Selasa, 20 Februari 2018

Published 22.19.00 by with 0 comment

Tantangan Menutup Media Sosial

Tantangan Menutup Media Sosial
Hidup itu memang penuh tantangan dan dengan tantangan hidup menjadi lebih menyenangkan. Menjadi lebih berwarna dan tidak monoton. Seperti apa yang ada dalam slogan sebuah makanan ringan: “life is never flat”. Hidup memang tidak pernah datar karena hidup itu penuh dengan cobaan dan masalah. Karena dengan masalah manusia akan ditingkatkan derajatnya. Karena dengan masalah manusia itu hidup.

Masalah dan tantangan bisa datang dari dua sisi yaitu dari luar dan dari dalam diri pribadi manusia. Tantangan datang dari diri manusia secara pribadi muncul berdasarkan banyak latar belakang. Salah satunya adalah karena ingin keluar dari zona nyaman. Sifat tantangan pun bisa bersifat positif ataupun negatif. Bisa pula dalam skala besar atau kecil.

Sejarah telah mencatat bahwa banyak manusia yang menantang diri mereka sendiri untuk menguji seberapa tinggi kemampuan manusia. Menyeberangi gedung WTC dengan seutas tali tanpa pengaman, menaklukan puncak Everest, perjalanan berpuluh-puluh ribu mil melalui jalur darat, melakukan penelitian untuk kemajuan peradaban, menjadi jurnalis disuatu negara yang penuh dengan konflik, mereka adalah beberapa manusia yang tercatat dalam sejarah mampu untuk menjawab tantangan dan meraih mimpinya.

Saya pun begitu, saya juga punya mimpi dan tantangan yang ingin saya jawab dan wujudkan. Ada salah satu tantangan yang bisa saya bagikan kepada anda. Tantangan ini tidak bersifat besar dan “waah” seperti apa yang telah saya sebutkan sebelumnya. Tapi manusia “jaman now” tidak mudah untuk meninggalkannya. Salah satu tantangan itu adalah selama satu bulan saya tidak menggunakan media sosial. Dalam kasus ini adalah media sosial Instagram.

Kenapa Instagram? Karena Instagram adalah media sosial yang sering saya gunakan dalam setiap harinya. Entah itu untuk mendapatkan informasi atau “sekedar” melepas kepenatan dikala menunggu atau bosan. Tantangan ini bermula ketika saya merasa resah dengan apa yang disuguhkan di media sosial Instagram. Yang sebenarnya tantangan ini merupakasan hasil muhasabah, instropeksi diri, merenung, memikirkan apa yang telah selama ini saya lakukan.

Di dalam media sosial banyak sekali konten yang bersifat positif dan negatif. Begitupun tujuan dan cara penggunaannya. Media sosial dapat digunakan untuk hal yang bersifat positif seperti tempat berbagi inspirasi dan kreasi begitupun tempat untuk berbisnis atau sebaliknya menjadi tempat berita hoax, penebar kebencian dan lain sebagainya.

Tidak mudah untuk meninggalkan media sosial di era serba internet. Terlebih Instagram adalah media sosial nomor dua terbanyak penggunanya setelah Facebook menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016 lalu. Walaupun selama tahun 2017 saya melihat bahwa orang-orang di lingkungan pertemanan saya paling banyak mengakses Instagram daripada media sosial lainnya. Terlebih banyak dari mereka yang sudah meninggalkan Twitter dan Facebook. Sehingga Instagram adalah media sosial yang paling populer untuk berbagi informasi dan kabar.

Ada banyak hal yang mengakibatkan seseorang tidak bisa jauh dan sulit meninggalkan media sosial Instagram. Beberapa diantaranya adalah manusia tersebut sudah mengalami kecanduan, Instagram sebagai tempat berbisnis dan meraih keuntungan, wadah untuk berkarya, tempat untuk meraih kepopuleran, media untuk menyebarkan misi tertentu, tempat untuk meraih informasi, tempat untuk bersosialisasi dengan masyarakat, membuka Instagram sudah menjadi kebiasaan, Instagram sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan sebagai tempat seseorang melihat kabar terbaru dari dia yang tersayang. Ehem.

Ada banyak alasan kenapa saya memutuskan untuk meninggalkan Instagram atau tidak menggunakannya dalam kurun waktu tertentu. Dua diantaranya  adalah banyaknya perdebatan tidak sehat yang tidak mencerminkan jati diri orang Indonesia dan banyak waktu yang terbuang sia-sia karenanya.

