih muda ini mulai akrab. Perbincangan demi perbingangan mengisi perjalan kami. Sedangkan laki-laki berumur tadi lebih banyak diam dan sering pergi meninggalkan gerbong dan menuju ke gerbong lain setelah meninggalkan telepon genggamnya menancap di colokan listrik yang disediakan oleh pihak kereta api. Ternyata di kereta kelas ekonomi yang sudah ber-AC ini disediakan pula fasilitas pengisian daya listrik . Sebuah hal yang sangat bermanfaat bagi penumpang terlebih untuk saya, mengingat bahwa daya baterai telepon genggam yang saya miliki mudah habis.

Sebenarnya malam hari sebelum hari keberangkatan saya sudah mencoba meminjam powerbank ke sejumlah teman lewat grup kelas. Namun satu orang teman yang mau meminjamkan powerbank-nya sedang tidak berada di Jogja. Jadi apa yang diberikan oleh PT. Kereta Api Indonesia lewat fasilitas pengisian daya listrik gratis ini sangat membantu.

Kepala ini mulai pusing dan sensasi di perut begitu hebohnya membuat saya mulai merasakan mual. Bukan karena posisi duduk yang membelakangi arah tujuan tapi karena tubuh ini terguncang hebat ketika di kamar mandi. Sungguh bukan ide yang bagus untuk memenuhi panggilan alam ketika kereta sedang berjalan. Pergi ke toilet untuk memenuhi panggilan alam ketika kereta berhenti di stasiun untuk sementara waktu memang sebuah solusi. Karena tidak merasakan gerbong kereta yang bergoyang hebat. Mungkin ini pengaruh dari posisi toilet yang dekat dengan roda belakang kereta dan juga dekat dengan penyambung antara gerbong satu dan gerbong lainnya. Sehingga guncangan yang tidak stabil itu begitu terasa.

Tidur merupakan sebuah solusi dalam menunggu sampai ke tujuan dan meredam rasa mual tapi saya lebih suka menikmati pemandangan yang disuguhkan diperjalanan. Rumah-rumah di pedesaan, lorong gelap yang sunyi, bangunan-bangunan tua, perbukitan dan hutan gersang, hamparan sawah yang begitu luasnya, sampai ke wilayah pemukiman perkotakan yang kumuh dan padat. Dalam benak selalu bertanya-tanya bagaimana jika saya berada di posisi mereka. Berada di lingkungan mereka. Berada di situasi dan kondisi seperti mereka. Itu semua membuat saya belajar bagaimana caranya untuk bersyukur atas apapun yang telah Allah berikan.

Di satu sisi saya bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan ke negara dan masyarakat Indonesia dengan tanah yang subur. Juga kekayaan alamnya yang begitu indah. Sungguh bukan suatu ide yang bagus untuk mendapatkan murka dari Allah karena tidak menjadi pribadi yang pandai bersyukur atas semua yang telah Allah berikan. Di sisi lain saya juga bersyukur karena memiliki nasib yang jauh lebih beruntung daripada orang-orang yang saya lihat lewat jendela gerbong kereta api. Terima kasih telah memberikan kesempatan untuk saya melihat dan mengingat hal ini Yaa Allah.

Saya pun mengikuti jejak orang tua yang menjadi teman duduk di depan saya. Melangkahkan kaki menuju gerbong lain yang ternyata banyak kursi yang tak bertuan. Tak seperti yang ada di gerbong tempat saya duduk yang begitu padat dengan penumpang dan barang. Sungguh situasi yang nyaman untuk bersujud menyembah-Nya setelah mensucikan diri dengan air yang melimpah di toilet kereta api.

Dalam penantian menuju ke tempat tujuan saya melihat petugas kebersihan kereta api yang selalu mondar-mandir dengan tekunnya dari gerbong satu ke gerbong lainnya untuk membersihkan sampah dan menawarkan kantong kresek untuk menampung sampah para penumpang. Petugas kebersihan tersebut dengan sigapnya memunguti semua sampah. Menjaga kebersihan untuk kenyamanan para penumpang. Sungguh pekerjaan yang sangat saya hormati.

Ada juga pegawai berpakaian rapi yang bertugas mengecek tiket. Selain itu masih ada beberapa pegawai lain yang bertugas menjual berbagai macam makanan dan minuman. Saya pun akhirnya memesan segelas coklat panas sebagai teman membaca buku. Dalam lamunan di sela-sela membaca, saya teringat tentang sebuah kisah dari Agustinus Wibowo dalam bukunya “Titik Nol” yang menceritakan salah satu perjalanannya menggunakan kereta api menuju Mongolia dari RRC. Tentang perjalanan dan bagaimana menghabiskan waktu yang begitu lama di dalam kereta. Yang pasti tidak selama seperti yang saya rasakan.

Cahaya mentari senja itu menembus dinding kaca dan menyentuh wajah dengan hangatnya. Melukis senyum di wajah yang terlihat dingin ini. Tas yang berada di atas pun saya ambil bersamaan dengan para penumpang yang juga bersiap-siap untuk turun di stasitun Jatinegara. Sembari menunggu kabar dari teman lewat telepon genggam yang akan menjembut kedatangan saya di Jakarta saya pun melepas salam perpisahan ke kedua teman baru yang saya kenal di bangku gerbong kereta api.

