Selasa, 20 Desember 2016

Published 20.43.00 by with 0 comment

Pergi ke Dokter THT

Pergi ke Dokter THT
Kehilangan fungsi dari salah satu anggota badan itu memang suatu hal yang tidak menyenangkan. Begitupun anggota badan yang memiliki label sebagai panca indera. Tak perlu juga saya menyebutkan satu per satu anggota badan yang tergolong dalam panca indera.

Salah dua dari mereka adalah mata dan telinga. Kedua indera ini rentan untuk mengalami rasa sakit. Entah itu karena virus atau berasal dari pola hidup yang tidak baik. Kehilangan fungsi penglihatan secara normal pernah saya alami di bangku SMA. Namun hal itu sudah bisa teratasi dengan rutinnya mengedipkan mata ke sisa air teh semalam (teh basi semalam) di setiap pagi sebelum mandi. Serta mengurangi kebiasaan yang akan merusak fungsi mata.

Sejarah dengan penyakit di telinga juga memiliki cerita yang panjang. Kebiasan buruk karena terlalu sering mendengarkan musik menggunakan headset adalah salah satunya. Musik memang tidak bisa lepas dari hidup saya waktu itu. Apapun jenis alirannya. Terlebih musik metal dan hardcore, sampai suatu ketika pernah bergabung dan manggung di beberapa event sekolah dengan band yang beraliran demikian.

Belakangan ini sakit di telinga itu datang. Sudah tiga hari sakit di telinga yang sangat menyakitkan itu tak kunjung sembuh atau mereda. Menusuk dan mengeluarkan suara "nging" terus menerus. Terkadang suara "nging" itu mengeras dan rasa tertusuk itu seperti semakin dalam.

Sudah beberapa minggu suara "nging" di telinga kanan selalu mengisi setelah bangun tidur dan sudah beberapa bulan telinga sebelah kanan terasa seperti ada yang menyumbat ketika bangun tidur pula. Selama beberapa minggu dan bulan juga rasa itu akan mereda dan hilang setelah lama beraktifitas. Namun tidak dengan tiga hari belakangan ini.

Dengan melakukan tes-tes sederhana, pendengaran telinga kanan memang sangat berkurang. Tentu saja itu mengganggu ketika saya berkomunikasi. Tak hanya menurunnya pendengaran namun rasa sakit menusuk dan suara "nging" itu sangat mengganggu.

"Usia berapa?", "Dibarengi batuk pilek tidak?" itulah dua pertanyaan yang diajukan dokter spesialis THT yang saya temui di sebuah klinik.

Saya pun disuruh berbaring di sebuah kasur seperti yang berada di klinik-klinik pada umumnya. Dibantu oleh seorang asisten wanita yang juga merangkap sebagai resepsionis akhirnya telinga kanan saya diperiksa.

Semprotan air yang seharusnya menyegarkan atau mungkin mengakibatkan rasa geli nyatanya tidak saya rasakan. Namun rasa sakit yang menusuk itu yang timbul. Membuat saya meringis menahan rasa sakit. Hingga akhirnya proses selanjutnya yaitu mengeluarkan kotoran. Deretan gigi atas dan bawah saling beradu semakin menekan menahan rasa sakit. Kotoran yang lengket itu mengakibatkan proses tidak berjalan mulus dan memakan waktu. "Sumpaah ini sakiiiit bangeeeet!" batin saya. Sempat saya beberapa kali ingin bilang ke dokter untuk menghentikan aktifitas mengorek telinga kanan saya.

Kulit dalam memang begitu sensitif ditambah ada luka itu mengakibatkan tingkat kesensitifan bertambah. Otomatis rasa sakit yang timbul akan berlipat dari biasanya.

"Swooossh..." suara angin memasuki ruang-ruang dalam telinga keras terdengar setelah dokter mengeluarkan kotoran lengket yang cukup besar. Bahkan besar menurut saya. Suara itu seperti suara udara masuk lewat pintu pesawat yang terbuka ketika dalam penerbangan. Seperti suara udara yang masuk melalui lubang kamar kedap udara.