Sebelum saya memutuskan untuk berhenti dari Instagram selama satu bulan, beberapa kali saya juga mencoba untuk berhenti dalam kurun waktu yang lebih singkat. Namun selalu gagal. Bahkan dalam satu waktu bisa meng-install aplikasi Instagram setelah beberapa waktu yang singkat sebelumnya di-uninstall, dan itu saya lakukan beberapa kali. Akhirnya setelah melakukan  beberapa percobaan dan gagal, saya menemukan formula untuk bisa meninggalkan Instagram.

Yang pertama tentu saja memperbaiki niat dan tidak ada niat yang begitu indah kecuali berniat karena beribadah kepada Allah. Kemudian ada beberapa hal yang bisa dilakukan yaitu meng-uninstall aplikasi Instagram dan ‘Instagram Followers’. Instagram Followers merupakan sebuah aplikasi dimana kita bisa melihat siapa saja yang follow, unfollow, dan siapa saja orang yang nge-block akun kita. Ini sangat dianjurkan untuk di-uninstall karena terkadang kita kepo dengan aplikasi ini dan akhirnya menggunakan aplikasi Instagram lagi.

Namun, sebelum meng-uninstall aplikasi Instagram, saya mengubah keamanan akun menjadi private. Hal ini saya lakukan untuk jaga-jaga kalau saja ada teman yang mulai mem-follow akun Instagram milik saya tapi tidak segera saya followback. Padahal saya sedang melakukan tantangan. Selain itu juga memberikan kabar kepada teman-teman lewat Instagram story bahwa selama satu bulan kedepan saya sedang menjalankan tantangan dan tentu saja tidak bisa dihubungi lewat Instagram. Hal ini sebenarnya tidak ingin saya lakukan tapi berhubung ada beberapa teman yang biasa menghubungi saya lewat DM maka akhirnya saya putuskan untuk membuat Instagram story tersebut.

Adapun hal lain yang sebenarnya tidak penting namun pada akhirnya saya lakukan, yaitu merubah foto profil bertuliskan kata HIATUS berwarna putih dengan latar hitam dan bio yang bertulis: “Berhenti sejenak dari penatnya dunia sosial media. Belajar dan bersenang-senang di dunia nyata.”.

Tantangan ini dimulai tanggal 9 Januari 2018 dan hal ini sudah berlangsung melebihi target. Yang awalnya akan berhenti sampai tanggal 9 Februari 2018 tapi sampai sekarang tulisan ini di-publish saya masih enggan untuk menggunakan Instagram lagi. Setidaknya ini membuktikan bahwa manusia masih bisa hidup tanpa menggunakan Instagram. 

Berhenti menggunakan Instagram pada awalnya memang tidak mudah. Ada saja hal yang mengharuskan saya untuk membuka Instagram namun urung saya lakukan. Selain itu ada e-mail juga yang masuk berkatian dengan Instagram dari seseorang yang belum saya kenal. Kalau dari namanya dia bukan orang Indonesia. Selain itu cara berkomunikasinya dengan menggunakan bahasa Inggris. Menghubungi saya perihal konten yang ada di akun Instagram saya namun sampai sekarang belum juga saya balas. Bukan karena sombong tapi inilah tekad saya untuk berhenti dari Instagram.

Selain itu kenapa saya tidak mudah untuk meninggalkan Instagram karena saya memiliki beberapa akun lain di Instagram selain akun pribadi. Tapi tak apalah lagian akun lain juga belum kuat pondasinya. Tapi yang pasti akun-akun tersebut bukan akun bodong penebar berita hoax.

Sebelum Instagram menjadi candu untuk saya memang langkah yang tepat adalah mencegahnya. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Seperti kasus dua orang anak yang masuk rumah sakit jiwa karena kecanduan handphone dan internet.

Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam membuat kehidupan yang lebih baik. Dan hal ini adalah sebuah langkah kecil yang bermanfaat untuk diri saya pribadi. Saya tidak mengkampanyekan kepada orang-orang untuk berhenti menggunakan media sosial. Karena di media sosial sendiri juga banyak sekali hal positif dan kita bisa menjadi bagian darinya. Namun, untuk sekarang jalan ninja yang saya pilih adalah berhenti sejenak darinya.  Meluangkan waktu untuk bersosialisasi dan menjadi bermanfaat di dunia nyata.