Kereta pun berhenti, langkah kaki ini pun membimbing melanjutkan perjalan. 
Read More
      edit

Sabtu, 19 November 2016

Published 15.34.00 by with 0 comment

The Lucky Boomerang Bookshop dan Sebuah Perjalanan dalam Menemukannya

Sebuah Hadiah yang Saya Dapatkan dari Lucky Boomerang Bookshop
12 November 2016 - Dunia sastra memang sesuatu hal yang menarik bagi saya. Terutama di akhir semester saya berada di kampus. Kebiasaan saya sering membaca sewaktu kecil yang sudah lama hilang akhirnya kembali lagi. Kini saya menemukan apa yang ingin saya lakukan. Salah satunya adalah mempelajari banyak hal di dunia sastra.

Hari ini saya akan memenuhi janji dari seorang teman yang mengajak untuk mencari buku atau sekedar melihat-lihat di salah satu toko buku yang epic di kota Yogyakarta. Toko buku itu adalah Lucky Boomerang Bookshop yang terletak di jalan Sosrowijayan GT 1/95 Gang 1 Yogyakarta.

Des. Seorang teman yang saya kenal lewat program Kuliah Kerja Nyata mengajak saya menjelajah menemukan toko buku yang katanya epic itu. Saya dan Des memiliki kesukaan yang sama, yaitu dunia sastra. Banyak hal yang dapat saya pelajari darinya tentang dunia sastra dan lain sebagainya. Terlebih dia mengambil program studi sastra inggris. Dimana sastra dan bahasa Inggris merupakan suatu hal yang menggoda untuk saya pelajari.

Berangkat dari tempat saya tinggal di Jogja, sekitar 15 menit kami sudah sampai di sekitar jalan Malioboro dengan menggunakan sepeda motor. Waktu itu ada sedikit pertanyaan ketika ingin memasuki jalan Malioboro, dimana sepeda motor boleh masuk jalan Malioboro atau tidak. Karena dulu pernah membaca suatu berita yang mengatakan Malioboro bebas dari sepeda motor.

Akan tetapi setelah melihat lalu lalang sepeda motor dan mobil yang masuk jalan Malioboro saya pikir boleh-boleh saja. Terlebih disekitar saya mengendarai banyak polisi (yang katanya sangat tertib dalam menilang) membiarkan kami masuk jalan Malioboro.

Jalan Sosrowijayan sangat mudah kita temukan. Setelah menyusuri beberapa meter jalan Malioboro dan menemukan toko Circle K di kanan jalan, kita tinggal berbelok ke kanan menuju jalan masuk yang ada di sebelah toko Circle K tersebut.

Setelah masuk jalan Sosrowijayan kita tinggal menyusuri beberapa meter lagi untuk menemukan gang 1 yang berada di kanan jalan.
Gang 1
photo via : jalan sambil jajan
Masalah selanjutnya yang saya temukan adalah bingungnya mencari tempat parkir. Jalan Sosrowijayan pun kami susuri namun tidak ada yang menyediakan parkiran sampai akhirnya ada seorang bapak-bapak yang mengatakan parkirannya ada di dalam dan mengarahkan saya dan Des masuk ke sebuah gang yang ada di kanan jalan. Gang itu kami susuri, setelah mentok hanya sebuah jalan buntu dan sekumpulan bapak-bapak yang sedang asik mengobrol.

Saya dan Des kembali lagi ke jalan utama karena parkiran nyatanya tidak kami temukan. Ketika ingin kembali, seorang bapak-bapak yang kami temui di awal tadi akhirnya mengantar kami kembali ke tempat sekumpulan bapak-bapak yang sebelumnya kami temui juga. 

Salah seorang dari bapak-bapak yang asik mengobrol tadi bertanya: "Untuk hari ini mas?". Saya pun mengiyakan walaupun masih janggal dengan pertanyaan tadi. "Memang sih, parkirnya cuma untuk hari ini tapi perasaan tidak pernah ada orang jaga parkir yang bertanya seperti itu" Batin saya. Setelah turun dari motor saya melihat kesempatan, salah satu tali sepatu saya ada yang terlepas ikatannya. Saya pun segera mengikatnya dan iseng mengikat tali sepatu saya dengan sangat lama. Biar Des teman saya yang menyelesaikannya. Karena saya sepertinya sudah menangkap pertanyaan yang diajukan bapak tadi.

Ternyata benar, pertanyaan tadi adalah tentang sewa penginapan. Saya menahan ingin tertawa dan sebelum kami pergi bapak yang bertanya tadi bilang kalau tempat parkir untuk motor memang ada di tempat parkir Abu Bakar Ali. Jalan Malioboro memang bebas dari sepeda motor, dalam artian parkir ilegal di trotoar jalan.

