Sebuah memori tentang perjalanan saya mendaki gunung Merbabu untuk pertama kali yang diabadikan dalam 57 detik. Dimana waktu itu saya dan rombongan mendaki gunung Merbabu via Wekas menuju puncak Syarif.
Minggu, 30 Oktober 2016
Selasa, 25 Oktober 2016
Published 07.34.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| Diam |
Siang itu di
sebuah halaman rumah yang cukup luas dan aman terlihat dua bocah laki-laki
sedang berlari dan bermain bersama. Lima atau enam tahun usia mereka
sepertinya. Menikmati masa anak-anak yang penuh canda tawa. Tidak ada raut
sedih yang nampak di wajah mereka. Hanya ada senyum dan tawa menggantung di
bibir kedua bocah itu.
Dilihatnya
sebuah putung rokok tergeletak di tanah dari seorang serdadu yang baru saja
membuangnya. Sebatang rokok yang sebelumnya menemani sang serdadu duduk
menunggu seorang penjahit menyelesaikan pesanannya.
Sebuah
bangunan dari kayu dan bambu yang cukup tua itu menjadi ladang untuk
mencari rejeki bagi penjahit yang sudah tak muda lagi. Ditemani kursi panjang
dari kayu untuk duduk pelanggan, si penjahit sudah bisa membuka lapaknya di
kesehariannya.
Bangunan tua
si pejahit dan rumah yang memiliki halaman cukup luas untuk bermain dua bocah
tadi terletak bersisian.
“Eh,
rokok-rokok!” dengan penuh kegirangan salah satu bocah itu berkata kepada bocah
lainnya. Rasa penasaran pun muncul dalam benak mereka berdua. Diambilnya putung
rokok itu dan perlahan-lahan mendekat ke bibir yang masih perjaka.
“Manis!
Enak-enak!” teriak salah satu bocah.
“Sini-sini,
aku juga pengen coba.”
“Nih!” bocah
itu memberikan rokok yg dianggap sudah menjadi miliknya ke bocah satunya.
Sebatang rokok itu kini dinikmati kedua mulut bocah itu. Bergilir dari satu
mulut ke mulut lainnya.
Sang serdadu
tertawa melihat pemandangan yang sedang dilihatnya. Dengan lucunya dia
memamerkan kepada si penjahit. Si penjahit tersenyum sekedar membalas
pernyataan dari sang serdadu. Tapi tetap diam menghiraukan. Kedua bocah itu
menghiraukan mereka para orang tua yang sedang tertawa, sang serdadu dan si
penjahit. Walaupun masih nampak rasa malu-malu dalam raut wajah kedua bocah
itu.
Jumat, 21 Oktober 2016
Published 23.48.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| Parkour |
Oke, emang apa sih parkour?
Parkour adalah seni gerak tubuh untuk berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Ibaratnya nih, kalo pencak silat itu seni bela diri. Nah! Kalo parkour itu seni melarikan diri. Hehe..
Pertama kali saya mengenal parkour itu waktu SMA. Tapi kalo soal pecicilannya sih, sebelum SMA juga udah begitu. Tapi, entah kenapa saya sekarang jadi pribadi yang anteng. Serius deh.
Dari SMA juga akhirnya ketemu temen-temen yang punya hobi sama. Orang-orang yang sadar bahwa lari dan melompat itu sungguh menyenangkan. Merasakan nikmatnya menemui daratan setelah lama terbang (dibaca: melompat), seolah waktu berhenti sejenak seperti di film-film, merasakan nikmatnya rambut berkibas tertiup angin, menyentuh telinga dan ada rasa geli-geli, eittss... SMA kan rambutnya selalu cepak! Oke, lupakan.
Dari pertemanan SMA juga akhirnya mendirikan sebuah komunitas dan grup parkour Magelang. Yang buat sih sebenernya temen yang sekarang jadi model dan duta wisata Magelang gitu.
Awal latihan cuma berempat dan kemudian bertiga dimana semua anggotanya anak satu kelas. Tapi lama kelamaan ngebuat grup komunitas di facebook. Dimana facebook jaman segitu lagi booming-booming-nya. Akhirnya banyak anggota terkumpul. Ya, anggota di facebook doang, latihannya mah kagak.
Tapi pada tahun kedua SMA, saya dan temen-temen merekrut anak-anak kelas satu buat ikutan jamming. Dimana yang diajak juga mereka yang aktif di kepramukaan. Kok pramuka? Soalnya dulu saya ikut Dewan Kerja Ambalan. So, mereka-mereka yang anak kelas satu bisa gampang di rekrut. Tapi kita gak maksa kok. Yakin deh. Mereka pada ikut soalnya kagum aja melihat betapa kerennya saya yang jago maen parkour. He...
Bermula dari tahun kedua itupun akhirnya sering latihan. Entah itu di komplek wisata candi Borobudur, sekolah sudah pasti dan terkadang ngambil matras sekolah buat latihan. Kemudian alun-alun Magelang, beberapa tempat tak bernama dan yang paling sering diagendakan adalah Minggu pagi di Rindam Magelang.
Sudah pasti di Rindam banyak obstacle-obstacle yang beragam karena lokasi itu adalah tempat untuk latihan para tentara yang dibuka untuk umum. Sering aktif di kota Magelang itulah akhirnya punya banyak kenalan temen anak Purworejo, Temanggung dan sekitarnya yang sama-sama hobi maen parkour.