Jadi pembaca yang budiman dan budiwoman apakah kamu tertantang untuk menantang dirimu sendiri? Melaksanakan lima kali shalat fardhu di masjid tanpa tertinggal takbiratul ihram dari Imam selama 40 hari bertutut-turut atau menanam pohon setiap minggunya mungkin. Terserah, apa saja. Yang pasti itu baik dan tidak merugikan makhluk dan alam.
Read More
      edit

Kamis, 15 Februari 2018

Published 08.29.00 by with 0 comment

Mimpi Saya Menjadi Seorang Santri

Mimpi Saya Menjadi Seorang Santri
Waktu itu usia saya sekitar 13 tahun baru saja lulus dari sekolah dasar. Dalam hati terbesit untuk melanjutkan sekolah ke pondok pesantren. Bukan sekolah formal di SMP negeri. Hal itu pun saya ajukan kepada kedua orang tua. Namun restu tidak saya dapatkan dan akhirnya terjerumus masuk ke dalam sekolah terfavorit  di kabupaten. Dimana butuh waktu sekitar 30 menit untuk bisa sampai ke sekolah tersebut dengan menggunakan bus. Itulah pertama kalinya saya ingin menjadi seorang santri. Bukan karena ingin merayakan hari santri tapi memang berasal dari hati.

Dua belas tahun berlalu akhirnya mimpi itu bisa terwujudkan. Saya Sukma Kurniawan yang sekarang masih duduk di bangku kuliah semester 12 prodi Matematika Universitas Negeri Yogyakarta akhirnya bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa menjadi seorang santri. Memori masa lalu yang agak kabur itu terulang. Dimana saya dengan polosnya meminta untuk bisa melanjutkan ke pondokan. Entah apa yang akan terjadi jika waktu itu sudah bisa menjadi seorang santri. Mungkin bisa lebih terjaga dari segala maksiat dan keburukan karena pergaulan yang mendukung. Atau akan menjadi seperti apa, saya tak tahu. Tapi tak perlulah untuk berandai-andai.

Ketika mendaftarkan diri menjadi seorang santri tidak luput untuk saya beritahukan ke Ibu karena memang di keluarga kami terbuka untuk adanya diskusi. Terutama saya sendiri sudah menjadi seorang mahasiswa. Antara orang tua dan anak bisa mengobrol dengan santai. Sedangkan kepada Bapak tidak karena Bapak sudah meninggal tepat satu tahun yang lalu di bulan Januari. Bulan yang sama ketika saya mendaftarkan diri menjadi seorang santri. Semoga Bapak diterima di tempat terbaik di sisi Allah.

Kabar itu saya sampaikan melalui pesan singkat dan ibu saya pun merespon. Isi pesan singkatnya kurang lebih seperti ini, yang mana sudah saya ubah ke bahasa Indonesia: Jadi santri dimana? Jangan ikut aliran-aliran yang aneh-aneh. Begitulah jawaban pesan singkat ibu saya dan setelah saya jawab “di UNY”, Ibu saya pun meng-iyakan tanda setuju dan berpesan untuk tidak meninggalkan tanggung jawab di perkuliahan yang tinggal menempuh skripsi.

Kedua orang tua saya melarang saya waktu itu menjadi santri mungkin punya alasan tertentu. Tapi yang pasti bukan karena dilarang untuk belajar agama. Buktinya ketika duduk di bangku TK dan SD saya diikutkan di dua tempat ngaji yang berbeda. Saya tidak dilarang untuk belajar agama di sekolah. Saya tidak dilarang ketika mengikuti kajian di masjid di dekat rumah. Saya pun juga tidak dilarang ketika mengikuti kajian di suatu tempat yang butuh waktu tempuh perjalanan berjam-jam.

Saya memang bukan menjadi santri disuatu pondok pesantren. Namun menjadi santri di sebuah lembaga yaitu Lembaga Pendidikan Islam Muhajidin (LPIM) UNY. Yaitu sebuah lembaga yang berada di masjid Muhajidin. Masjidnya kampus UNY. Walaupun demikian, tidak membuat saya lepas dari rasa bahagia. Ada empat kelas yang bisa diikuti dengan biaya pendaftaran yang beragam. Kelas pertama adalah kelas bahasa Arab untuk mengenalkan kosakata, percakapan dan kaidah bahasa Arab. Kitab yang digunakan adalah Durusu Lughah.