Setelah berputar dan memparkirkan motor di kompleks parkir Abu Bakar Ali akhirnya kami menuju ke Gang 1 Srosrowijayan lagi dengan berjalan kaki. Sebenarnya, sebelum saya pergi ke daerah Malioboro saya sudah bertanya ke grup kelas kuliah di whatsapp. Tapi tidak ada respon sama sekali. Yasudah, biarlah. Pencarian harus tetap di lanjutkan.

Finally!

Sebuah toko buku dengan papan nama toko bertuliskan "Boomerang Bookshop" berwarna putih di atas sebuah papan berwarna hitam akhirnya kami temukan. Desain yang ditawarkan Lucky Boomerang Bookshop sangat unik. Seperti mencerminkan seseorang yang mencintai dunia seni, sastra dan traveling. Sesuatu hal yang saya cintai juga. 

Lucky Boomerang Bookshop tidak hanya sekedar sebuah toko yang menyediakan buku. Namun banyak hal yang bisa kita dapatkan di sana. Mereka menyediakan postcards, kerajinan tangan, suvenir yang bisa kita beli dan bawa pulang.

Kondisi buku yang dijual di Lucky Boomerang Bookshop beragam. Ada yang baru dan ada yang bekas. Dimana buku dapat kita dapatkan dengan kualitas yang terjamin. Sekian lama saya dan Des menghabiskan banyak waktu memilih buku disana, tidak saya temukan buku yang berbahasa Indonesia. Sejauh mata memandang, semua yang saya lihat berbahasa Asing. Selain buku dengan bahasa Inggris yang mudah dan banyak saya temukan, terdapat juga buku-buku dalam bahasa Prancis, German, Belanda dan lain sebagainya.

Saya seperti menemukan sebuah harta karun yang berada di tempat yang tepat. "Buku berbahasa asing, dari luar negeri, wow!" Teriak saya dalam hati. "Pokoknya harus membeli paling tidak satu buku untuk saya bawa pulang" Pikir saya. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, saya memang suka belajar dan berbicara bahasa Inggris dalam keseharian saya. Walaupun saya belum menguasai bahasa Inggris dengan baik dan benar. Terlebih saya sangat senang berkomunikasi dengan orang yang memiliki latar belakang yang berbeda dengan saya. Entah itu agama, pandangan politik, negara, bahasa, budaya dan lain sebagainya.

Dengan buku, saya bisa mendapatkan kedua hal tersebut. Melatih bahasa Inggris saya dan melihat sudut pandang penulis yang memiliki latar belakang berbeda dari karya yang dia tuliskan.

Selama saya dan Des disana, kami mendapati dua orang warga negara asing yang datang dan bertanya kepada pemilik toko buku tentang bisakah dia menjual buku yang dia bawa. Jawabannya adalah iya. Lucky Boomerang Bookshop  memang sebuah toko buku yang menjual, membeli dan menukar sebuah buku. Kebanyakan dari mereka adalah traveler yang mampir ke toko buku tersebut.

Selain itu, buku yang pernah kita beli dari sana bisa kita jual kembali ke toko buku tersebut dengan dihargai separuh harga pembelian.

Setelah menghabiskan banyak waktu mencari, akhirnya saya mendapatkan sebuah buku dari Alexander McCall Smith yang bejudul The Right Attitude To Rain. Buku ke-3 dari 12 buku yang ada dalam seri Isabel Dalhousie and the Sunday Philosophy. Sedangkan Des, teman saya, membawa pulang buku berjudul A friend of earth karya Tc Boyle.

Berikut adalah sedikit gambaran tentang Lucky Boomerang Bookshop dari situs resminya. Karena saya tidak sempat membawa kamera dan selain itu ada aturan tidak boleh mengambil gambar.




Silahkan mampir dan selamat berpetualang dalam pencarian.
Read More
      edit

Minggu, 30 Oktober 2016

Published 13.30.00 by with 0 comment

Puncak Syarif Gunung Merbabu dalam 57 detik



Sebuah memori tentang perjalanan saya mendaki gunung Merbabu untuk pertama kali yang diabadikan dalam 57 detik. Dimana waktu itu saya dan rombongan mendaki gunung Merbabu via Wekas menuju puncak Syarif.
Read More
      edit

Minggu, 09 Oktober 2016

Published 22.13.00 by with 0 comment

Rafting Sungai Elo Magelang

Hi Travelers, tidak lengkap rasanya kalau main ke Magelang tanpa merasakan wisata airnya. Setelah mengunjungi candi Borobudur tidak salahnya kalian mampir untuk merasakan arum jeram (rafting) di sungai Elo, Magelang.

Ada dua sungai di Magelang yang sudah dikelola dengan sangat baik untuk melakukan arum jeram. Selain sungai Elo terdapat juga sungai Progo. Akan tetapi untuk pemula saya sarankan untuk mencoba sungai Elo terlebih dahulu. Karena sungai Progo sendiri memiliki tingkatan yang lebih tinggi daripada sungai Elo.

Selain memiliki tingkatan keamanan yang tinggi, sungai Elo juga bisa anda nikmati dengan waktu yang cukup lama dengan durasi 2,5 - 3 jam. Sangat memuaskan bukan?