Udara itu begitu cepat memasuki telinga yang memiliki tekanan udara yang berbeda dengan udara luar. Selesai sudah serangkaian proses itu. Alhamdulillahnya hanya sebuah kotoran bukan sampai benjolan atau penyakit lainnya. Entah itu kotoran yang mengendap selama beberapa bulan atau tahun karena rasa mengganggu dan sakit ini pernah timbul ketika duduk di bangku SMA dan hanya saya biarkan begitu saja.

Kini banyak suara-suara asing yang saya dengar. Entah itu yang berasal dari luar atau dalam tubuh. Suara seperti sebuah pabrik yang mulai bekerja dan suara air mengalir mengisi pendengaran saya. Sampai akhirnya otak mulai mengenali suara asing-asing tersebut. Yang sebelumnya bahkan suara gesekan antara alas kaki dan lantai begitu bisa saya rasakan. Tidak hanya suara tapi getarannya yang sangat bisa saya rasakan.

Saya pun bertanya bagaimana cara membersihkan telinga yang benar dan dokter berkata bahwa yang dibersihkan cukup telinga bagian luar saja. Bagian dalam tidak perlu, karena itu bisa mengakibatkan kotoran masuk lebih dalam. Seperti yang saya lakukan sebelumnya yaitu menggunakan tisu dan air hangat yang nyatanya juga tak bekerja baik. Palah kotoran semakin masuk ke dalam dan menyiksa. Juga mungkin karena kebiasaan saya mendengarkan musik menggunakan headset yang mengakibatkan kotoran semakin masuk ke dalam.

Uang seratus ribu pun saya berikan ke dokter atas proses-proses yang sangat menyiksa tadi. Sesuai dengan biaya yang tertera. Juga dua ratus sepuluh ribu rupiah untuk menebus dua jenis pil yang harus saya minum agar tidak timbul infeksi. Dan menunggu tiga bulan untuk pemeriksaan ulang apakah ada infeksi atau tidak.

Berkaca dari pengalaman ini membuat saya enggan untuk mendengarkan musik atau apapun itu menggunakan headset secara berlebihan. Jangan sampai gendang telinga atau organ-organ dalam lainnya yang kena. Entah itu organ dalam telinga atau organ dalam lainnya. Cukup selama beberapa minggu ini, terlebih tiga hari terakhir saya merasakan menjadi orang yang tuli. Itu pun setengah tuli.

Tak bisa saya bayangkan mereka yang hidup dengan keterbatasan pendengaran. Saya sangat besyukur memiliki telinga yang bisa mendengar dengan baik. Dan saya bersyukur saya bisa mendengarkan lagi secara normal. Alhamdulillah.
Read More
      edit

Senin, 05 Desember 2016

Published 21.24.00 by with 0 comment

Berkah Pemotretan

Berkah Pemotretan
23 Nov 2016 - Siang ini setelah menyelesaikan pemotretan satu kelompok untuk buku tahunan, teman saya yang juga rekan fotografer buku tahunan mendapat pesan singkat lewat Whatsapp yang mengatakan bahwa jam 12.40 dibutuhkan jasa pemotretannya untuk acara wisuda di salah satu rumah dekat Kids Fun Yogyakarta. Sedangkan waktu sudah menunjukan sekitar pukul 12.15.

Motor pun di gas setelah bersiap dan sebelumnya mengajak saya untuk bergabung. Pengalaman baru, menantang dan tentu saja positif kenapa tidak? Singkirkan dulu tentang bayaran.

Jalan gang kecil dan pedesaan kami susuri dengan berharap akan lebih cepat tanpa harus bertemu kemacetan dan rute yang panjang. Mengingat posisi sekarang masih berada di sekitar kampus UGM.

Berpegang dari instruksi chat whatsapp teman yang memberi job, akhirnya jalan disusuri dengan gesitnya.

Sampai juga di sebuah rumah besar dan bertingkat. Sebuah rumah mewah yang dibangun di lingkungan pedesaan yang asri. Waktu sudah melebihi jadwal tapi sepertinya acara belum dimulai. Setelah melihat dari pintu luar yang terbuka lebar dan hanya terlihat seorang laki-laki paruh baya yang sedang menyiapkan tempat.