Kelas kedua adalah Tahsinul Qur’an untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an dengan metode yang digunakan adalah qiro’ati. Kelas ketiga adalah kelas Hifdzil Quran yaitu kelas untuk para penghafal Al-Qur’an dengan target yang dihafal adalah surat Ar-Rahman, Al-Waqi’ah, juz 28,29 dan 30. Kemudian kelas yang terakhir adalah Madrasah Tulabiyah yaitu pendalaman kajian keislaman. Pada kelas Madrasah Tulabiyah sendiri masih dibagi menjadi tiga kelas yaitu MT1, MT2 dan MT3. MT1 berisi tentang ilmu Al-Quran dan ilmu Hadits. MT2 berisi qa’idah fiqh dan strategi dakwah sedangkan MT3 berisi tentang fiqh dakwah/ budaya ilmu. Setiap santri bebas memilih kelas yang ingin diikuti. Bisa satu kelas atau lebih.

Alhamdulillah segala prosesnya dimudahkan termasuk biaya pendaftaran karena sebelumnya tak saya sangka bisa mendapat pemasukan dari pekerjaan yang Alhamdulillah sangat membantu. Begitupun dengan kemudahan-kemudan lain yang tak pernah saya bayangkan. Juga lika-liku dan pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang tak pernah saya duga. Mungkin lain kali bisa saya ceritakan. Semoga saya bisa istiqomah. Aamiin.
Read More
      edit

Selasa, 16 Januari 2018

Published 04.03.00 by with 0 comment

[Board Game Kesehatan] Melatih Bapak-Ibu Pegawai Puskesmas

Photo via  puskesmasbantulkab.go.id
Memasuki minggu ketiga yaitu minggu terakhir batas waktu penyerahan board game saya mendapat kabar bahwa akan diadakan sebuah pelatihan tentang board game yang kami buat. Dengan judul “Pelatihan Pengembangan Media Promosi Kesehatan Melalui Board Game”. Jadi kami dari pihak tim produksi mendapat tugas baru yaitu menjadi pelatih para peserta yang diundang oleh pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul selama tiga hari berturut-turut.

Peserta merupakan perwakilan dari 27 Puskesmas yang berada di Kabupaten Bantul. Setiap Puskesmas diwakili oleh dua orang peserta. Meliputi laki-laki dan perempuan serta dari berbagai tingkatan usia. Tujuan dari pelatihan adalah diharapkan nantinya perwakilan tersebut dapat mensosialisasikan dan mengembangkan media promosi kesehatan di Puskesmas masing-masing.

Acara dibuka oleh perwakilan Dinas Kesehatan kabupaten Bantul kemudian diisi oleh tim dari DAKON. Selama tiga hari berturut-turut pihak DAKON bertugas menjadi pemateri dan pelatih. Dimana pemateri memiliki tugas untuk memberikan wawasan yang berkaitan dengan board game secara umum di depan semua peserta sedangkan tugas dari pelatih adalah memberikan wawasan tentang board game karya tim DAKON dan memberi pelatihan cara bermain kepada peserta yang telah dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Saya sendiri bertugas menjadi salah satu pelatih. Ini merupakan pengalaman pertama saya berbicara di muka umum berkaitan dengan pekerjaan. Dimana pesertanya notabene lebih dewasa daripada saya ditinjau dari usia.

Dalam padatnya revisi dan produksi yang tidak mengenal waktu saya menyempatkan untuk membaca materi dan mempelajari kembali cara bermain tiga board game yang kami buat. Karena itu membuat saya lebih siap dan merasa nyaman dan tentu saja itu adalah bentuk tanggung jawab serta profesionalitas. Walaupun sebelum pelatihan ada pengarahan-pengarahan singkat tentang cara bermain yang mungkin ada tambahan atau pengurangan dalam setiap materi board game.

Pada hari pertama kami di tim pelatih memberikan pelatihan tentang board game yang bernama “Diabetamon”. Dimana sebenarnya rencana awal hari pertama adalah board game “Germas Game” namun diganti karena ada sedikit masalah di bagian produksi. Kemudian pada hari kedua permainan yang dimainkan adalah dua board game sekaligus yaitu “Germas Game” dan “Ciberat”. Selanjutnya pada hari ketiga diisi dengan memainkan beberapa board game yang dimiliki DAKON.