Sungai Elo sendiri bisa kalian lihat di sekitar candi Mendut. Banyak sekali hotel, tempat makan dan perusahan pribadi yang bisa kalian datangi untuk mendaftar arum jeram. Terdapat tiga pembagian waktu pemberangkatan yaitu pagi (08.00-09.00), siang (12.00-13.00) dan sore (15.00).

Saya sarankan untuk membawa teman dan keluarga untuk mengikuti arum jeram, selain menambah keseruan dan menghemat pengeluaran juga jadwal arum jeram anda bisa dilakukan secepatnya. Karena jumlah minimal dalam satu perahu arum jeram adalah 4 sampai 6 orang. Dimana River Guide tidak terhitung dalam jumlah yang saya sebutkan tadi.

Tapi untuk kenyamanan anda reserfasi sebelum kedatangan sangat saya anjurkan.

Fasilitas yang bisa anda dapatkan adalah sebagai berikut.
1. Asuransi
2. Sewa peralatan arum jeram
3. River Guide/ pemandu
4. Transportasi dari tempat penyedia jasa arum jeram sampai starting point (tempat awal peluncuran arum jeram)
5. Porter
6. Kamar mandi
7. Snack, air mineral dan kelapa muda di pemberhentian untuk istirahat
8. Paket makanan setelah selesai arum jeram

Sedangkan ada juga paket tambahan lainnya.
9. Free photo
10. Sertifikat (beberapa penyedia arum jeram menyediakan sertifikat)
11. Penyewaan kamera anti air/tahan air

Untuk biaya melakukan arum jeram dari tempat satu dan lainnya berbeda. Tapi bisa ditaksir kisaran Rp 600.000 - Rp 800.000 untuk satu perahu dan pemandu ditambah fasilitas yang saya sebutkan di atas (nomor 1 sampai 9).

Saya sendiri telah berkesempatan untuk melakukan arum jeram di Sungai Elo dua kali. Dengan penyedia jasa yang berbeda. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, perbedaan dari satu tempat dengan tempat lainnya adalah paket makanan (nomor 8), fasilitas tambahan dan tentu saja harga.

Berikut adalah keceriaan yang dapat diabadikan fotografer penyedia jasa saat saya dan rombongan melakukan arum jeram di sungai Elo.

Keseruan di Salah Satu Jeram yang Berada di Sungai Elo

Briefing Sebelum Mengarungi Sungai Elo

Salah Satu Atraksi yang Bisa Anda Nikmati

Menikmati Pemberhentian Pertama dengan Menyantap Snack dan Kelapa Muda (nomor 7)

Menikmati Sungai dengan Terjun Langsung

Enjoy!
Enjoy !
Read More
      edit
Published 18.14.00 by with 0 comment

Borobudur Sunrise

Hi Travelers!

Menikmati momen sunrise merupakan salah satu kenikmatan tersendiri dalam hidup di dunia ini. Dimana kita menunggu detik-detik munculnya sang surya menyinari alam di pagi hari. Dengan suasana udara yang sejuk jauh dari polusi.

Sebelumnya siapa sih yang gak tahu tentang candi Borobudur? Dimana gaungnya sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. 

Akhirnya, kaki kecil penulis bisa berkesempatan untuk melangkahkan kakinya ke candi Borobudur untuk menikmati sunrise. Dimana sunrise Borobudur digadang-gadang sebagai destinasi wisata yang wajib dikunjungi di dunia.

Tiket masuk untuk menikmati sunrise di candi Borobudur berbeda dengan tiket masuk candi Borobudur pada umumnya. Dimana tiket masuk candi Borobudur pada umumnya baru dibuka pukul 06.00 pagi. So, anda bakal ketinggalan untuk menikmati momen sunrise.

Cara termudah dengan akses yang lebih awal adalah melalui hotel Manohara. Anda boleh bermalam sebelumnya atau datang ke hotel Manohara di pagi hari. Dimana disana sudah dibuka pukul 04.00 pagi.

Inilah beberapa fasilitas yang akan anda dapat ketika menikmati sunrise melalui hotel Manohara.
1. guide (optional)
2. breakfast setelah menikmati sunrise
3. senter
4. souvenir (selendang batik)

Sedangkan untuk biaya melalui hotel Manohara adalah sebagai berikut.
1. Pengunjung Asing : Rp 400.000 per orang
2. Pengunjung Domestik/ Pengunjung Asing yang membawa KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas) : Rp 270.000 per orang.

Harga di atas tidak termasuk dengan guide.

Berikut adalah hasil yang bisa diabadikan oleh lensa SUKMAKUR.
Sunrise di Balik Batu Candi
view from Manohara hotel

Cloudy Bro.

Mt. Merapi
Enjoy !
Read More
      edit

Sabtu, 08 Oktober 2016

Published 20.39.00 by with 0 comment

Festival Payung Indonesia di Solo

Salah Satu Bentuk Kesenian Payung yang Ditampilkan dalam Festival
Ada acara baru nih yang bisa diagendakan buat kalian yang hobi jalan-jalan. Yang mungkin udah bosen dengan tempat yang itu-itu aja. Satu lagi event besar Indonesia yang akan menarik wisatawan yaitu Festival Payung Indonesia.