Datang dua orang yang menaiki sepeda motor berboncengan. Raut wajah penuh tanya ada di mimik wajah mereka. Ternyata mereka mencari alamat yang sama dengan alamat yang saya dan rekan saya cari. Nama pemilik dan ciri-ciri rumah memang sama. Sempat terbesit dalam benak apakah mereka juga fotografer yang dipanggil mengingat pekerjaan yang teman saya ambil adalah job lemparan. Karena fotografer sebelumnya sedang berhalangan.

Nyatanya setelah berbincang, mereka bukan seorang atau dua orang fotografer. Mereka adalah dua orang yang datang untuk memenuhi undangan pengajian yang beralamat sama dengan alamat yang saya dan rekan saya cari.

"Acara pengajian?" Saya dan rekan saya saling menatap dan tertawa. Bukan karena lucu tapi tertawa geleng-geleng karena bingung dengan perjanjian yang katanya acara wisudaan. Sedikit bingung juga selain karena salah acara, baju yang kita pakai pun "tidak sopan" untuk datang ke sebuah acara pengajian.

Rekan saya memakai kaos berjaket sedangkan saya memakai polo. Cukup sopan memang apa yang saya pakai tapi kami segera bergegas mencari masjid untuk berganti pakaian. Bukan untuk rekan saya, tapi untuk saya sendiri. Saya memang memakai polo tapi sebelum memakai polo saya memakai kaos hitam berlengan panjang bertuliskan "Death Fucking Vomit" di lengan kanan dan kirinya. Sebuah kaos band metal asli Yogyakarta yang saya miliki sewaktu SMA. Sudah lama saya tidak memakainya. Tapi berhubung ada pemotretan di siang bolong di bawah terik matahari dan sebelumnya berada di rumah, akhirnya saya memilihnya.

Kami pun masuk ke rumah dan acara belum dimulai karena para tamu undangan belum pada datang. Menyapa serta berkenalan dengan dua orang tadi dan pemilik rumah setelah sebelumnya berganti pakaian di WC kantor desa karena tidak menemukan masjid.

Nampak seorang laki-laki paruh baya berpeci yang sepertinya tidak asing dalam ingatan saya. Menyapa, bersalaman dan sedikit mengobrol dengan beliau. Sepertinya saya pernah melihat beliau tapi kapan dan dimananya saya tidak ingat.

Tamu udangan pun berombongan berdatangan dan acara dimulai. Saya dan rekan saya mengambil setiap momen yang ada. Termasuk memfoto laki-laki paruh baya berpeci yang akhirnya saya ketahui bahwa beliau adalah ustadz yang sering muncul di TV dangdut dan dikenal dengan nama ustadz Cinta.

Sebetulnya tidak seratus persen salah acara juga karena sejatinya sekarang adalah acara syukuran wisuda. Tapi ini membuat durasi menjadi lama ditambah acara seperti ini merupakan acara yang tidak pasti waktu mulai dan selesainya. Ditambah molornya dari waktu perjanjian. Secara profesional maka ini disebut penyewaan jasa fotografi "long time"—bukan "short time".

Namun pemotretan kali ini sungguh berkah banget. Bagaimana tidak? Lha wong sekalian mengaji. Ditambah lagi isinya tentang nasihat percintaan yang cocok banget untuk kaum jomblo seperti saya. Seperti yang dikatakan oleh pak ustadz Cinta yang juga saya yakini bahwa pertemuan ini bukan merupakan suatu kebetulan. Allah sudah mengaturnya.

Acara selesai dan uang kini sudah berada di kantong setelah sebelumnya dibagi berdua. Lumayan untuk mentraktir pacar dan jalan-jalan selain untuk ditabung. Oh iya, lupa... saya kan gak punya pacar. Yaudah ditabung dan buat makan sendiri saja.

Acara yang lain menunggu setelah sebelum pulang diminta nomornya karena dibutuhkan jasanya di acara selanjutnya.

Waktu sudah sangat sore dan perjalanan pulang diisi banyak perbincangan. Salah satunya membahas tentang rumah yang dibuat untuk pemotretan. Sebuah rumah yang dibangun dengan dana 3 Miliar yang saya dan rekan saya tahu setelah melihat artikel koran berpigura menempel di dinding salah satu tembok rumah.