![]() |
| Bersama kenalan mentor dari Temanggung/Purworejo. Lupa bosku. |
![]() |
| Jatuh dari atas tak seenak ketika kita jatuh cinta. Yakin. |
![]() |
| Jago kan saya? Ngalem diri sendiri tak apa kan ya. |
Parkour di tempat saya gak sepopuler kota-kota besar. Walaupun sampe sekarang juga banyak yang gak kenal apa itu parkour sih, masuk televisi aja juga tahun berapa. Tapi saya dan temen-temen punya keinginan ikut Jamnas (Jamming Nasional) yang diikuti oleh beberapa wilayah di Indonesia dan terkadang ada pembicara dari luar negeri.
Karena dulu masih sekolah dengan kendala waktu dan uang yang sempit beberapa tahun di sekolah pun gak kesampean ikut.
Resiko maen parkour itu juga sangat tinggi. Itu juga gak lepas dari apa yang saya alami. Lengan terkilir, jari kena, tulang-tulang di badan nyeri dan apalah-apalah lainnya pernah saya alami.
Waktu berlalu yang sering latihan cuma bertiga yaitu saya dan temen yang pertama kali saya temui bermaen parkour. Dimana kesibukan kita memiliki kemiripan: sekolah, parkour, pramuka dan pencak silat.
Tahun ketiga saya sudah gak aktif bermain parkour, bahkan sampe sekarang. Karena punya kesibukan yang lain, tapi terkadang sempet juga melihat temen-temen pada latihan dengan beberapa temen baru yang ternyata udah jago-jago.
Sempet juga di pensi tahun ketiga di sekolah saya mereka menunjukan kebolehannya. Otomatis saya tidak ada, jarang latihan cuy, resiko tinggi. Waktu itu cuma manggung ngeband ajasih. Itupun rasa greget yang menggairahkan saat maen band juga udah gak sebesar waktu SMP.
Beberapa temen juga sampai sekarang masih aktif bermain parkour dan akhirnya ada yang ikut jamnas.
So, pakour emang suatu olahraga yang bisa kamu lakuin jika ingin menjadi sosok seperti judul yang saya tulis. Satu saran buat kamu yaitu, hati-hati.
Itulah beberapa rekaman foto, video dan juga kenangan yang pernah saya alami dengan dunia parkour. Maafkan kalo foto dan videonya gak jernih dan gak jelas. Itu juga ngerekamnya udah pake Hape terbagus pada jamannya lho. Dimana masih jamannya Hape symbian.
Itulah hasil yang bisa diambil oleh Hape Nokia E-71, berkasing hitam dan terbuat dari alumunium. Sangat mudah dan dingin saat memegangnya. Minat PM! Serius.., tuh hapenya ada di kardus dah lama gak kepake. Hehe.
Salam
Kamis, 20 Oktober 2016
Published 08.13.00 by Sukma Kurniawan with 0 comment
![]() |
| Saya dan Teman-Teman |
Kirab bakpia sendiri adalah acara tahunan yang sering diselenggarakan di kelurahan Ngampilan, Yogyakarta. Dimana disana adalah sentra kuliner bakpia. Yang sering kita kenal dengan nama Bakpia Pathuk.
Menurut KBBI, Kirab adalah perjalanan bersama-sama atau beriring-iring secara teratur dan berurutan dari muka ke belakang dalam suatu rangkaian upacara (adat, keagamaan, dan lain sebagainya). So, kirab bakpia adalah rangkaian upacara atau pawai yang membawa gunungan bakpia sebagai intinya.
Kirab bakpia sendiri merupakan bentuk syukur atas kelimpahan rezeki yang diterima oleh pengusaha bakpia Ngampilan pada khususnya dan warga Ngampilan pada umumnya. Selain itu, merupakan bentuk ungkapan berbagi, bersuka cita dan memohon kepada Tuhan untuk kehidupan yang lebih baik.
![]() |
| Kirab Bakpia |
Acara ini bisa saya ikutin tak lepas dari koneksi pertemanan yang dibangun saat KKN (Kuliah Kerja Nyata). Walaupun acara KKN sudah berakhir tapi kami para mahasiswa KKN dan pemuda di tempat KKN masih berhubungan baik. Dimana tempat KKN saya dulu di salah satu RW di Ngampilan, Yogyakarta.
Berbekal dari informasi dari Pak RW dan para pemuda akhirnya saya dan beberapa teman mahasiswa KKN ikut ke lokasi dan meramaikannya. Berbekal kepedean juga kamipun mengikuti rombongan. Walaupun tidak dari titik start karena telat. Dengan sedikit berlari-lari dan menembus jalan pintas akhirnya bisa menyusul ke rombongan RW tempat saya KKN dulu.
Acaranya sangat seru dan menyenangkan. Kami mendapat respon yang sangat positif dari warga. Dengan ramah tamah khas orang Jogja mereka menyambut kami dengan senyum di wajah mereka.
Saya dan temen-temen mendapat kesempatan memegang kenthongan yang awalnya dibawa anak-anak. Gak usah ditanya iramanya bagaimana. Ancuuuuur!!! Hahahaha.
Acara ini saya ikuti mendadak dan tanpa persiapan, tiba-tiba saja diberi alat sebagai tanda alarm dari bambu itu. Dimana juga bisa menjadi sebuah alat musik. Gak kebayang deh iramanya bagaimana. Semuanya belum nyatu. Untungnya saja mereka (warga) fine fine aja.
![]() |
| Merem |
Sebenarnya, ada beberapa temen juga yang dateng ke lokasi tapi tidak ikut pawai. Mereka hanya sekedar menonton dan mendokumentasikan acara. Tapi, overall jempol untuk mereka dan acaranya.
![]() |
| Dua jempol deh :D |
Langganan:
Postingan (Atom)