Pada hari ketiga saya terpaksa tidak ikut karena mengurusi di bagian produksi yaitu penyortiran. Demi tercapainya target pemesanan dengan batas waktu yang sudah ditentukan. Jadi memasuki hari ketiga tepatnya lewat tengah malam komponen permainan yang tim buat baru selesai proses pemotongan. Kemudian dilanjutkan proses penyortiran komponen sesuai set yang sudah ditentukan. Yang mana jumlahnya ribuan. Memasuki waktu shubuh proses penyortiran kami hentikan untuk istirahat. Kemudian sekitar pukul delapan pagi kami melanjutkan kembali sampai menjelang sore hari akhirnya selesai. Hari dimana hampir 24 jam saya tidak tidur itulah hari ketiga pelatihan dan hari batas waktu penyerahan.

Itulah mengapa ada beberapa orang pada hari ketiga tidak ikut mengisi pelatihan. Di tim game designer yang terdiri dari sepuluh orang ada lima orang yang tidak ikut. Dua orang dari tim “Germas Game”, dua orang dari “Ciberat” dan satu orang dari “Diabetamon”.

Karena tidak mengikuti pelatihan maka saya dan empat rekan saya yang sibuk mengurusi di bagian produksi tidak mendapatkan royalty sebagai pelatih pada hari ketiga. Namun, Alhamdulillah-nya kami diberi “ganti rugi” oleh salah satu pemiliki DAKON dari hasil menjadi pemateri selama tiga hari berturut-turut. Yang mana jumlah jumlah royalty menjadi pemateri dan pelatih berbeda. Walaupun royalty menjadi pelatih tidak sebesar pemateri yang sampai jutaan namun kalau dikalikan tiga hari maka itu merupakan jumlah yang tidak sedikit. Dan tentu saja itu belum termasuk gaji utama menjadi game designer. Sungguh pengalaman yang berkesan dan bermanfaat sekali bagi anak kos seperti saya.

Baca juga:
1. [Board Game Kesehatan] Menjadi Bagian Tim DAKON Library X Dinkes Bantul
2. [Board Game Kesehatan] Serunya Proses Pembuatan Germas Game, Ciberat dan Diabetamon
3. [Board Game Kesehatan] Melatih Bapak-Ibu Pegawai Puskesmas

Read More
      edit

Kamis, 28 Desember 2017

Published 14.06.00 by with 0 comment

[Board Game Kesehatan] Serunya Proses Pembuatan Germas Game, Ciberat dan Diabetamon

Produk Board Game Kesehatan DAKON yaitu Diabetamon, CIBERAT dan Germas Game
Kalau sebelumnya saya sudah sedikit bercerita bagaimana saya bisa masuk di sebuah tim pembuatan board game, maka ijinkalah kali ini saya bercerita tentang serunya proses pembuatan. Namanya juga proses pembuatan sebuah permainan, maka isinya tentu saja banyak bermain. Tapi bedanya bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Yang nanti bisa ditabung untuk modal menikah. Ah elah.

Kemarin saya sudah bercerita bahwa kami membuat tiga jenis permainan dari tiga tema yang berbeda dan setiap jenis permainan dibuat oleh satu tim atau kelompok. Jadi ada tiga kelompok. Kelompok  yang pertama membuat board game  dengan tema GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat). Kemudian kelompok kedua membuat board game dengan tema diabetes. Sedangkan yang terakhir membuat board game dengan tema PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat). Setiap kelompok terdiri dari empat orang. Tiga orang game designer dan satu orang illustrator. Saya sendiri tergabung di tim pertama.

Karena saya sendiri masih awam dengan industri board game  maka saya pun belajar tentang board game dan mencoba beberapa permainan di DAKON library. Semakin banyak permainan papan yang dipelajari maka semakin banyak pula wawasan untuk membangun permainan papan yang baru. Proses awal dalam pembuatan permainan papan adalah dengan melakukan observasi. Ada dua observasi yang harus dilakukan. Pertama adalah observasi tentang permainan papan. Sedangkan yang kedua adalah observasi tentang materi tema yang dibangun. Dalam konteks ini adalah tema kesehatan. Misalkan untuk tim saya maka mencari materi tentang GERMAS. Dalam mencocokan materi juga dibantu oleh pihak Dinas Kesehatan dan dokter.