"Pengen enggak punya rumah kayak gitu?"

"Enggak...." jawab saya simple. "Gak ada halamannya."

"Nanti kalau parkir ndak ngerusuhin tetangganya?" Kami berdua tertawa lepas.
Read More
      edit

Minggu, 04 Desember 2016

Published 20.24.00 by with 0 comment

Nasihat Ibu

Nasihat Ibu
Suap demi suap nasi mengisi perut menemani perbincangan dengan keluarga di malam yang tak berhujan. Di rumah memang seperti ini, ketika saya pulang ada saja pelbagai masakan dan makanan enak. Entah itu sengaja saya pesan sejak dari Jogja ataupun tidak. Maklum, ibu saya penjual nasi sayur di pinggir jalan dekat Taman Wisata Candi Borobudur. Tak terbayang badan ini akan menjadi seperti apa kalau berlama-lama berada di rumah. 

Piring kini bersih dari tumpukan hidangan. Walau porsi makan tak sebanyak laki-laki seumuran pada umumnya, tapi berbagai jenis masakan berada di atas piring. Bapak kini keluar, meninggalkan saya dan Ibu berdua di ruang keluarga. Mungkin Bapak ingin memberi makan bebek, atau mungkin juga hanya sekadar mencari udara segar.

"Dek, nanti kalau sudah lulus, pekerjaan di Kuningan tidak usah diambil saja." Ibu berkata dengan lembut. Saya memperhatikan sambil melahap cokelat sebagai makanan pencuci mulut ala-ala saya. Dulu saya pernah bilang ke Ibu dengan nada bercanda bahwa kami anak-anak magang disuruh sekalian membawa surat lamaran pekerjaan kalau mau kembali lagi ke perusahaan tempat saya dan teman-teman saya melakukan Kuliah Kerja Lapangan alias magang. Walaupun bercanda, pada kenyataannya pemimpin perusahaan memang pernah menawari hal itu.

Ibu takut kalau saya bekerja di Kuningan nanti saya bakal kecantol cewek sana yang memiliki gaya hidup dan pola hidup yang tidak disukai oleh ibu saya. Ibu memang tidak berniat menggenenalisir semua cewek di sana memiliki gaya hidup dan pola hidup yang sama. Tapi nasihat ibu bukan tanpa alasan. Karena Ibu sendiri lahir dan besar di dekat daerah Kuningan. Kemudian hidup di Magelang dan bertemu jodohnya orang Magelang, yaitu Bapak saya. 

Ini merupakan nasihat kedua yang saya ingat dari ibu tentang memilih wanita. Waktu itu entah SMP atau SMA ibu pernah bilang kalau mencari wanita itu yang berwajah manis daripada cantik. Karena wajah yang manis akan bertahan daripada cantiknya rupa dengan seiring berjalanannya waktu.

Saya dan keluarga memang sering berdiskusi dan berbincang santai tentang apa saja. Tapi untuk masalah cinta dan wanita, saya tak pernah bercerita. Hanya sekali saya bercerita kalau saya sedang suka dengan seorang wanita. Itu pun dengan kakak laki-laki saya sewaktu SMA.

Ibu dan Bapak memang selalu membebaskan anak-anaknya memilih apa saja yang mereka suka dan menjalaninya. Termasuk soal wanita. Walaupun membebaskan, tapi tentu saja kedua orang tua saya akan memberi masukan-masukan yang bisa diambil anak-anaknya. Sadari saja mereka pernah menjadi remaja sedangkan anak-anaknya belum pernah merasakan menjadi orang tua.

Jadi kalau ada orang yang bertanya wanita yang ideal buat saya seperti apa, tanya saja dengan ibu saya. Karena saya sendiri sampai sekarang belum menentukan secara spesifik wanita seperti apa yang akan saya perjuangkan. Paling akan saya jawab: berjenis kelamin wanita sejak lahir, seiman, dan sehat jasmani maupun rohani.

Ah... sebentar, sepertinya sudah ada.
Read More
      edit