Untuk ketiga kalinya, Festival Payung Indonesia diadakan di tempat yang sama yaitu Bale Kambang, Solo, Indonesia.

Festival Payung Indonesia mempertemukan pelaku industri kreatif kreasi payung, penggiat pelaku seni karnaval dan masyarakat. Bertujuan untuk mengenalkan sejarah payung Nusantara yang merupakan salah satu karya seni dan budaya.

Festival Payung Indonesia sendiri di buka dari pukul 09.00 - 21.00. Cukup dengan uang tiga ribu rupiah untuk biaya parkir anda sudah bisa menikmati Festival Payung Indonesia. Karena Festival Payung Indonesia sendiri tidak dipungut biaya masuk alias GRATIS! Sangat terjangkau bukan?

Beberapa kegiatan yang rutin diadakan untuk memeriahkan festival ini di antara lain, workshop budaya, pasar seni, pagelaran fashion, pertunjukan tari, karnaval, lomba foto dan lukis, serta pameran foto.

Berikut adalah hasil jepretan mata lensa SUKMAKUR.

Keramian pada Hari Terakhir Festival Payung Indonesia 2016

Foto by @sukmakur
Hiasan di Gerbang Pintu Masuk

Read More
      edit

Sabtu, 03 September 2016

Published 15.42.00 by with 0 comment

Pantai Ngandong, Pantai Pelarian

April 2015 - Suatu ketika ada seorang wanita yang mengajak beberapa temannya nge-camp ke pantai, karena ingin melepaskan penatnya dari kegalauan asmara. Karena memang dasarnya saya suka dolan dan diajak, saya pun meng-iyakan dan ikut gabung. Eh iya.. selain itu dompet juga lagi longgar (penting itu!). Pantai yang kami pilih adalah pantai Ngandong, Gunung Kidul, Yogyakarta. Selain karena aksesnya yang mudah, sarana di pantai pun sudah lengkap. Maklum acaranya juga dadakan dan sebelum keberangkatan beberapa dari kami ada acara nonton Mata Najwa On Stage di GOR UNY kala itu. 

Walaupun pada waktu itu suasana malam hari tenang dan hanya ada satu tenda milik sepasang muda-mudi lainnya. Akan tetapi, pantai Ngandong tidak saya sarankan bagi anda yang ingin mencari suasana pantai yang tenang dan jauh dari "peradaban".

Karena saya tidak kebagian tiket nonton, saya hanya bengong dan menunggu kabar dari mereka yang mendapat pengalama lebih itu. Dimana banyak teman yang ikut karena dicarikan tiket sama teman lainnya sedangkan saya tidak ada yang mau ngasih.
(suramnyaa...)

Pada Hilang di Telan Kegelapan

Saya ingat bentul waktu itu hari Kamis (malam Jumat) dan acaranya selesai maghrib dan tentu saja kami akan berangkat malam hari. Dengan beranggotakan sembilan anak, dan saya naik motor sendiri.
(suram lagi...)

Belum juga masuk kota Wonosari dua teman saya dalam satu motor yang berada di depan menghilang. Selama perjalanan kami mencoba menghubungi mereka. Sampai akhirnya kami mengetahui kalau mereka memilih jalan yang berbeda. Dengan tujuan yang sudah dipastikan maka kami meneruskan perjalanan dengan jalur yang berbeda. Karena tidak dimungkinkan juga salah satu dari rombongan balik arah dan mengikuti rombongan yang lain.

Tidak sampai disitu, ketika masuk di jalan kecil dan gelap karena tidak ada penerangan lampu jalan, dua orang yang berada di depan saya menghilang. Karena jalan sangat gelap dan berliku maka pandangan saya terbatasi. Motor yang di depan hanya sekilas saya lihat. Saya pun memacu motor untuk mengejar pengendara yang paling depan untuk memberi tahu bahwa salah satu pendendara lain hilang. Dimana pengendara yang paling depan juga melaju dengan sangat cepat.

Dengan sedikit susah payah mengontrol laju motor karena jalanan gelap, berliku dan naik turun supaya terhindar dari tebing di samping dan jurang di sisi lainnya akhirnya pengendara yang paling depan bisa saya susul.

Masalah baru muncul lagi. Pengendara yang ada di belakang saya hilang juga karena saya mengendari motor dengan cepat. Laju motor pun kami (saya dan pengendara paling depan) perlambat, sambil menunggu informasi pengendara-pengendara yang lain. Saya hanya menempel terus pengendara yang paling depan karena jujur saja males juga kalo saya kesasar. Sudah tidak tahu jalan, mengandarai motor pun sendiri tidak ada yang ngebonceng.

Sampai akhirnya sampai di pantai dan kabar dari pengendara lain tidak kunjung datang. Tapi syukurnya tidak menunggu waktu lama kami pun dipersatukan lagi.
(cie ileeh...)

Malam itu kami habiskan dalam kehangatan sebuah pertemanan dan mendengarkan si wanita itu berkeluh kesah sampai kami kembali dalam peraduan.