Waktu Produktif di Kaliurang

Pertemuan di Kaliurang

Karena singkatnya waktu yang telah ditetapkan, maka tim membuat jadwal khusus yang nanti bisa lebih produktif yaitu bertempat di Kaliurang. Kaliurang merupakan tempat yang biasa dirujuk untuk kegiatan mahasiswa Jogja atau instansi lainnya. Sungguh hubungan yang sangat erat. Entah kenapa secara pribadi Kaliurang merupakan tempat yang selalu ingin saya singgahi. Suasananya seperti sudah memiliki kemistri tersendiri. Padahal seingat saya waktu kecil juga belum pernah kesana.

Selama dua hari satu malam semua tim berdiskusi untuk membangun permainan. Entah itu pagi, siang, sore ataupun malam. Karena sebelumnya setiap tim telah menyusun materi berupa permainan papan yang menginspirasi atau membangun dan apa saja dari tema kesehatan yang bisa dimasukan maka langkah selanjutnya adalah membuat dummy dengan kertas karton. Kemudian setiap tim mencoba untuk memaikannya. Sampai mendapatkan formula yang seimbang. Trial and error tidak perlu ditanya lagi seberapa banyak dan beberapa kali juga menemukan kebuntuan tapi akhirnya bisa diatasi.

Adapun sesi dimana setiap tim mempresentasikan hasil karyanya. Kemudian mendapatkan masukan lagi dari tim-tim lain dan juga mempresentasikan kepada mas Adnan selaku salah satu pemilik DAKON. Yang mana beliu sudah lama terjun di industri board game. Kemudian meracik lagi formula yang pas agar permainan bisa seimbang dan menyenangkan. Adapun juga rencana-rencana cadangan lainnya. Sepertinya memang kelihatan banyak lika-liku tapi karena proses itu dinikmati jadinya terasa menyenangkan. Apalagi kalau diniatkan sebagai ibadah. Maka itu adalah sebuah hal tidak hanya baik di dunia tapi juga di akhirat.

Sidang dengan Pihak Dinas Kesehatan

Sidang Pertama dengan Pihak Dinas Kesehatan Bantul
Karena proyek ini berhubungan dengan dinas kesehatan Bantul maka tentu saja ada sesi presentasi kepada instansi tersebut. Setidaknya ada dua kali pertemuan dimana setiap pertemuan selalu ada revisi. Entah itu penambahan cara bermain atau substansi materi yang ada di dalam permainan. Agar sesusai dengan tema dan kondisi geografis kabupaten Bantul.

Pada pertemuan pertama kami masih menggunakan dummy sedangkan pertemuan kedua sudah menggunakan desain yang dibuat oleh illustrator  masing-masing kelompok. Ilustrasi gambar pun tak lepas dari revisi. 

Begitupun dengan nama dari masing-masing produk. Namun pada akhirnya nama pun sampai ke titik final. Yaitu GERMAS GAME untuk tema GERMAS, kemudian DIABETAMON untuk tema diabetes dan yang terakhir bernama CIBERAT (Cinta Bersih dan Sehat) dari tema PHBS.

Padatnya Proses Produksi

Proses Produksi
Setelah melalui rangkaian perbaikan karena revisi maka langkah selanjutnya adalah proses produksi. Ada berbagai macam hal yang ada dalam tahap ini. Ada yang kami lakukan sendiri adapun yang bekerja sama dengan pihak lain. Dalam tahap ini tidak mengenal waktu. Sering kali melakukan lembur sampai larut atau bahkan sampai Shubuh kemudian waktu Dhuha dilanjutkan lagi. Karena memang waktu yang begitu sempit.

Beberapa hal yang dilakukan oleh pihak lain yang bekerja sama adalah produksi box serta penempelan cover  yang sudah dilaminasi. Kemudian juga ada produksi karakter yang terbuat dari akrilik dan juga pemesanan dadu serta token. Walaupun nanti pada tahap pengecetan token kami kerjakan sendiri.

Adapun yang berkaitan dengan percetakan komponen dan laminasi maka kami mencari percetakan yang murah dan berkualitas. Kalau pemotongan ada yang dikerjakan sendiri, memperkerjakan orang dan ada juga yang dipotong langsung di percetakan. Kemudian tahap akhirnya adalah sortir dan pengepakan kami lakukan sendiri.

Sungguh sangat seru bukan? Nantikan cerita seru lainnya yang masih akan berlanjut.

Baca juga:
Read More
      edit