Momen Kesuraman (untuk saya) Tak Kunjung Berhenti

Setelah menghabiskan pagi yang menyenangkan dengan pemandangan yang indah dan air laut yang segar. Akhirnya kami bergegas membereskan peralatan. Sampai tiba saatnya salah satu resleting tenda nyangkut di bahan tendanya. Dengan sedikit kehati-hatian dan ketidak keberuntungan akhirnya resleting itu bisa teratasi dengan sebuah lobang menganga. Arrggghhhhh....!!!

Yah.. mau bagaimana lagi pada akhirnya saya harus mengganti kain tenda yang kami sewa itu. Dengan bantuan dari temen juga, akhirnya denda tenda bisa lekas di bayar. Buat anda hati-hati ya.

Sunrise
Swiming
Me
Taken by : Amin

Wanita

Orang yang pertama ngilang - Orang yang naik motor sendiri

Pantai Ngandong

Sebelah Barat Pantai Ngandong

Read More
      edit

Senin, 29 Agustus 2016

Published 18.30.00 by with 0 comment

Merbabu via Selo yang Bersahabat

Mei 2016 - Ini hanya sebuah cerita lanjutan dari sebuah ajakan dadakan teman. Dimana beberapa hari sebelumnya nge-chat mau pinjam beberapa peralatan mendaki. Tapi waktu mengambil barang pada malam hari sebelum hari keberangkatan malah mengajak saya yang masih santai membaca beberapa buku. Dengan seditkit aah.. ihh.. uuh.. eh.. ooh.. akhirnya saya iyakan untuk ikut bergabung. Beruntung saya masih memiliki beberapa peralatan cadangan dan sisanya mereka (temen-temen lainnya) bersedia mengurusnya. 

Pendakian ini tidak jauh dari pendakian sebelumnya yaitu pendakian di gunung Prau. Karena mungkin temen saya sedikit kecewa karena ditinggal ke gunung Prau oleh temen-temen lainnya padahal dia sendiri yang mengajak. Karena alasan terntentu temen saya tidak bisa ikut dan membuat rencana pendakian selanjutnya yaitu ke Merbabu.

Beda Jalur Beda Rasa; pendakian kali ini kami memutuskan memilih jalur pendakian via Selo. Karena sebelumnya saya pernah mendaki gunung Merbabu menggunakan jalur lain, yaitu via Wekas. Maka saya bisa sedikit membandingkan ke dua jalur pendakian tersebut.
  • Via Wekas : Awal pendakian anda akan disuguhkan jalur langsung tanjakan, minim "bonus", melewati beberapa rumah penduduk terlebih dahulu, tidak menemui sabana luas, terdapat sumber air di POS 2
  • Via Selo :  Awal pendakian jalur masih landai, banyak "bonus" track, anda akan disuguhi sabana yang sangat luas, tidak terdapat sumber air, sepertiga jalur pendakian anda akan disuguhi tanjakan curam
Menurut saya pribadi bagi anda yang ingin melihat pemandangan yang indah, sabana yang luas maka jalur pendakian via Selo bisa menjadi solusi. Ditambah lagi dari beberapa perbincangan dengan orang-orang bahwa jalur pendakian via Selo lebih bersahabat bagi mereka yang masih pemula.

Waktu itu kami mendirikan tenda di Sabana satu Merbabu dan tidak mengejar Sunrise di puncak. Sekitar pukul delapan kami baru memutuskan untuk naik ke puncak setelah mengisi tenaga. Hanya beberapa barang saja yang kami bawa sampai puncak. Selebihnya kami tinggal di tenda.

Hamparan Rumput Hijau
Taken by : Amin
Sunrise di Sabana Satu Merbabu
taken by : Amin
Taken by : Amin
Taken by : Amin
Jump Around
Taken by : Amin
Trio Pendaki Cantik
Jalur Menuju Puncak
Setapak
Jump and Fly !
Taken by : Amin
Sabana 2 Merbabu
Puncak !

Jangan Ditiru

Taken by : Amin
Di Gunung Pemandangannya Indah yaa....
PS: Jangan Lupa bawa sampahnya turun dan jaga lingkungan. Salam....
Read More
      edit
Published 00.34.00 by with 0 comment

Gunung Prau via Patak Banteng Dieng

April 2016 - Gunung Prau terletak di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, Indonesia, dengan ketinggian 2.565 mdpl. Akhirnya saya berkesempatan untuk mendaki gunung yang pemandangannya keren ini. Lewat gunung prau kalian bisa melihat beberapa gunung yang berderetan dari puncaknya. 

Gunung Prau juga dikenal dengan track-nya yang cukup mudah dengan panjang lintasan dari basecamp sampai puncak yang tidak terlalu panjang. Sehingga dapat ditempuh dengan waktu yang cukup singkat, sekitar 2-3 jam anda sudah bisa melihat indahnya puncak Prau. Ini menguntungkan bagi anda yang baru pertama kali mendaki.

Setelah mendapat ajakan dari teman akhirnya saya putuskan untuk ikut. Jadwal keberangkatan sudah diputuskan jauh-jauh hari. Seiring dekatnya dengan hari H banyak teman yang pada tumbang karena sakit ataupun jatuh dari motor. Terlebih lagi yang mengajak palah tumbang (Bad luck Amin). Dengan sisa orang yang ada, perjalanan tetap kami lanjutkan. Sehubungan sudah matangnya persiapan dan susahnya mencari jadwal yang pas. Karena bentroknya dengan jadwal kuliah dan konsultasi buat skripsi, hem...

Perjalanan kami mulai dari Yogyakarta dan tiba di basecamp Patak Banteng sore hari menjelang malam. Dengan kondisi tubuh kedinginan karena hujan. Sesudah beristirahat sebentar dan mengurus ijin ke petugas akhirnya kami putuskan untuk mulai mendaki, sekitar setengah delapan waktu itu. Dengan anggota yang kebanyakan pemula kami putuskan untuk mendaki dengan slow saja. Sekitar pukul setengah sebelas akhirnya kami sampai puncak. 

Memilih Lokasi Pendirian Tenda; Setelah sampai di area puncak kami memilih pendirian tenda yang tidak terlalu dekat dengan puncak agar terhindar dari hembusan angin. Walaupun 2.565 mdpl tapi sangat dingin pada waktu itu. Dengan bermodalkan dua tenda akhirnya kami bermalam dengan membuat hidangan malam sebelum menuju ke alam mimpi.

Kabut Dimana-mana;  Pagi tiba waktunya menikmati mentari pun datang. Akan tetapi momen itu tidak bisa kami rasakan karena kabut putih tebal menyelimuti gunung Prau kala itu. Niat hati untuk mengabadikan momen sunrise dari puncak Gunung Prau dengan pemandangan gunung-gunung yang berjejeran tidak terlaksana. Tapi tak apa kami masih bisa merasakan kebersamaan yang ada.

Setelah dirasa cukup, kami putuskan untuk turun kembali ke basecamp.

Momen Tak Terlupakan; Hujan ringan menjadi teman perjalanan turun ke basecamp. Tentu saja jika hujan datang pasti membuat track menjadi basah dan licin. Menuju pos satu kala itu dengan pijakan yang kurang pas dan sepatu yang gak "ngegigit" badan ini pun terbanting dan terguling. Tapi syukur tidak sampai parah. Hanya kotor saja.
(Buat kalian hati-hati ya.. awas ujan licin! hehe..)

Akhirnya sampai juga di basecamp. Perjalanan pun kami teruskan kembali menuju Yogyakarta. Kota kami berpulang. Ternyata perjalanan kembali ke Yogyakarta bukanlah hal yang mudah. Ditemani hujan dan kondisi yang tidak fit membuat perjalanan terasa lama dan melelahkan.

Mungkin ini beberapa kenangan yang bisa kami abadikan kala itu. Semoga pada kesempatan lainnya bisa terhindar dari kabut dan mengambil gambar pemandangan dengan deretan gunung-gunung yang berjejeran. Terima kasih buat semuanya, terutama buat (saudara-saudaranya) Marwah yang telah bersedia menampung kami sebelum dan sesudah pendakian. Atas semua hidangan dan lain sebagainya. Hehe....

Salam Lestari.

Kebersamaan Kami
Canon 60D, lensa kit 18-55mm
ISO 500, 1/1000s, f/5.6
Pendaki Caem (Marwah)
Canon 60D, lensa kit 18-55mm
ISO 800, 1/2500s, f/5.6
Cuma Temen
Canon 60D, lensa kit 18-55mm
ISO 800, 1/2500, f/5.6
Turun-Turun ke Basecamp Gunung
Taken by : Imam
Taken by : Temen
Terima kasih kepada : Dinar - Imam - Marwah - Rahmat - Zuni - Satriyo - Neswin - Saya
PS : Jangan lupa bawa sampahnya turun dan jaga lingkungan. Salam..
Read More
      edit

Minggu, 28 Agustus 2016

Published 22.33.00 by with 0 comment

Tips Memotret Ketika Festival Lampion Waisak di Candi Borobudur

Mei 2016 - Waisak adalah hari suci yang selalu diperingti oleh seluruh umat Budha diseluruh dunia. Tanpa terkecuali bagi umat Budha di Indonesia yang kegiatannya terpusat di Candi Borobudur, Magelang. Hari raya Waisak diperingati pada bulan Mei saat purnama Sidhi atau terang bulan untuk memperingati 3 peristiwa penting yaitu lahirnya pangeran Siddharta, penerangan agung pangeran Siddharta menjadi Buddha, dan wafatnya Buddha Gautama.

Salah satu bagian dalam prosesi Waisak adalah pelepasan lampion. Ada yang mengatakan bahwa pelepasan lampion adalah puncak perayaan Waisak. Puncak acara yaitu pelepasan lampion bisa disebut juga dengan festival lampion. Namun sesungguhnya pelepasan lampion ini masuk dalam serangkaian prosesi acara keagamaan dan ritual yang biasa ada saat perayaan Waisak. Makna dari pelepasan lampion pada acara Waisak adalah pengharapan para umat Budha untuk keadaan yang lebih tinggi. Melepasan lampion pada acara festival lampion selain diikuti oleh umat Budha juga bisa diikuti oleh khalayak umum. Namun bagi anda yang ingin melepasan lampion pada acara festival lampion anda harus mengkonfirmasi ke panitia beberapa hari sebelum hari H dan membayar sejumlah biaya. Akan tetapi jika anda hanya ingin mengambil foto atau video, anda tidak akan dikenakan biaya sedikitpun. Termasuk terbebas dari biaya masuk candi Borobudur.

Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Perhatikan Cuaca
Tidak dapat dipungkiri bahwa cuaca merupakan faktor penting yang harus diperhatikan disaat kita pergi ke suatu tempat. Sejauh pengalaman saya tinggal di Borobudur pada hari Waisak sering terjadi hujan lebat. Akan tetapi datangnya hujan bukanlah hal yang datang sebagai pengganggu namun dianggap sebagai rejeki dari Tuhan. Hujan biasanya turun dari sekitar pukul tiga sore sampai malam menjelang. Akan tetapi beberapa jam sebelum acara pelepasan lampion kemungkinan sudah reda. Walaupun itu tidak dapat dipastikan. Biarkan Tuhan yang mengatur.
(Berdoa saja semoga cuaca mendukung...)

2.  Ketahui Waktu dan Tempat Pelepasan Lampion dari Sumber yang Terpercaya
Dari tahun ke tahun pelepasan lampion  tidak selalu dimulai pada jam yang sama dan tempat yang sama. Memang betul bahwa lokasi pelepasan lampion berada di kawasan candi Borobudur. Akan tetapi bisa berada di sisi yang berbeda dari tahun sebelumnya. Juga waktu pelepasan lampion tidak selalu sama dengan tahun sebelumnya.
(Jadi.. lihat jadwal baik-baik yaa..)

3. Perhatikan Langkah Anda
Seperti biasa pada acara yang langka seperti ini pasti banyak pengunjung yang datang untuk berburu momen. Terlebih lagi mereka akan berebutan memilih lokasi yang bagus untuk mengambil gambar. Akan tetapi kita juga harus memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan. Jangan sampai anda melewati taman-taman yang ada di sana dan akibatnya taman itu menjadi rusak. Selain itu buanglah sampah pada tempat yang sudah disediakan.
(Jaga baik-baik lingkungan ya..!)

4. Hindari Penggunaan Flash
Flash memang membantu anda dalam pengambilan foto di cahaya minim. Dimana dalam konteks ini anda akan memfoto di malam hari yang tentu saja kondisi cahaya sangat minim. Akan tetapi, lebih baik anda menghindari penggunaan flash agar tidak mengganggu konsentrasi umat Budha dalam beribadah.
(Gak pakai flash juga bagus kok!)

5. Minta Ijin Terlebih Dahulu Jika Ingin Berfoto
Hal ini terkait dengan banyaknya para pengunjung yang nyelonong berfoto bersama dengan para Biksu. Sebelum berfoto bersama dengan mereka, mintalah ijin terlebih dahulu. Apakah boleh saya mengambil gambar bersama dengan anda? Apakah saya tidak mengganggu anda? Mungkin itu beberapa pertanyaan yang bisa anda ajukan sebelum berfoto bersama mereka. Karena mereka adalah manusia bukan benda obyek foto terlebih lagi mereka sedang melakukan ibadah.
(Kan enak kalo gitu....)

6. Persiapkan Strategi dan Peralatan Anda dengan Baik
Alangkah baiknya sebelum kita berada di medan pertempuran kita persiapkan terlebih dahulu strategi dan peralatan bertempur. Sebelum anda berburu, membaca atau mendengar tips-tips para fotografer pro itu perlu. Lihat juga hasil-hasil jepretan mereka dengan objek yang sama.
(Terutama bagi saya yang masih amatiran ini. Hehe...)

7.  Putuk Situmbu, dengan Hasil Foto yang Berbeda !
Putuk Situmbu adalah salah satu lokasi spot terbaik untuk melihat Sunrise dengan latar Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan tentu saja candi Borobudur. Dengan pengambilan foto pelepasan lampion dari sana anda akan mendapatkan foto yang berbeda dari fotografer lainnya. Atau anda juga bisa mencari lokasi lain yang berbeda.
(Hati-hati mendung! hehe...)

Mungkin itu adalah beberapa hal bisa anda perhatikan sebelum memulai berburu foto di malam Waisak. Berikut adalah beberapa hasil foto yang saya abadikan.

Menuju Nirwana
Canon 60D, lensa kit 18-55mm
Mode Av, ISO 2000, f/4.5
Menerbangkan Harapan
Canon 60D, lensa kit 18-55mm
Mode Av, ISO 2000, f/3.5
Bersama Orang-Orang Tercinta
Canon 60D, lensa kit 18-55mm
Mode Av, ISO 2000, f/3.5
Selamat mengabadikan momen di tahun-tahun yang akan datang. Jangan lupa bawa orang tersayang untuk merasakan keromantisan ini bersama. Terlebih lagi hormati mereka yang sedang beribadah dan juga mari menjaga lingkungan. Salamm....
Read More
      edit